Thursday, 9 September 2010

UNTUK SESUATU YANG HILANG

Pintu dari kayu triplek itu berderit ketika seorang klimis dan necis membukanya. Sebetulnya ia sudah hati-hati ketika membuka pintu kamar yang tidak pernah dikunci oleh penghuninya . tapi berderit juga. Di dalam kamar banyak kertas berserakan dan seorang lelaki kurus meringkuk kelelahan disebuah dipan butut.

Gilang memperhatikan wajah cekung dan lelah itu. Padahal ketika pertama gilang mengenalnya ,tidak memprihatinkan seperti ini. Lelaki kurus ini sedang menderita suatu penyakit. Tapi entah apa, karena jika gilang menanyakan ,lelaki itu tidak pernah membicarakannya. Tampaknya ia ingin menyimpan dan menelan penderitaannya sendiri. Betapa beragam persoalan memancar dari wajah kerasnya.

Gilang lalu memperhatikan saja kertas-kertas berserakan disebelah mesin tik. Sementara dibawah meja kulit-kulit kacang dimana-mana. Juga gelas kopi yang tinggal ampasnya tergeletak begitu saja diatas meja. Dia membuka jendela kamar lebar-lebar dan udara kamar terasa lebih segar sekarang.

Lelaki kurus itu masih saja meringkuk.

“masih tidur, jar?” gilang menyentuh pundak lelaki itu.

Kepala berambut gondrong dan kusut itu bergerak. Terangkat. Sepasang mata yang lelah kurang tidur terbuka menyipit. Lalu matanya diusap-usap dengan punggung jari-jarinya.

“Sudah pagi lagi rupanya, lang?” begitu selalu katanya sambil menguap. Dia bangkit dan meluruskan kedua kakinya.

Gilang selalu tersenyum mendengarnya.

“sudah jam sembilan.” Katanya, “kuliah, enggak? Gue lagi enggak ada kuliah nih!” gilang menuju jendela. Memandang keluar . matahari dimusim penghujan memang jarang sekali kelihatan. Wajar saja kalau banyak orang yang tambah lelap tidak memperdulikan waktu, batinnya.

“kalau elu enggak ada kuliah juga ,kita keluar kota yuk!” ajak gilang.

Fajar bangkit sempoyongan menyambar handuk yang menggantung disandaran kursi.

“gue mandi dulu.” Katanya sambil berharap semoga tidak perlu mengantri.

Ditempat kostnya ini cuma ada satu kamar mandi dengan sepuluh orang lelaki yang suka bangun seenaknya ,sehingga setiap jam sibuk pasti mereka teriak-teriak minta giliran lebih dulu. Nyatanya fajar memang harus antri. Dia berteriak dan menggedor pintu kamar mandi. Yang di dalam malah tertawa menyalahkan ,kenapa selalu bangun kesiangan.

Fajar menyender ditembok. Ya ,kenapa aku selalu bangun lebih siang dari yang lain, sehingga gilang suka ikut-ikutan kesiangan pergi ke kampus? Padahal gilang bisa saja dari rumah langsung ke kampus dengan mobil sedan mulusnya. Tapi gilang hampir setiap hari menjemput dan selalu sabar membangunkan atau menunggui fajar mandi.

Awalnya fajar bisa kenal dengan gilang secara kebetulan saja. Ketika usai kuliah sastra modern ,di pelataran parkir dia melihat kunci mobil. Dipungut dan diperiksanya isi dompet itu. Dia meneliti setiap nomor mobil yang diparkir. Dibanding-bandingkan dengan es te en ka di dalam dompet. Ketika matanya tertumbuk pada sebuah sedan warna biru malam ,dia tersenyum. Apalagi tidak jauh dari situ dia melihat sekelompok lelaki elit sedang memelototi setiap jengkal pelataran parkir. Mereka mencari-cari sesuatu sambil tertawa-tertwa. Fajar menonton saja dibawah pohon angsana sambil memperhatikan seseorang yang lebih serius dan menggerutu terus.

Ketika mereka mulai bosan mencari dan meninggalkan si serius yang malang ,fajar tersenyum-senyum menghampiri. Kunci mobil diputar-putarkannya.
Si serius melotot geram. “jadi lu udah sejak tadi nemuin kunci mobil gue?” katanya kesal.

“ya!”

“ah sialan lu!”

“Sekarang ,lu mesti jadi supir gue!” fajar tertawa menyebutkan sebuah kantor redaksi majalah. “hitung-hitung bonus buat gue yang nemuin kunci mobil lu!” katanya sambil melemparkan kunci mobil.

Si serius itu, gilang ,menangkap kunci mobil dan menatap dewa penolongnya dengan beragam perasaan. “kenapa baru elu kasiin sekarang, heh?!” hatinya rada jengkel juga ketika membuka pintu mobil, kerena tahu sejak tadi dewa penolongnya menonton dibawah pohon.

Fajar tertawa dan masuk ke dalam mobil. “gue cuma kepingin nonton ,bagaimana orang macam elu mempertanggungjawabkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya!” katanya ringan.

Gilang mengerutkan keningnya. Kalimat yang menusuk buatnya. “ini mobil babe. Gue dikasiih kepercayaan dan mesti mempertanggungjawabkan kepercayaan itu.” Belanya tidak enak.

“itu yang gue maksud! Babe lu ngasih lu mobil. Bisa enggak lu ngejaga dan ngerawat pemberian babe lu. Pasti babe lu ngeluarin keringat dan darah buat ngebeli mobil ini!”

Gilang melirik lelaki jantan bertampang seniman itu.

Fajar tersenyum memandang gedung-gedung bertingkat. Baginya .memiliki benda-benda mewah adalah diluar batas kesadarannya. Jangankan memiliki ,memimpikannya saja dia tidak sanggup. Sekarang saja ,dia hanya bisa hidup dengan mengandalkan honor-honor tulisannya. Dia memang mesti pandai mengatur dan mengekang keinginannya. Yang terpenting baginya adalah tidak menunggak uang kuliah dan sewa kamar.

“ngapain ke redaksi?” Tanya gilang ingin tahu.

“ngambil honor! Cerita gue dimuat lagi!”

Gilang kini tertawa. “elu tukang ngekhayal rupanya!”

“enggak selalu.” Fajar meringis.

Setelah dari redaksi, gilang mengajak fajar makan siang dirumah makan ala barat. Tapi fajar keberatan. Gilang terus memaksa dengan alasan merayakan perkenalan mereka.

“gue nggak biasa makan ditempat kayak gitu.” Sederhana sekali alasan fajar. “perut gue terbiasa dengan warung tegal!” fajar tertawa getir.

Gilang memperhatikannya, hatinya tersentuh juga ketika mendengar pengakuan dari sobat barunya tadi. Lantas dia jadi malu sendiri, karena baginya makan di rumah makan ala barat seperti keluar masuk rumah saja. Bukan lagi sekedar gengsi atau symbol status ,tapi sudah menjadi kebutuhan.

“gimana kalau gue yang ngebossin lu makan diwarteg?” fajar menawarkan sambil tersenyum lucu.

Makan diwaretg? Gilang menggigit bibirnya. Lalu terbayanglah sebuah tempat yang kotor, bau keringat dan lalat-lalat. Apalagi perutnya agak-agak sensitive. Buru-buru gilang menggeleng. “nggak deh.”

Fajar tersenyum lagi. “oke kita ambil jalan tengah saja. Elu makan ditempat yang lu suka dan gue juga makan ditempat yang gue suka.”

Gilang menggumam tidak percaya. Dia baru sekali ini ketemu orang yang kayak begini. Ketika gilang memarkir mobil, dia memperhatikan sobat barunya yang aneh. “elu serius ,jar?” tanyanya.

Fajar mengangguk pasti dan keluar dari mobil.

“gue makan disana!” fajar menunjuk warung-warung yang berjejer di pinggir jalan. Dia berlari manyebrangi jalan.

Gilang memandangnya terus. Dengan berat hati dia melangkah masuk ke rumah makan ala barat langganannya. Akhirnya mereka merayakan perkenalan mereka ditempat kesukaan mereka sendiri-sendiri. Ketika makan, gilang dan fajar sibuk dengan fikiran masih-masing.

Gilang mambayangkan wajah seorang lelaki yang menghadapi hidup dengan penuh perjuangan. Dunia lelaki itu berbeda denganku. Secara materi semua yang ada padanya bertolak belakang, batin gilang terus. Dan fajar tentu kebalikannya. Biarkan saja begitu. Manusia sudah ditakdirkan hidup pada porsinya masing-masing oleh tuhan.

Setelah makan, gilang mengantar fajar ke tempat kostnya. Malah gilang turun menyusuri lorong-lorong ketika fajar mengundang untuk mampir. Setelah berada di kamar berdinding triplek yang dipenuhi grafiti dan poster-poster grup band rock, gilang nyeletuk “kok nggak ada mesin tik atau computer?”

Fajar tertawa sambil membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Katanya sambil tersenyum,”semuanya gue tulis tangan!”

Hah?! Gilang betul-betul tidak percaya.

“benda yang elu sebut tadi sangat langka dipondokan ini. Kawan-kawan sekost pun, kalau perlu banget buat bikin laporan ,pasti locat sana-sini nebeng ngetik. Yang punya duit ya ke rental computer. Kepercayaan untuk zaman sekarang udah mahal harganya, guy!” fajar berfilsafat sedikit.

Gilang duduk dibibir jendela. Dia mendengarkan dengan serius.

“tapi, gue punya tulisan tangan yang bagus! Buktinya cerita-cerita gue selalu dimuat!” fajar tertawa keras.

Setelah pertemuan itu, mereka jadi sering bertemu ditempat parkir. Bahkan pada kesempatan lain, fajar menolong gilang ketika dikeroyok gara-gara perempuan. Tiga orang yang mengeroyok gilang ternyata dibuat keder oleh kepalan dan tendangan fajar.

“elu jago silat juga rupanya!” gilang mesti berhutang budi sekali lagi kepada seniman aneh ini. Di dalam hati gilang ,lelaki aneh ini semakin menyenangkan saja.

“elu mesti jadi supir gue lagi sekarang!” fajar tertawa. Gilang mengangguk senang.
Setelah itu mereka jadi semakin akrab ,tapi tetap tidak pernah bisa disatukan kalau soal kebiasaan. Mungkin dalam selera music rock saja mereka bisa akur. Kadangkala kalau lagi jenuh, mereka suka teriak-teriak di dalam mobil. Tapi ada yang membuat fajar suka bukan kepalang ,jika sewaktu-waktu gilang mengundang makan malam dirumahnya. Fajar antusias sekali . ia begitu menikmati suasana makan malam di meja makan. Apalagi jika seluruh keluarga gilang komplit hadir.

“gue iri ngeliat elu bahagia sama keluarga, lang.” begitu selalu kata fajar setelah makan malam.

Gilang cuma bisa merangkul bahunya.

Beberapa hari setelah itu ,gilang seperti biasa datang menjemput fajar. Kali ini gilang menjinjing mesin tik. Di rumahnya mesin tik hanyalah sebuah benda seperti benda-benda pelengkap lainnya, yang kadang dilirik pun tidak. Teronggok begitu saja digudang. Malah lebih berharga bonsai-bonsai di teras rumah atau barang-barang antik di ruang tamu. Computer memang sudah menjadi mainan seisi rumahnya.

Mulanya fajar menganggap uluran tangan gilang berlebihan. Tapi setelah difikir matang-matang ada baiknya juga. Bukankah dengan mesin tik itu ,persoalan kawan-kawan sekostnya jika mengetik laporan bisa terpecahkan? Apalagi kalau ada yang harus lembur bikin makalah, kan nggak perlu berantem sama penjaga rental computer yang udah ngantuk abis dan ngusirin mereka suruh pulang.

Hanya ada yang masih membuat penasaran gilang tentang fajar, sobat yang sudah setahun dikenalnya. Yaitu tentang kondisi tubuhnya yang saban hari menyusut terus dan latar belakang hidupnya. Siapa orang tua fajar? Dimana keluarganya? Jika saja gilang menyinggung masalah itu, si seniman aneh itu pasti akan memandang nya dengan tajam ,memperingatkan untuk tidak membicarkan hal yang satu itu. Gilang hari ini pun tampaknya masih penasaran. Dia masih akan menanyakan pada fajar, walaupun dengan resiko dipelototi.

Dari tadi gilang hanya duduk-duduk dibibir jendela ,melihat lorong-lorong yang sesak dengan rumah kumuh penduduk.

Fajar tidak pernah bercerita tentang pacar ataupun cewek sekalipun. Tidak seperti gilang, yang senag bercerita tentang pacar-pacarnya yang senangnya hura-hura melulu. Sebentar-sebentar minta diantar ke pesta si anu, ke situlah ,ke sinilah…. Atau menghabiskan malam minggu ditempat-tempat jajan dan bioskop mahal.

Fajar nongol. Rambutnya yang gondrong basah habis keramas. Dadanya telanjang. Tampak rada segaran.

“udah dari tadi lu ,lang?” dia lalu mengenakan jeans robek dan kaos oblong putihnya. “eh naskah ini gak di bacakan?” fajar memasukan tumpukan kertas diatas meja kedalam map.

“naskah ini pasti bakalan bikin surprise buat kita. Naskah ini mau gue ikutin sayembara. Kalau menang ,gue gak butuh lagi mesin tik elu, lang!” fajar tertawa.

“oh ,ya?!” gilang melompat dari duduknya. Dia membatin ,paling-paling cerita tragis lagi. Tentang kematian lagi. Setiap gilang membaca cerita-cerita fajar di majalah ,kebanyakan isinya tentang seseorang yang sedang menghadapi maut karena menderita penyakit ganas; kanker misalnya,atau tumor, jantung, bahkan leukemia!
Pagi itu gilang berencana mengajak fajar pergi ke puncak, ke villa orang tuanya. “sekalian buat cari inspirasi.” Bujuk gilang.

Tanpa berfikir panjang fajar langsung mengiyakan.

Dua manusia yang ditakdirkan lahir berbeda kutub itu sudah duduk-duduk di kap mobil. Mereka sedang mengunyah jagung bakar dikawasan puncak. Keindahan pohon-pohon teh yang hijau membuat paru-paru mereka lapang. Sesekali mereka berbincang tentang nasib si penjual jagung, yang sudah bertahun-tahun membakar jagung-jagung itu ,tapi tetap saja masih begitu. Betapa sederhana pola hidup si penjual jagung itu. Kalau saja dia dibekali ilmu ekonomi ,mungkin sekarang sudah tidak perlu kedinginan membakar jagung-jagung jualannya di pinggir jalan, begitu pikir mereka.

“gue mau cerita banyak sama elu ,lang.” fajar membuang batang jagungnya. “elu dengerin ya! Mungkin nggak akan pernah gue ulangi lagi cerita ini.” Fajar serius sekali bicaranya.

Gilang memperhatikan raut muka fajar.

“kamu….,” kini fajar tidak bergue-gue lagi.

Bicaranya mulai teratur. “kamu belum tahu banyak tentang saya ya ,lang?”

Gilang mengangguk, “kamu yang melarang saya untuk tahu.” Gilang mengingatkan.

Fajar meringis. “kamu siap mendengarkan sekarang, lang?”

Gilang mengangguk.

“oke ,inilah cerita saya ,lang….”

Nama saya fajar, tapi tidak pernah bisa menikmati menyembulnya fajar ,yang kata orang sangat indah. Kadangkala saya benci dengan orang yang memberi nama ‘fajar’. Saya tidak tahu entah siapa yang memberi nama itu. Yang saya tahu hanya, bayi mungil itu tergeletak di depan rumah yatim piatu disaat fajar menyembul. Lantas para pengurus panti sepakat memberi nama bayi itu ‘fajar’. Mereka punya keinginan ,bahwa suatu hari nanti bayi itu bisa merubah dunia. Memberi cahaya terang pada orang-orang. Padahal bayi mungil itu orang kebanyakan juga.

Saya benci dengan nama fajar. Seharusnya nama itu diberiakan pada bayi-bayi mungil yang punya orang tua kompllit dan bahagia. Bukankah fajar adalah pertanda dimulainya hari lain? Denyut lain?

Tapi saya…. Fajar? Lelaki yang suka bersembunyi di kegelapan dan bangun kesiangan, hanya karena semalaman kurang tidur setelah membuat cerita-cerita?! Saya lebih cocok sebagai penyebar kegelapan dan selalu marah pada sekeliling. Marah terhadap wajah-wajah bertopeng.

Lantas ,siapa orang tua saya?! Berkali-kali saya tanyakan pada pengurus panti, tapi mereka hanya bercerita tentang bayi mungil di saat fajar itu! Sepasang manusia yang sedang dimabuk asmarakah? Yang belum sanggup mengurus bayi,sehingga bayi mungil itu mereka letakkan di muka pintu panti asuhan?

Saya capek hidup. Capek memikirkan semua itu. Saya tidak tahu untuk siapa menjalani hidup ini. Saya tidak punya kebanggaan dan tidak ada yang membangga-banggakan. Seharusnya, mungkin ,saya tidak kabur dari panti asuhan dulu. Seharusnya saya diam saja sampai mati disana. Berkumpul dengan kawan-kawan senasib ,yang setiap malam selalu bermimpi punya segala yang diidamkan. Keluarga yang bahagia, harta melimpah ,juga kehormatan. Atau diadopsi oleh pasangan kaya-raya.

Pernah mimpi menjadi orang seperti saya? Oh, lebih baik jangan . lebih baik tidak pernah bermimpi ketika tidur. Lebih baik tidur nyenyak saja dan bangun disaat fajar menyembul.

Besok saya mau mencoba bangun lebih pagi, agar bisa menikmati menyembulnya fajar. Kalau begitu sebaiknya nanti malam saya tidak mengetik cerita. Saya akan lebih cepat tidur. Ya,saya ingin merasakan tidur nyenyak tanpa ditemani mimpi . ya,saya ingin tidur nyenyak,agar besok bisa bangun lebih pagi dan menikmati fajar.



Gilang sejak tadi duduk didipan yang sepreinya tidak pernah beres itu. Dinding triplek penuh grafiti itu kini seperti menghimpitnya.

Gilang berjalan ke jendela. Matanya masih merah . dia menangis tadi. Dia menengadah ke langit. Dia betu-betul tidak percaya kalau kemarin sore, di puncak ,adalah percakapannya yang terakhir dengan fajar. Kalau saja gilang lebih teliti kemarin sore, betapa sangat pucat wajah fajar ketika bercerita tentang hidupnya.

Fajar ternyata tidak pernah bisa menikmati fajar. Padahal pagi-pagi sekali gilang sengaja mengetuk pintu fajar, ingin membuktikan apakah betul fajar sudah menikmati fajar. Tapi ternyata fajar masih saja berbaring dikasur. Tidur nyenyak dan tidak pernah bisa bangun lagi.

Kini dimata gilang, langit seperti berwarna hitam.

Fajar baru beberapa saat dikebumikan. Tanpa iringan sanak saudara. Hanya gilang dan teman-temannya. Walau begitu semua merasa langit sedang runtuh dan menghimpit.

Menurut diagnose dokter, fajar terlalu banyak menelan penderitaan batinnya sendiri, sehingga kanker menggerogoti! Gilang juga tidak habis mengerti bagaimana fajar bisa bertahan sekian tahun melawan penderitaan kankernya! Gilang bisa maklum kalau fajar tidak pernah menceritakan pada siapapun tentang sakitnya, karena takut merepotkan. Untuk berobat sendiri tentu akan kewalahan, karena ongkosnya bisa mencekik.

Kenapa kalau ingin tidur nyenyak saja mesti dengan cara menderita seperti itu ,fajar? Gilang mengusap matanya.

Setelah kematian fajar ,gilang mengambil beberapa naskah fajar yang belum jadi dan mesin tik ,juga beberapa buah buku sastra dan album foto. Lalu kamar suram berdinding triplek penuh grafiti itu mereka kubur dalam-dalam. Mereka bakar seluruh kenangan tentang kamar itu.

Tiba-tiba saja muncul keinginan gilang untuk menjadi seorang pengarang seperti fajar, setelah membaca seluruh naskah fajar yang belum jadi. Gilang ingin melanjutkan segala kemarahan dan kejengkelan fajar terhadap sekelilingnya dengan kata-kata,dengan kalimat. Tapi satu cerita pun tidak pernah bisa gilang selesaikan karena dia tidak punya kemarahan dan kejengkelan yang di punyai fajar. Setiap gilang memulai dengan halaman pertama, wajah fajar selalu melintas dan menyuruhnya untuk berhenti melanjutkan cerita-ceritanya.

Di hari lain ,ketika dia sedang duduk merenung di teras, ada pak pos. kini ditangan gilang ada sebuah surat panggilan dari sebuah majalah ternama. Gilang tahu persis apa isi surat itu. Buru-buru dirobeknya sampul surat . dibacanya. Seluruh tubuhnya bergetar.

Gilang menangis.

Ternyata fajar memenangkan sayembara mengarang. Dia mendapatkan sebuah computer.

Saturday, 21 August 2010

aku kembali menulis

Kembali menulis

Trieas maya ade putri, siswi kelas X smk negeri 48 jakarta. Disini aku akan memulai ceritaku, hah memories of FLM aku menyebutnya 24 february 2010. Aku akan memulai cerita ini sedikit flashback beberapa bulan yang lalu. Dulu aku punya teman sepermainan ,sebut aja Fanni kita sama-sama suka sama cowok yang sama (yah si memories of FLM ini) fanni sempet jadian sama fahmi, fanni selalu cerita apapun yang dia rasa ke gue dia cerita kalo dia lagi kangen sama fahmi ,kalo dia lagi sedih, kalo dia lagi kesel ,kalo fahmi nyebelin ,dia selalu cerita ,bayangin kawan seperti apa kalian kalo jadi gue?? (bete banget pastinya kan?) tapi yah yang namanya sama temen sendiri apasi yang enggak..
Sedikit flashback lagi ,dulu gue sempet bilang ke fanni kalo gue sayang sama fahmi gue suka sama dia .eh olalah pie tho mereka malah jadian, tapi gapapa yang penting gue kenal sama fanni dan gue juga kenal sama fahmi seenggaknya gue ikut seneng lah, sampe akhirnya mereka ada konflik sama keluarganya fanni sampe yah bisa dibilang perang akhirnya mereka putus. Gue gak tau seharusnya gue sedih temen gue susah eh ini malah seneng jahat sih emang ,tapi saat itu yah itulah adanya gue seneng banget mereka putus. gue coba buat sedikit caper-caper gitu ama dia gak mempan bos :PP semua sama aja, uda berkisar beberapa bulan mereka putus fanni bilang ke gue dia masih berharap bisa sama-sama fahmi lagi dia mau ngajak fahmi balikan .oh no!
Kagetlah coy dengernya, dalem ati yang uda bilang “YA ALLAH JANGAN DONGDONGDONG HEHE LEBEH” mulai was-was gitu gue.
Eh ,gak lama foto buku tahunan tau gak si bro foto buku tahunan kelas gue dibantuin sama dia sama temennya “MAMAAAAAH TIDAAAK!” gue berusaha buat yang sebiasa mungkin waktu itu sebiasa mungkin 
Sempet seneng dia bantuin buat foto buku tahunan ,diem diem rasa ini makin pasti gue berusaha nyangkal tapi gak bisa. Akhirnya gue minta nomer dia ke sahabat gue namanya Terry alhasil gue sms dia pas tanggal 24 February 2010 ya basa basi gitu haha *dongdongdong* awalnya gue takut bin ragu ya ALLAH tapi gue coba dengan isi sms begini kurang lebih ; “kak saya gak tau setelah ini kk bakal bersikap seperti apa sama saya tapi saya capek uda terlalu lama ngalah sama keadaan saya gak tau ,saya gak ngerti kenapa tapi ini yang saya rasain saya sayang sama kk saya gak berharap apa-apa saya juga gak terlalu berharap bisa sama-sama kk. Saya Cuma mau sampein apa yang selama ini saya rasa apa yang selama ini saya tutup-tutupin juga dari fanni. Saya bener-bener gak enak maaf ya kak”
Dan apa kalian tau dia bales apa?? Hehe ,awalnya dia bales “kk makasih banget dek kamu uda suka sama kk, kamu uda sayang sama kk tapi maaf dek kk uda gak bisa lagi buat pacaran sama yang seumuran kamu ,ini aturan hidup kk ini aturan bpknya kk,ini bukan maunya kk dek”
Gilaaaaaaaa,disitu juga gue nangis, ironis banget sih gue.
Gue bales gini “gapa kok kk ,saya kan bilang tadi saya gak maksain perasaan kk juga saya ngerti saya gpp kok”
Hari itu sumpah demi apapun gue lemes banget, yah alhasil hasil simulasi UN KE 2 gue parahnya naudzubillahiminzalik 
Beberapa setelah itu gue jadi mulai deket yah sekedar smsan telepon teleponan gitu haha gak tau kapan gimana ceritanya ,jadi kita bahas lagi masalah gue menyatakan sesuatu itu.
Dia bilang “tapi kkak nyesel banget dek nyesel banget kalo kkak nyia-nyiain kamu gini aja”
Gue bilang “tapi mau dibilang apa kak kalo emang kkak gak bisa yah gak usah maksain juga ntar malah ada masalah lagi malah gak enak kak ,walaupun sebenernya saya pengen banget bisa sama-sama kakak”
“gimana kalo kakak tunggu kamu sampe lulus dek??” dia bilang gitu.
Gue ,”hah? Aku sih iya iya aja gapapa  tapi kkak bener-bener mau nungguin aku sampe lulus?”
“iya insya allah ,kita jalanin dulu aja yang sekarang yah dek … “
Gue seneng banget sumpah demi apapun saat itu, semangat gue datang lagi semua jadi indah (lebeh booo)
Selang beberapa waktu ,kita mulai deket-deket gitu haha ceritanya gini gue les hari sabtu di gama mau pulang gue sms dia “dok ,kamu dimana?” dia bales, “aku dilapangan burung lagi ngurus yang foto buku tahunan kelas 9.3 belum selesai sayaaaaaaaangku ”
Nah ,gue iseng gue kira dia bakal cepet balik ternyata lamaaaaa bo haha gue nunggu di pos jaga sekolah ampe kusut ampe ketiduran sih  tapi seneng bisa ngobrol sama dia ih seneng deh.
Dia bilang ,”besok mau kemana kamu?” gue, “gak kemana-mana kok kak kenapa?”
Dia ,”mau ikut ambil foto di rumahnya si anton gak? malem aja sekalian jalan jalan gimana??” gue, “hem.. boleh-boleh asiiiiik  (bocah banget emang gue haha)
Ini kali keduanya gue nunggu hah dismsin kagak dibales diteleponin gak diangkat (aduuuuu kodoook kemana kamu sayaaaaang??? ) nunggu di pos jaga 25 abis isya hem untung rame ada abangnya ,terus ada kak matnur,kak arif, sama kak andy.
Di Tanyalah gue ngapain malem-malem disini sama kak andy, gue bilang aja tar juga tau nih lagi nungguin orang kak ndy… eh gak lama klaksonnye bunyi haha gue pasang muka aneh jelek marah ngambegg  fahmi nanya ama abang nya gue nunggu dari jam berapa hehe dia minta maaf deh.
Di jalan ceritalah dia ,dia bilang handphonenya ilang padahal tadi masih ada (padahal mah jatoh dikolong tempat tidur ) doi sih ngiranya tuh handphone di ambil si bapak xixixixi 
Teman ini 1st date gue ama ADE FAHMI GEMILANG lho ,hem senangnya malam itu gue bisa cerita-cerita sepuas gue certain sejak kapan gue suka sama dia sejak kapan gue blablabla haha ,di jalan dia ngasih gue gelang samaan sama dia dipake di tangan kiri(yang gue kira punya gue ilang dijalan pas mau jenguk dia sama ranna sama kak santo dulu) seneng banget banget. Sepulang dari rumah kak Anton kita jalan-jalan ngobrol-ngobrol hem waktu itu ke harapan indah iyaiya (jadi inget  this is so sad) seneng banget.
Dia bilang sekarang gue udah sama-sama dia dia mau rasa sayang gue yah JUST FOR ME  of course itu pasti bahkan itu sampai sekarang ta… mulai dari hari itu gue pengen mengenal sosok fahmi lebih dekat seperti apa dia, watak,dll lah.
Waktu dijalan pulang habis buat kita cerita-cerita panjang-lebar, ngalor ngidul,kanan-kiri,depan-belakang (haha) sampe dirumah gue hem gue Tanya mau pulang jam berapa kamu dok?? Dia bilang nanti aja, yaudah kita cerita-cerita dia cerita gimana keluarganya seperti apa keluarganya ,dia juga cerita masalah pasca dia sama fanni itu, dia cerita yang lucu-lucu dia buat gue ketawa dia buat gue tersenyum dia buat gue berarti saat itu (tapi sekarang gak ada lagi) gue juga cerita kayak gimana betenya gue dulu sebelum ini semua terjadi pasca fanni juga tentunya.
“dulu waktu kamu masih sama –sama fanni bahkan jauh sebelum kamu sama-sama fani aku pernah bilang kak sama fani aku sayang sama kamu aku suka sama kamu. Tapi yah mau gimana kamu suka sama fanni akhirnya kamu sama dia jadian hem disinilah sakitnya tiap hari kak aku dengerin fanni cerita kamu ,kamu ada masalah lah ,dia kangen sama kamulah yah emang sakit dengerin temen sendiri cerita orang yang aku suka bahkan mereka pacaran tapi aku usaha buat sebiasa mungkin. Terus yah masalah kamu sama dia yang buat kamu sama dia gak bisa lagi sama-sama akhirnya kamu putus sama dia,dan aku gak tau kenapa seneng rasanya kamu putus sama fani jahat sih emang tapi yah itu adanya” gue cerita panjang-lebar.
Udah agak maleman jam 11an lah ,gue Tanya “dok kamu mau pulang jam berapa ?udah malem lho ini.” kodok “iya sebentar lagi ,sapiiii  hehe” ngelanjutin lagi cerita-cerita udah hampir setengah duabelas kita liat bintang sama-sama diluar (ya allah ,sekarang dia bukan lagi milik gue) pokoknya gue seneng banget malam itu  he he he.
Sesudah malem itu jadi sering ketemu, main kerumah main di pop esnya bu de’ sama putri sama nyul, citra. Singkat cerita udah mau UN’10 nih ceritanya lagi stress-stressnya belajar hem seneng banget ada yang nyemangatin gue belajar gue semangat banget sumpah demi apapun gue sayang banget sama dia sampai detik ini.
Yah, akhirnya tinggal seminggu lagi UN’10 kita break smsan  dia gak mau ganggu konsentrasi belajar gue tapi tetep di hari terakhir UN’10 dia sms gue lah he heh e.
Tau gak teman, dia bilang buat sayang sama gue susah banget dia bilang gak tau kenapa waktu gue lagi UN’10 dia was-was mikirin gue bisa ngerjain soal UN nya enggak dia doain gue biar semuanya lancar, gue sayang sekali sama lo boy 
Hem ,terlepaas dari yang namanya ujian nasional tahun ajaran 2010 kita mulai kembali lagi seperti biasanya kita sering ngumpul bareng-bareng putri sama nyul sama citra di pop es dalam rangka melepas stress he he he ,terus jalan-jalan sama dimas+imay yang kayak dikejar waktu gitu hehehe paling menyenangkan tanggal 24 april 2010 2nd months me and him (ya allah…)
Udah menjelang-menjelang pengumuman ujian nasional deg deg plesss aja ni jantung ,sebelumnya tanggal 5 april gue minta anterin Ranna cari kado buat dia muter-muter akhirnya ketemu juga gue beliin dia stick drum di bharata music terus gue bungkus rapih kadonya+gue tulis kartu ucapannya  isinya : “happy bday ya mas  ma’at taufiq +dewasa,+sukses kedepannya,+sayang sama aku, jadi yang terbaik buat keluarga . –aku-“ dan parahnya pas selesai cari kado gue sama ranna ke pop es bu de’ eh malah ketemu orangnya he he he untung motor diparkir di seberang dan gak keliatan kadonya ya udah alhasil seneng gue ketemu dia gak diduga-duga malah ketemu ngerecokin dia minum pop es hehe seru deh pokoke 
Sampai akhirnya di tanggal 7 mei 2010, malem nya gue telepon dia diangkat dan ya udah gue ucapin met ulang tahun  dia nyanyi lagu lamanya JAMRUD-TERIMAKASIH paginya gak tau ini hari waktunya gue seneng atau sedih .hari ini hari pengumuman kelulusan ujian nasional gue seneng banget gue lulus walaupun agak sedikit ngecewain yang pake bocoran malah lebih bagus nilainya huh ,tapi legaaaa banget deh ada lagi nih teman hari itu juga dia ulang tahun yang ke 20tahun  jam-jam 9an gue kerumahnya ternyata gak ada dirumah alhasil gue sms dia dong Tanya dia lagi dimana dia biang dia di pengadilan HAH?? Kok gue gak tau ,kok kamu gak kasih tau sih huh yaudah alhasil gue sama imay main dirumahnya dimas kelamaan nunggu ya udah pulang lagi jadinya nanti aja balik lagi.
Eh si dimas sms gue malemnya bilang fahmi sakit, (aduh kamu kenapa taaa?)
Gue sms gue Tanya kamu kenapa ta? Eh enggak dibales . Ya udah malemnya gue maksain kerumahnya buat kasih kadonya sekalian mau jenguk dia  sedih banget hangat banget badannya, lemes banget kayaknya cepet sembuh ya sayaaaaaaangku  gue senyum ,gue bilang selamat ulang tahun ya ta.. aku sayang kamu
Sehari,dua hari,tiga hari,empat hari,lima hari sampai di tanggal 12 mei 2010 hem padahal gue nungguin dia sms met ultah ya sayaaaaang ku, tapi dia gak sms-sms gue oh my god!
Gue sms dia, Tanya dia lagi dimana dia bilang di RS ANANDA lagi periksa darah takut banget gue jangan sampai kenapa-kenapa..
Sorenya gue sama ranna kerumahnya niatnya mau jenguk sebelumnya gue beli bubur di harapan jaya ,baru deh kerumahnya ternyata belum pulang kata tetangganya dirawat kaget lah bo masa gue cweknya (dulu.. ) malah enggak tau akhirnya kita niatin buat ke ananda cari dia ,dijalan sedikit gerimis-gerimis gitu gue inisiatif telepon ke handphonenya yang angkat si bokap sepertinya ya udah tanya ruangannya dimana digedung apa dll deh.
Sampe di ananda, bingung setengah mati cari ruangannya udah pulsa habis eh bapaknya telepon ke handphone gue bilang di ruang intensif ,masih gak ketemu juga akhirnya kita uda mau pulang eh si ranna ngeliat di kaca ada fahmi eh ketemu bapaknya sama ibunya sempet ngobrol sebentar terus gue liat dia dari jendela (gak boleh masuk ) si nyokap masuk nyuapin dia makan gue nangis bo liat dia sakit ,dia liat gue terus dia ngasih isyarat buat gue gak nangis gue elap air mata gue gue senyum . gue sedih liat lo masuk rumah sakit tapi gue seneng ta dihari ulang tahun gue walaupun dari pagi-pagi gue gak terima sama sekali sms met ultah dari kamu gue bisa ngerasain rasanya berjuang ,rasanya khawatir, rasanya sayang sama kamu 
Si bapak berusaha buat gue bisa masuk liat langsung ke dalem ,akhirnya gue masuk gue ngucapin salam, gue senyum ,gue bilang cepet sembuh ya sayang ,(aku seneng banget ,aku pernah ada disaat kamu lagi jatuh ta.)
Besoknya gue,ranna+kak santo jenguk dia bareng-bareng nyokap titip jambu merah yang dibeli dari pasar (dia sakit DBD) yaudah kita jenguk kesana, hari selanjutnya gue mampir kerumah sakit dari 48 ngeliat seleksi berkas dia udah dipindah ruang dan udah kelihatan sedikit baikan.
Nah ,tanggal 16 mei 2010 nya ta pulang dari rumah sakit Alhamdulillah seneng banget 
Singkat cerita ,sekarang udah tanggal 24 Mei 2010 hem today is us 3rd months senangnya  aku sayaaaaang sama kamu ta hari itu dia kerumah kita masak spageti bareng-bareng haha seru deh 
Tanggal 1 juni 2010 ,dia minta ditemenin bayaran ke kampus pulang dari kampus muter-muter di MM gak jelas terus nyebrang ke BCP ke Gunung agung liat novelnya Raditya Dika ,terus pulang dirumah kita nyanyi-nyanyi, bercanda-bercanda ,ngisengin dia seperti biasa and than today he give me a ****** haha.
tanggal 3 juni 2010 dia anterin gue liat hasil pengumuman di smk 48 yang Alhamdulillah banget gue masuk  semua karena dia ,kamu semangat buat aku ta,kamu semangat buat aku bahkan itu gak akan pernah berubah.
Hem, tanggal 6 juni 2010 triple date sama Ranna+kak Sant ,li+Upiie  nonton prince of Persia huh  kan gue mau nonton shrek tadinya he he he ,makan bareng ,terus pulang deh.
Ditanggal 12 juni 2010 ngumpul dirumah gue lia ada sedikit masalah sama pacarnya terus kita makan bareng-bareng seperti biasa makan mi goreng xixixixi 
Belum lama ini ,tanggal 5 july 2010 ke Dufan bareng-bareng  seneng banget ,dia seneng banget buat gue ketakutan haha emang gue penakut xixixi ini yang paling gak bisa dilupain pertama kita naik kora-kora (perahu ayun), terus naik tornado, Niagara-gara, seneng banget deh bercanda-bercanda lepas makan disuapin ,ngantri sambil cerita-cerita seharian sama-sama kamu seneng banget. Basah-basahan gara-gara arung jeram hehe kepeleset juga  seru banget
10 july 2010 ,puncak kangennya aku sama kamu and nice satnight ta  walaupun Cuma sebentar kerumahnya bisa melepas kangen (gue sedih.. ) ini terakhir kita seneng-seneng sepertinya aku mulai sibuk sama kegiatan di sekolah baru sementara kamu libur dan sibuk sama kegiatan kamu disisa waktu kita tanggal 20 july 2010 kamu bisa jemput aku sepulang MOPDB seneng banget sekian lamanya jarang ketemu . pulang seperti biasa dijalan gue berusaha bercanda-bercanda ngeledekin dia ,nyubitin dia ,gak pernah gue sampai sekangen itu  pulang mampir ke 25 makan dulu dikantin terus pulang deh
Mulai saat itu gue emang sadar dia mulai berubah mulai aneh dan mulai cuek sama gue ,seakan ada yang disembunyiin aja (ternyata bener kan) gue berusaha buat biasa aja, gue sms juga jarang banget dibales.
Akhir cerita kita 4 agustus 2010, cerita ini gak semuanya aku tulis gak semuanya aku ungkapin gak semuanya kamu tau rasa berjuang buat aku itu seperti apa ,rasa sayang itu seperti apa, kecewa itu seperti apa, ,kamu gak pernah tau setiap kali Juli bilang dia pengen sama-sama aku aku selalu bilang gak bisa itu untuk kamu ta, belum lagi kak Rega ,belum lagi rasa ingin dekat lebih jauh sama keluarga kamu sama ibu bahkan sama bapak ,belum lagi rasa sakit liat kamu secepat itu sayang sama seseorang ta, kamu gak pernah ngerti apa yang aku rasain aku pengen kamu ngerti apa iya selama ini aku pernah minta sesuatu yang macem-macem sama kamu ,apa aku pernah maksain sesuatu sampe kamu bener-bener males banget sama aku ta?? Aku yakin udah lama kamu bohong soal ini aku pernah Tanya sama kamu ,apa ini Karena orang lalin ta? Tapi kamu jawab enggak tapi buktinya apa kamu bisa ta secepat itu ngelupain semuanya.
Rasa sakit ini datang bukan Karena aku gak bisa lagi sama-sama kamu ,tapi karena kamu semangat buat aku ta kamu yang selalu buat aku semangat belajar, buat aku semangat menghadapi sesuatu ,yang selalu buat aku positif thinking kalo aku pasti bisa kayak dulu kamu bilang aku pasti masuk di 48 tapi sekarang kamu gak ada lagi ta buat aku dulu kamu yang bilang kita pasti bisa sama-sama terus kita akan baik-baik saja walaupun intensitas aku sama-sama kamu ketemu pasti akan lebih jarang. Kamu gak pernah ngerti ta, rasa sakitnya aku harus panggil kamu dengan sebutan kakak lagi kamu juga gak pernah ngerti gimana aku cemburu ini gak ada hitungan bulan ta kamu udah bisa sama-sama yang lain dan dia jauh lebih muda dari aku ta . jujur aku ,saat ini gak berharap banyak buat bisa sama-sama kamu tapi kamu semangat ta buat aku kamu tau aku masih ingin sama-sama kamu seenggaknya kamu bisa buat tiap hari sms aku ,aku pengen gak ada yang berubah ta semua masih bisa aku dapetin walaupun pasti beda saat ini rasa sayang kamu bukan lagi buat aku. Tapi aku tau kamu ngerti seperti apa harusnya kamu bersikap ke aku. Aku sayang kamu ta .








-aku-

Saturday, 26 September 2009

insiden bendera di hotel yamato ^^

Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya

HOTEL Majapahit (dahulu Hotel Yamato, red) yang menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih

HOTEL Majapahit (dahulu Hotel Yamato, red) yang menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih

INILAH awal gerakan sporadis Arek-arek Suroboyo menantang dan melawan keinginan kolonial untuk kembali menancapkan kukunya menjajah bumi pertiwi, Indonesia.

Tanggal 19 September 1945 bagi warga Kota Surabaya, harus selalu dikenang. Sebab itulah gerakan heroik yang sulit dilupakan sebagai awal kebangkitan Arek Suroboyo yang kemudian berkobar dalam peristiwa 10 November 1945. Tanggal yang menjadi tonggak sejarah, sehingga Kota Surabaya memperoleh predikat “Kota Pahlawan”.

Betapa tidak, kejadian di tanggal 19 Sptember 1945 yang dikenal dengan “insiden bendera”, merupakan pemicu semangat juang Arek Suroboyo. Adanya peristiwa perobekan bendera Belanda tiga warna “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato (nama di zaman Jepang yang semula zaman Belanda bernama hotel Orange, kini bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, benar-benar memperkokoh persatuan pemuda pergerakan di Surabaya.

Hotel Majapahit, sekarang ini, di zaman Belanda bernama LMS Orange Hotel. LMS adalah singkatan nama Lucas Martin Sarkies. “Orange” adalah warna kebanggan bangsa Belanda. Bahkan, hingga sekarang kesebelasan sepakbola nasional Belanda menggunakan seragam kaus berwarna orange. Sewaktu Jepang berkuasa, nama hotel ini diganti menjadi Hotel Yamato.

Wiwiek Hidayat (alm) mantan kepala kantor berita “Antara” di Surabaya, saat masih hidup di tahun 1990-an dalam wawancara dengan penulis pernah mengungkap berbagai peristiwa di tahun 1945. Banyak hal tentang perjuangan Arek Suroboyo dan para wartawan di kala itu yang diceritakan kepada penulis. Ada yang dalam bentuk wawancara, maupun bincang-bincang di waktu senggang. Berbagai kisah masa lalu banyak yang sempat kami catat dari tokoh pers dan pelaku sejarah perjuangan Surabaya ini .

Dari Tunjungan 100

Kendati tidak ikut naik ke atas gedung hotel Yamato yang persis di depan kantor berita Antara di jalan Tunjungan 100 Surabaya itu, Wiwiek Hidayat adalah saksi mata. Ia mengabadikan dan mencatat dengan rapi kejadian di puncak hotel yang kemudian bernana Hotel Majapahit itu. Pak Wiwiek – begitu wartawan senior ini biasa disapa – secara tegas menyatakan tahu persis nama orang yang merobek kain warna biru dari bendera Belanda itu. Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah putih tersisa kembali diikatkan ke tiang bendera dan menjadi sangsaka merah-putih. “Nama orang itu adalah Kusno Wibowo yang dibantu Onny Manuhutu dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal,” kata Pak Wiwiek.

Memang, ada yang lain, tetapi mereka membantu membawa tangga dan hanya naik ke atap gedung bagian tengah, serta beramai-ramai berteriak penuh semangat. Jadi yang berada di puncak tempat tiang bendera itu, hanya ada empat orang. Foto dokumentasinya masih tersimpan di kantor berita “Antara”, ujar Pak Wiwiek waktu itu. Anehnya, kemudian banyak orang lain yang mengaku-ngaku sebagai pelaku perobekan. Sehingga, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa pelakunya adalah “Arek Suroboyo” (tanpa nama).

Pak Wiwiek di tahun-tahun terakhir sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, hampir tiap sore bertandang ke Balai Wartawan Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya. Di sana ia berkumpul dengan wartawan muda. Keakraban dengan wartawan muda itu, memberi gairah Pak Wiwiek bernostalgia. Sehingga pikiran jernihnya berhasil mengungkap tabir di balik peristiwa insiden bendera yang bersejarah itu.

Hari Selasa, 18 September 1945, siang hingga sore beberapa anak muda Belanda Indo mengibarkan bendera Belanda “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato. Mereka itu berada di bawah perlindungan opsir-opsir tentara Sekutu dan Belanda dari kesatuan Allied Command. Tentara ini datang ke Surabaya bersama rombongan Intercross atau Palang Merah Internasional.

Beberapa hari sebelumnya terdengar kabar, bahwa anak-anak muda Belanda Indo itu membentuk organisasi bernama “Kipas Hitam”. Tujuannya untuk melawan gerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945 (sebulan sebelumnya). Selain berlindung di belakang opsir Sekutu dari Alleid Command, ternyata para opsir itu adalah NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang ingin mencengkeramkan kembali kukunya di Bumi Nusantara.

“Melihat tingkah bule-bule di hotel yang terlihat jelas dari kantor berita Antara, membuat darah para wartawan mendidih. Ulah tingkah anak-anak muda Belanda itu segera disebarkan kepada kelompok pergerakan. Situasi semakin menghangat dan hiruk pikuk, tatkala melihat bendera Belanda tiga warna berkibar di atas hotel Yamato”, cerita Pak Wiwiek.

Suasana bertambah panas, ketika besoknya pada Hari Rabu, 19 September 1945 pagi, anak-anak muda Belanda Indo itu berkumpul di depan hotel. Beberapa orang yang melihat bendera Belanda berwarna “merah-putih-biru” berkibar di puncak hotel Yamato, tidak hanya sekedar menggerutu, tetapi beberapa di antaranya berteriak-teriak histeris. Mereka minta agar bendera itu diturunkan. Namun anak-anak muda Belanda Indo itu menolak dan dengan congkaknya seolah-olah menantang.

Sadar bahwa ulah anak-anak Belanda itu sudah keterlaluan. Suasana di kalangan anak muda Surabaya semakin tidak menentu. Mau bertindak sendiri-sendiri, masih ada keragu-raguan. Belum ada satupun yang mengambil inisiatif, termasuk para wartawan dan pemuda pergerakan yang berada di kantor berita Antara. Namun, beberapa wartawan mendatangi kantor Komite Nasional dan Kantor Keresidenan Surabaya, menanyakan tentang sikap pemerintah dengan adanya bendera Belanda di atas hotel Yamato. Pejabat di dua kantor itu mengaku belum tahu.

Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Ruslan (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, termasuk saya dan Sutomo (Bung Tomo), kata Wiwiek Hidayat, segera mendatangi hotel Yamato. Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.

Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu. Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu.

Ploegman Tewas

Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Saat itu, kata Wiwiek, seorang pemuda menendang pistol yang diacungkan pria kulit putih itu. Terjadi perkelahian dan saling keroyok antara bule-bule dengan pemuda yang datang menyerbu masuk ke halaman hotel. Tauran (perkelahian massal) tak dapat dihindarkan. Apa saja yang ada saat itu dipergunakan jadi senjata. Ada kayu, batu, botol minuman dan ada seorang polisi menggunakan pedang. Ada yang mengangkat sepeda dan dilemparkan ke tengah massa.

Suasana hirukpikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem. Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT.KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel. Sementara itu di luar beberapa orang membawa tangga dan naik ke atas gedung. Ada enam atau tujuh tangga bambu yang disebut ondo itu dibawa warga dari kampung Ketandan dan kampung Kebangsren. Dengan ondo itu, anak-anak muda berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, namun sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, lalu dwiwarna yang tersisa kembali menjulang di angkasa. Kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah. Teriakan “Merdeka…!, merdeka! sembari mengepalkan tangan saling bersahutan.

Waktu itu, memang di depan hotel ada serdadu Kempetai (tentara Jepang) yang menjaga dengan senapan dan sangkur terhunus. Namun melihat suasana massa, serdadu Jepang itu hanya diam berbaris, tidak berani melepaskan tembakan.

Dari insiden ini empat pemuda menjadi korban luka berat. Mereka, adalah Sidik, Hariono, S.Mulyadi dan Mulyono. Mereka dilarikan ke rumah sakit Simpang (sekarang sudah tidak ada, di tempat itu kini berdiri gedung Medan Merdeka, Bursa Efek Surabaya (BES), Bank Mandiri dan Plaza Surabaya. Sedangkan korban di pihak Belanda, adalah Ploegman. Ia tewas akibat tusukan senjata tajam.

Pekik Merdeka

Pekik merdeka tiada hentinya berkumandang dalam setiap pertemuan. Ulah anak-anak Indo Belanda yang datang ke Surabaya mempersiapkan kedatangan pasukan Sekutu yang ditugasi melucuti senjata serdadu Jepang, memancing kemarahan warga Kota Surabaya.

Rakyat, terutama para pemuda menyadari, sejak saat itu kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, belum aman. Gejala pihak Belanda ingin menjajah kembali mulai terlihat. Untuk mempertahankan tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia di Surabaya, diperlukan senjata dan alat angkutan untuk bergerak cepat. Itulah sebabnya pemuda dan anak-anak kampung di Surabaya melakukan perampasan terhadap mobil-mobil Jepang yang lewat. Bahkan, mereka tidak segan-segan menempelkan kertas merah-putih di kaca-kaca mobil pembesar Jepang.

Tidak jarang, setelah mobil-mobil ditempeli kertas merah-putih, mobil itu diambilalih. Sebelum tentara Sekutu melucuti senjata serdadu Jepang itu, para pemuda Surabaya sudah mendahuluinya. Perampasan senjata juga dilakukan di markas dan gudang-gudang Kempetai.

Memanasnya kemelut setelah insiden bendera di Hotel Yamato, mendorong para pimpinan pemuda untuk melakukan koordinasi. Dua hari kemudian, tanggal 21 September, setelah berlangsung rapat KNID (Komita Nasional Indonesia Daerah) di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan, terbentuklah badan perjuangan yang diberi nama PRI (Pemuda Republik Indonesia).

Dalam rapat PRI disepakati, bahwa PRI adalah organisasi yang tidak memandang perbedaan paham dan golongan. Rapat juga membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang. Roeslan Abdul Gani alias Cak Roes dalam rapat itu mengobarkan semangat juang para pemuda. Cak Roes juga menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.

Sebagai langkah awal koordinasi, disusun pengurus PRI dengan ketua: Sumarsono dengan dua wakil ketua: Krissubanu dan Koesnadi. Penulis I dan II, masing-masing: Bambang Kaslan dan Roeslan Effendi, serta bendaharanya: Nn.Supijah. Markas PRI berada di Wilhelmina Princesslaan (sekarang bernama Jalan Tidar) Surabaya. Namun, pada tanggal 4 Oktober 1945, markas PRI ini dipindah ke gedung Simpang Societeit (sekarang bernama Balai Pemuda) di Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.

Terjadinya pengambilalihan kekuasaan dari tangan penguasaan Jepang di berbagai instansi, di bulan September 1945 itu menambah semangat persatuan di kalangan pemuda. Sampai-sampai begitu semangatnya, di Surabaya muncul poster-poster dengan tulisan: 1 Oktober 1945 akan menjadi “hari pembantaian anjing-anjing Jepang”. Poster itu disebarkan ke mana-mana, kebanyak oleh anggota PRI. Di samping itu, berita dari mulutu ke mulut menjalar ke seantero kota.

Melihat adanya gejala “akan main hakim sendiri”, maka pimpinan PRI dan tokoh pemerintahan, serta anggota KNID, melakukan rapat. Disusunlah strategi jitu untuk melakukan penyerangan ke markas Kempetai dan markas-markas Angkatan Laut Jepang di Jalan Embong Wungu, markas Angkatan Darat Jepang di Jalan Darmo, Gungungsari, Sawahan dan lain-lain.

Penyerangan dikordinasikan oleh PRI bersama BKR (Badan Keamanan Rakyat), serta Polisi Istimewa. Saat terjadi penyerangan 1 Oktober 1945, korban berjatuhan dari ke dua belah pihak. Puluhan orang serdadu Jepang terbunuh dan ratusan orang lainnya digiring masuk penjara dan kamp tahanan.

Pihak Jepang di Surabaya akhirnya menyatakan menyerah kepada pimpinan pemerintahan daerah di Surabaya tanggal 2 Oktober 1945. Panglima Divisi tentara Jepang Jawa Timur, Jenderal Iwabe, memerintahkan seluruh serdadu Jepang untuk menyerah kepada BKR, sekaligus menyerahkan seluruh senjata dan gudang-gudangnya. Sebaliknya, pihak Indonesia, menyanggupi untuk menjaga keamanan semua orang Jepang. Penyerahan kekuasaan oleh Jenderal Iwabe ini kemudian diikuti pula oleh Laksamana Laut Shibata, 7 Oktober 1945.

Dekrit

Setelah berhasil mencapai kemenangan, Pemerintah Keresidenan Surabaya mengeluarkan “Dekrit” atas nama Pemerintah Republik Indonesia yang berisi enam pasal. Maksud dekrit itu untuk menggalang kekuasaan lebih lanjut di bawah pengawasan BKR. KNID juga mengeluarkan seruan agar rakyat mematuhi semua komando dari BKR.

Residen Sudirman kemudian membentuk komite pelaksana untuk membantu pemerintah keresidenan. Anggota komite pelaksana, selain dari KNID, juga masuk pimpinan buruh, Syamsu Harya Udaya dan ketua PRI, Sumarsono.

Markas Besar PRI di Balai Pemuda, benar-benar menjadi pusat kegiatan dan koordinasi antar pemuda Surabaya. PRI dengan cepat berkembang dengan dibentuknya PRI lokal di kampung-kampung. Kemudian diresmikan pula enam cabang, masing-masing: Cabang Kampement (Jalan Sunan Giri), Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin dan Darmo. Dari enam cabang itu, kemudian diubah menjadi tiga pusat, yakni: PRI Utara, PRI Tengah dan PRI Selatan.

PRI Surabaya di waktu itu merupakan laskar yang kuat dan popular. Kekuatannya, hampir sama dengan kekuatan TKR di Surabaya. Kegiatan menonjol yang menjadi cacatan sejarah yang dilakukan PRI, antara lain: terlibat langsung dalam peristiwas pembunuhan yang terjadi di kamp tawanan Jepang di Jalan Bubutan (Koblen). Selain itu juga ikut terlibat dalam peristiwa penggeledahan kantor RAPWI (Recovery of Allied Prisoners and War Internees) di Hotel Yamato, kantor NICA (Nedherlands Indies Civil Administration), serta beberapa rumah milik orang-orang Eropa di Surabaya.

Dari penggeledahan yang dilaksanakan 11 Oktober 1945 itu, ditemukan banyak bukti yang berhubungan dengan rencana penyerangan pihak Sekutu ke Indonesia. Saat penggeledahan itu juga dilakukan penyitaan terhadap alat komunikasi, perta dan dokumen yang merupakan kerja intelejen dan mata-mata. Dari temuan itu, tekad bulat pemuda untuk mempermalukan kedatangan armada Sekutu yang bekal mendarat di Tanjung Perak Surabaya, sudah semakin bulat. Bahkan di dalam kota, kegiatan pemboikotan pasokan makanan untuk orang Eropa, khususnya Belanda Indo.

Tanggal 12 Oktober 1945, merupakan hari bersejarah bagi Bung Tomo (Sutomo) dan kawan-kawannya. Pada hari itu, bertempat di rumah Jalan Biliton No.7 disepakati lahirnya sebuah organisasi bersenjata bernama “Pimpinan Pemberontakan Rakyat Surabaya” (PPRS). Para pelopor pemberontakan harus berani bertanggungjawab sepenuhnya seandainya digempur dan dikalahkan oleh Inggris dan sekutunya. Para pelaku pertemuan itu, dalam buku Laporan Survey Sejarah Kepahlawanan Kota Surabaya, adalah: Sutomo (Bung Tomo), Soemarno, Asmanu, Abdullah, Atmadji, Sudjarwo, Suluh Hangsono dan beberapa pemuda lainnya.

Bung Tomo mengatakan, PPRS yang kemudian diubah menjadi BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia), adalah organisasi pemuda yang sedikit teratur dan mengambil bagian terpenting dalam peran Surabaya. Organisasi ini tidak mempunyai afiliasi politik yang resmi, tetapi memiliki beberapa stasiun radio dan mengemudikan beberapa stasiun radio.

Setelah BPRI terbentuk, kegiatan pemuda bersenjata semakin teratur dan terkendali. Kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya mulai terbangun. Masing-masing kelompok membagi dan menentukan wailayah operasinya.

Tidak hanya di darat, kekuatan pemuda mulai bersatu. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, para pemuda Indonesia yang berada di kapal, juga melakukan kegiatan. Operasi laut pertama kali dilakukan ke Pulau Nyamukan (Djamuan Riff) yang terletak beberapa mil dari dermaga Ujung, Surabaya. Dari operasi tanggal 14 Oktober 1945 di laut itu berhasil diperoleh surat perintah menyerah dari Kaigun Saiko Sjikikan (Komandan Tertinggi Angkatan Laut Jepang di Surabaya), Laksamana Sjibata.

Unsur laut yang terlibat dalam operasi itu antara lain: TKR Laut, MKR dan PHL. Dengan menggunakan kapal perang tipe pemburu kapal selam (Submerine Chaser) S-115 yang diambilalih dari tangan Kaigun Jepang, 7 Oktober 1945. Sebagai komandan kapal diangkat Dento dengan kepala kamar mesin, Kunto serta kepala persenjataan, Gimo. Sebagi pimpinan operasi bertindak Atmadji yang juga pimpinan MKR Surabaya. Dalam operasi itu ikut ula Moch.Afandi, ketua umum PAL (Penataran Angkatan Laut) Gunadi dan beberapa pimpinan TKR Laut.

Dalam operasi laut itu, kapal S-115 yeng menggunakan bendera Merah Putih itu, berhasil menggiring 34 buah barkas pendarat (Daihatsu) dari Pulau Nyamukan yang mengangkut 419 orang tentara laut Jepang. Operasi tanpa pertumpahan darah itu tiba di dermaga Ujung malam hari. Selain menawan ke 419 orang tentara laut Jepang itu, TKR Laut juga menyita 34 barkas pendarat, 217 senapan karabyn, 22 senapan mesin dan beberapa peti granat, serta amunisi.

Peristiwa yang merupakan prestasi besar ini tersebar dengan cepat, berkat siaran radio BPRI dan siaran radio Surabaya yang disampaikan dalam amanat Drg.Moestopo.

Menjelang kedatangan pasukan Inggris dengan bendera Sekutu itu, terjadi berbagai ekses. Setiap warga Belanda dan Indo laki-laki dan remaja usia di atas 16 tahun ditangkapi oleh anggota PRI. Mereka dijemput di asrama dan rumah-rumah dengan menggunakan truk. Dari pagi hingga petang pada tanggal 15 Oktober 1945, sebanyak 3.500 orang dimasukkan ke penjara Kalisosok Surabaya.

Gerakan pemuda di Surabaya semakin panas, apalagi dengan terjadinya pertempuran antara pihak Indonesia dengan pihak militer Jepang di Semarang. Peristiwa lima hari 15 sampai 20 Oktober di Jawa Tengah itu membuat se bagian pemuda Surabaya yang “dendam” terhadap perlakuan Jepang sebelumnya berupaya melakukan tindakan balasan. Spanduk dan selebaran yang berasal dari Semarang membuat darah Arek Suroboyo mendidih. Isinya: “Singkirkan Jepang, sebelum mereka membantai kita di Surabaya!”.

Hampir tiap hari di depan penjara Koblen tempat serdadu Jepang ditahan, selalu ramai oleh kerumunan anak muda. Mereka berteriak-teriak agar orang-orang Jepang yang ada di dalam penjara dikeluarkan. Beberapa di antara orang Jepang yang berhasil dikeluarga langsung dieksekusi mati. Para pemimpin pemuda pergerakan bersama TKR dan KNIP berusaha mencegah tindakan main hakim sendiri.

Suasana kemudian beralih kepada makin dekatnya jadwal pendaratan tentara Sekutu di Surabaya. Akhirnya, tanggal 25 Oktober 1945, tentara Sekutu yang didominasi tentara Inggris mendarat di Tanjung Perak dengan kekuatan satu brigade. Pasukan yang berjumlah 6.000 orang ini terdiri dari Brigade Infantri 49 dari divisi India ke-23 , di bawah komando Brigadir Jenderal Mallaby.

Armada kapal yang merapat di dermaga itu itu terdiri dari kapal transport bernama: “Wavenley”, “Mlaika”, “Assidios”, “Floristan” dan beberapa kapal lagi yang dilindungi oleh kapal perang Inggris.