Sunday, 16 December 2012

Ketika Sampai di Titik Nol



Ketika Sampai di Titik Nol
Berkali-kali ku lihat kearah jarum jam yang ada ditanganku. Berkali-kali ku lihat bergantian jam dan dosen didepan yang sedang bercuap-cuap menerangkan. “Lama bener sih nih dosen, kita udeh telat kantor nih fa!” bisikku kearah Raffa yang terlihat sedang asyik mendengarkan sang dosen idamannya. “Hahaha. Udeh, santai aja kenapa sih fahmaaa!” jawab Raffa sambil senyum-senyum sendiri memandang kearah sang dosen.
Sambil ngedumel sendiri aku habiskan sisa waktu dikelas untuk mencoret-coret binder noteku dengan kesal. Aduuuuuuuuuuuuh! Lama banget sih nih kelas bubar!. Dengan setengah kesal, ku beranikan diri untuk maju kearah sang dosen dan meminta izin untuk meninggalkan kelas sekarang juga. “Sorry sir, saya hari ini ada meeting dikantor sangat mendesak dan mengharuskan saya pergi sekarang. Jadi, bolehkah saya…”. Dengan pandangan ingin tahu dia melihat kearahku dan dengan gagap dia menjawab “Ya, ya.. Boleh silahkan. Maaf, nama kamu siapa?”. “Okay thanks sir, saya Fahma” Sambil berbalik kearah pintu kelas.
Dari belakang Raffa berlari-lari kecil menyusul langkahku. Dalam diam kita masuk kedalam mobil. Raffa mulai menyalakan mesin mobil dan mulai bercerita tentang sang dosen idamannya lagi. Tiba-tiba mataku merasa sangat mengantuk dan mulai terpejam.
Mama, ketika aku duduk di Taman Kanak-kanak dulu banyak teman-teman bicara bahwa aku ini berbeda. Ketika anak-anak seumuranku diantar sekolah dengan ayah dan ibunya. Hanya aku yang berjalan kaki sendiri dari sebuah perpustakaan usang ditengah kota Jakarta ini, hanya aku yang selalu membawa sebungkus nasi uduk untuk bekal makan siang, dan hanya aku yang terlihat tak pernah dijemput oleh seseorang yang harusnya ku panggil dengan sebutan “Mama”. Mama, ketika aku mulai dewasa. Aku mulai mengerti apa yang mereka katakan itu benar adanya. Aku berbeda, aku tak pernah melihatmu atau ayah. Aku tak pernah tahu siapa kamu dan seperti apa kamu. Satu yang aku tahu dari Nek’ Lina orang yang selama ini menjadi penggantimu mama. Suatu hari 20 tahun yang lalu, ada seorang bayi dititipkan didepan pintu perpustakaan usang miliknya. Dengan dibungkus kain berwarna merah muda, dengan pipi berwarna merah dan kulit berwarna putih bersih. Disampingnya ada sepotong kertas bertuliskan satu nama “Fahma Anissa”.


Sinar matahari masuk menerobos kaca mobil, membangunkanku dari tidur singkatku. Dengan sedikit berlari-lari kecil aku dan Raffa memasuki loby kantor, pikiranku masih pada mimpi singkatku tadi. Beberapa orang menyapaku, hanya bisa ku balas dengan senyuman dan kata “Hai!”. Tiba di ruanganku dengan terengah-engah kuedarkan pandanganku disekitar ruangan. Sepi. Meetingnya sudah selesai, faktor telat nih huuuuh! Tak sengaja kulihat diatas meja ada sepucuk surat dengan amplop berwarna merah maroon cantik dengan setangkai mawar merah segar. Dengan ragu-ragu kuraih surat itu dan ku baca isinya.
Dear Fahma Anissa, Café La Tanza pukul 12.00 sudah ku pesan tempat. tolong datang ada yang ingin ku bicarakan. -Iqbal-
            Iqbal? Siapa dia pun aku tak tahu. Tersenyum agak geli aku mencium bunga mawar yang juga sudah pasti dari orang bernama Iqbal ini. Bagaimana bisa orang yang tak ku kenal mengirimi surat kedalam kantorku, beserta sepucuk bunga mawar merah segar? Aneh. Raffa bisa tertawa terbahak-bahak nih kalau ku ceritakan tentang ini. Tapi, aku pun penasaran siapa Iqbal ini. Sambil mengulang isi surat tersebut dalam hati Café La Tanza pukul 12.00, Iqbal.


            Agak susah meyakinkan Raffa untuk tidak ikut makan siang diluar karena ada keperluan mendesak dengan salah satu kolega. Sepanjang perjalanan menuju café aku terus-terusan mencoba mengingat-ingat apakah aku pernah punya teman lama bernama Iqbal atau memang tidak. Yasudahlah pikirku, toh sebentar lagi aku akan bertemu dengan orang itu. Masuk kedalam café siang ini agak ramai juga kelihatannya. “Meja atas nama Iqbal nomor berapa ya mbak?” tanyaku kepada salah seorang pelayan café. “Nomor 10 mbak, dekat aquarium dipojok sana” sambil menunjuk kearah pojok café.
            Sampai di meja nomor 10. Sepi. Mungkin belum sampai, pikirku dalam hati. Ku keluarkan laptopku dari tas, sambil menunggu orang bernama Iqbal ini ku habiskan waktu dengan memesan cup ice cream cokelat khas café ini, dan membuka salah satu jaringan social milikku.
            Sekitar 5 menit menunggu akhirnya ku lihat seorang laki-laki berjalan mengarah ketempat dudukku. Dan kini dia telah sampai didepan mejaku, terkejut bukan kepalang! Iqbal ini adalah dosen yang membuatku telat untuk meeting pagi ini. Ku sambut dia dengan senyum simpulku.
            Dalam hati ku berteriak-teriak sendiri. Iqbal itu anda?! Orang itu anda?! Jleb!
“Hei fahma, kita bertemu kembali. Sudah pesan makanan?”
Aku hanya menjawab dengan gelengan kecil. Dia membalas dengan senyuman. Lalu segera memanggil pelayan untuk membawakan daftar makanan.
“Jadi, kenapa kamu mengajakku makan siang disini pak?”
“Hei, jangan panggil dengan sebutan pak dong ini bukan dikampus lho! Lagipula saya dengan kamu hanya berjarak 3 tahun saja. Jadi, panggil saya dengan Iqbal saja ya. Saya ingin mengenal kamu saja, namamu bagus Fahma Anissa. Terdengar indah”
“Oh iya aku coba, cuma aku sedikit bingung. Sepertinya kamu sudah banyak tau tentangku. Dari mulai kantor, surat, bunga, usia? Dan….”
“Hemmm, fahma tolong jangan kamu berfikiran yang macam-macam ya. Saya ingin mengenal kamu lebih dekat saja, saya ingin kamu menjadi teman saya juga”
Selanjutnya kita mulai berbincang-bincang kecil tentang tragedy meeting pagi tadi yang membuatnya meminta maaf atas kejadian tersebut. Kita mulai bercanda-bercanda renyah dan mulai akrab.
Ku perhatikan sejenak orang yang berada dihadapanku ini. Sosok laki-laki dewasa yang tampan dan sholeh. Berpenampilan rapih dan bersih. Dan sosok orang yang humoris dibalik wajah kalem yang dimilikinya. Baru saja beberapa menit mengobrol dengannya sudah seperti teman akrab yang sudah dapat bercanda dan tertawa-tertawa renyah. Aku tersenyum simpul ketika dia meminta pendapatku tentang pembawaan mengajarnya pada saat dikelas. Awal perkenalan yang baik, pikirku dalam hati.


            Setelah hari itu aku dan Iqbal semakin dekat dan terlihat semakin akrab. Suatu hari dia mengajakku ke sebuah kawasan kumuh dipinggiran kota. Dia mengajakku berkenalan dengan seorang ibu separuh baya bernama Rahma. Iqbal mulai bercerita bahwa dia seperti  memiliki keluarga baru ketika berada disini, bermula dari kejadian kecil dipinggiran jalan. Ada seorang preman yang mencoba merampok dirinya, namun dengan bantuan dari anak-anak kawasan kumuh itu preman tersebut enggan merampok dirinya. Lalu, dibawalah dia kesini. Kawasan kumuh tak berbentuk, sampah dan bau amis serta peluh tercium disetiap sudut dari tempat ini. Dan ibu Rahma ini telah seperti ibunya sendiri, Iqbal pun tak dapat menjelaskan mengapa tempat ini seperti memanggilnya untuk pulang setiap kali mengingat ibu Rahma dan beberapa anak kecil yang haus akan kasih sayang.
            Ibu Rahma sosok ibu yang pendiam namun sangat perhatian. Dia tinggal seorang diri di Jakarta namun ia enggan berbagi semua tentang keluarganya. Raut wajah ibu Rahma seperti merasakan kesepian bertahun-tahun lamanya. Aku juga tak mengerti mengapa aku juga merasakan hal yang sama seperti Iqbal rasakan. Aku juga merasa sangat kenal dengan ibu Rahma ini, semuanya. Ya semuanya! Mulai dari senyumnya, tawanya, dan hangat peluknya. Aku jadi berpikir kembali tentang masa lalu, dimana teman-teman sebayaku mengejek-ejekku karena aku tak memiliki seorang ibu. Aku jadi mengingat-ingat ketika aku mulai dewasa dan mulai mencari dimana ibuku dan tak pernah membawaku kearah terang. Selalu saja yang aku dapatkan hanya bayang-bayang dirinya, yang entah ada dimana.


            Semakin lama hubungan antara aku dan Iqbal semakin dekat dan akrab. Entah mengapa aku merasakan kenyamanan ketika sedang berada disisinya. Tak terasa sudah lebih dari enam bulan aku dan Iqbal saling mengenal. Dan ketika semua yang kita berdua jalani selama itu, Iqbal menyampaikan maksud hatinya kepadaku. Dia menjelaskan bagaimana perasaannya sebenarnya kepadaku.
            “Mencari seorang wanita dewasa yang siap menemaniku menjalani sebagian dari sisa hidupku itu sulit ma, aku harus berkali-kali sakit hati dengan pilihanku sendiri. Dan saat melihat kamu, mainsetku sudah bermain lebih sensitif aku takut semua itu terulang kembali. Jadi, ku tutupi perasaanku sesaat untuk mengenalmu lebih dekat. Dan, sekarang kamu telah mengenalku lebih dari satu semester. Kamu sudah dapat melihat dan menilai seperti apa kepribadianku dan bagaimana watakku. Kita sama-sama sudah dewasa, aku tahu banyak tentang bagaimana rasa kecewa. Jadi, kalau kamu keberatan atas tawaranku untuk kita mulai ta’aruf. Aku tak kan melarangmu untuk itu ma, hanya saja kalau kamu sudah memiliki calon pendamping hidup akulah yang paling siap menikahimu. Sekalipun besok kau menintaku untuk menikahimu.”
            Saat itu aku hanya dapat tertunduk malu. Dan ku beranikan diri untuk menatap laki-laki di hadapanku ini, dan mulai tersenyum kearahnya. Detik berikutnya aku kembali tertunduk malu, sambil menyembunyikan senyum. Sedangkan Iqbal tak henti-hentinya mengucap syukur.


            Suatu hari seusai makan siang bersama Raffa, aku melihat kerumunan orang tumpah ruas kanan sebuah jalan. Raffa dan aku turun dari mobil dan bertanya kepada orang yang lewat didekat kerumunan, ternyata ada korban tabrak lari. Dengan segera aku dan Raffa jalan mendekati dan mencoba menerobos kerumunan, saat berada tepat dipinggir terlihat seorang ibu tergeletak diam dengan luka disekujur tubuhnya. Tak terasa cairan bening berjatuhan melihat ibu itu ternyata adalah ibu Rahma, segera kuminta orang-orang disekitar kerumunan untuk membantu menaikan ibu Rahma kedalam mobil. Aku dan Raffa pun langsung bergegas menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan aku menjelaskan bagaimana aku mengenal ibu ini  kepada Raffa yang masih terlihat bingung.
            Dalam bingung aku mengetuk-ngetuk jariku penuh khawatir diatas pintu unit gawat darurat. Tak lama Iqbal datang dengan tergesah-gesah dan aku pun menyambutnya dengan isak. Raffa agak kaget setelah aku menjelaskan hubunganku dengan Iqbal , namun ia sahabat yang baik ia mendoakan apapun yang terbaik untukku. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dan menghampiri aku, Iqbal, dan Raffa. Dokter menjelaskan bahwa ibu Rahma kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor yang pas dengan golongan darah ibu Rahma. “Golongan darah ibu Rahma O, mungkin diantara kalian ada…” . “golongan darah saya O dokter, jadi ambil darah saya saja” potongku.
            Saat itu aku tak tahu bahwa yang aku selamatkan adalah ibuku. Ketika masuk kedalam ruangan mataku basah melihatmu terbaring lesu. Wajahmu menguatkan aku. Saat itu aku masih tak tau kalau yang sedang terbaring adalah ibuku. Saat darahku mengalir didalam ragamu, dan jatuh menjadi penyembuh. Cinta yang membuat aku merasa kaulah ibuku.


Seminggu setelah itu, Raffa menangis dan berlari kearahku. Kampus sudah terlihat sepi sore itu, aku pun sudah bergegas untuk pulang. Raffa masih terisak didalam senyumnya, ia mencoba mengeluarkan kata-kata namun terdengar berat dan sulit. Ku keluarkan air mineral dari dalam tasku dan ku berikan kepadanya, Raffa tersenyum sejenak dan langsung meminumnya. Raffa sudah agak tenang, dan dia pun mulai bercerita.
“ Gue dan Iqbal sudah mengidentifikasi siapa sebenarnya ibu Rahma ma, dan kamu tau apa? Ibu Rahma itu adalah ibu biologismu, dia ibu kandungmu!”.
Degup jantungku mengeras, aku bisa rasakan setiap detaknya. Tak tau mengapa tapi aku merasa senang mendengar berita ini, walaupun aku tak tau pasti ini benar atau tidak.
“Aku mendengar sendiri ibu Rahma menceritakan masa lalunya. Ia seorang anak perempuan yang tumbuh ditengah keluarga yang sibuk, ibu dan ayahnya tak pernah memerhatikan pergaulannya. Hingga pada akhirnya, ia berpacaran dengan salah satu temannya dan bercumbu bersamanya. Dan sampai pada akhirnya ia harus keluar dari rumahnya dan hidup dijalanan sampai dapat melahirkanmu. Ia menjelaskan bahwa ia menitipkan bayinya disebuah perpustakaan dan bayi itu ia beri nama Fahma Anissa”.
Tak terbendung lagi air mataku, aku terisak hebat dan mengucap syukur berkali-kali. Iqbal mengantarkan aku dan Raffa kerumah ibu Rahma, sepanjang perjalanan yang aku pikirkan hanyalah. Mama, entah seberapa lama kita terpisah. Akhirnya aku menemukanmu.
Ketika sampai didepan rumah, ibu Rahma langsung memelukku erat. Air mata pun sudah tak terbendung lagi. Mama, ketika untuk pertama kalinya aku merasa hidup kembali setelah lama mati. Mama, mendekapmu adalah anugerah yang tak pernah ku miliki selama ini. Tak henti-hentinya, aku mengucap syukur. Mama, ketika kita hanyut didalam sujud syukur yang panjang ini tahu kah kau apa yang aku pikirkan? Aku berdo’a, dan meminta kepada Dzat yang maha kuasa agar berikan kita banyak waktu untuk terus seperti ini.
Mama, aku hanya ingin kau tau dan merasakannya juga. Ketika saat itu darahku mengalir didalam ragamu, itu menjadi titik nol sebuah kehidupan untukku. Mama, ketika aku melihatmu tertawa walaupun kala itu aku tak tau kaulah ibuku, aku hanya tersenyum dan berdo’a semoga sosok ibu hadir didalam hidupku. Mama, ketika aku menemukan laki-laki yang ku percaya dan bertanggung jawab untuk bisa menjadi imamku kelak, tau kah kamu apa yang aku pikirkan? Aku ingin mendengar restu darimu ya! Hanya itu. Mama, ketika kini aku menemukanmu, aku bersyukur bisa berada dipelukmu. Aku bersyukur aku masih dapat rasakan cium hangatmu, dan aku bersyukur dapat jalani sisa dari hidupku bersamamu.


“Bunda, you al my eveliting” celoteh seorang anak laki-laki kepadaku. Aku tersenyum dan menghela nafas panjang, sambil mendekap anak laki-laki itu dengan hangat. Tak terasa butiran-butiran bening membasahi pelupuk mataku, melihat anak laki-laki itu bermain bola didekatnya. Memerhatikan kelucuan tingkah lakunya. Iqbal memelukku dari belakang dengan hangat, mencium keningku dan berbisik “Sayang, ketika kamu bertanya kepadaku. Harus seperti orang tua seperti apakah dirimu, aku bangga kamu menemukan pertanyaan seperti itu. Dan jawabanku hanya satu, kamu hanya perlu menjadi seperti ibumu. “
Mama, kini aku mengerti benar bagaimana perasaanmu ketika memutuskan menitipkanku disebuah perpustakaan usang kala itu. Ketika dunia seperti memuntahkanmu dari perut bumi. Mama, kini aku mengerti bagaimana rasa sakitmu ketika memutuskan untuk menitipkanku kala itu. Mama, kau berikan aku pelajaran yang paling berharga tentang bagaimana menjadi perempuan yang kuat. Dan mama, mungkin kini sudah waktuku untuk menjadi seorang ibu. Terima kasih mama, bagaimana kau bertahan itu menjadi titik nol untukku memulai kehidupan.

Aku Jadi Pandumu



Aku Jadi Pandumu

Pemuda! Katakan dan beri aku bukti
Ku lihat kau lesu hampir mati dalam kehausan
Ku dengar kau tak lagi berjaya seperti saat merdeka ditanganmu
Ku rasa kau telah kehilangan suntikan semangat dari Soekarno, Hatta, dan bung Tomo
Pemuda! Jadikan aku acuan dalam bertindak
Jadikan aku disiplin waktu dalam berjalan

Aku merasa kehilangan kau wahai pemuda!
Kau bilang kau jadi panduku selamanya
Kau bilang darahmu mengalir pada sendi-sendiku
Dan tulangmu seputih jiwaku wahai pemuda!

Pemuda! Aku rindu semangat juangmu di era 45
Enggankah dirimu menghormati ku dan tunjukan
Bahwa Pramuka masih ada!
Bahwa tunas-tunas penerus bangsa akan terus tumbuh
Bahwa aku akan selalu menjadi pandumu wahai nusantara!

Aku identitas bangsa!
Aku akan terus ada jika kau meneruskan langkahku
Langkah-langkah sejuta perhitungan!
Dari setiap detik  yang tersisa pada hembus nafas yang ada
Wahai pemuda! Kaulah orangnya
Ku tunggu bakti kau untuk Negara
Maka jadikanlah aku acuanmu dalam bertindak

Pemuda! Aku rindu rasa nasionalismemu yang tinggi
Jadi biarlah tunas-tunas itu terus tumbuh
Biarlah kami yang terus menjadi pandu ibu pertiwi
Jika kau sambung langkah-langkah kami
Jika kau mengerti dari maksud-maksud kami
Dan aku akan terus menjadi pandumu
Wahai ibu pertiwi!

Kategori Pramuka Penegak/Pandega

I’m Proud to be Scout


I’m Proud to be Scout

Ketika ayah memaksaku masuk kedalam organisasi kepramukaan pada saat aku duduk dibangku sekolah menengah pertama dulu, aku tak pernah tahu itulah awal dari semua cita-citaku. Itulah awal dimana aku lahir dan besar serta dirintis sebagai seorang pemimpin. Ketika sebuah keputusan berat dari sebuah paksaan ayah kepada anaknya, yang kini ku akui sebagai anugerah besar dalam hidupku.
Ku lihat cermin menggambarkan diriku. Gagah, dibalut dengan seragam cokelat lengkap dengan kacu dan baret. Ku busungkan dadaku seakan siap berperang. Ku perhatikan setiap lekuk dari kacu yang melingkar kokoh dileherku. Dalam hati aku berbisik I’m proud to be scout. Dan waktu membiarkanku kembali pada masa lalu, masa dimana aku sebagai seorang Penggalang yang tangguh. Dengan semua keterbatasan teknik kepramukaan yang tak aku miliki.
Saat itu aku hanya seorang siswa sekolah dasar yang telah duduk dibangku sekolah menengah pertama. Namaku Fajar Pradana, tak banyak yang aku ketahui tentang organisasi kepramukaan. Bahkan aku tak pernah tahu bahwa ayah menyelipkan sejuta arti dari namaku itu. Sejuta harapan laksana aku seorang pemimpin kelak. Aku tak pernah ingin seperti ayah, ayahku seorang polisi berpangkat tinggi. Ia dingin, keras, dan yah berwibawa mungkin. Ayah selalu menginginkan aku untuk bisa menjadi seperti dirinya, walaupun hingga kini aku tak pernah ingin menjadi seorang polisi namun, aku telah menentukan sendiri seperti apa jalanku.
Aku anak pertama dari dua orang bersaudara, adikku terpaut satu tahun usianya dibawahku. Ayah mendidik kami seperti mendidik seorang prajurit. Ketika kami salah ayah tak segan menegur dengan keras atau mencubit kami, atau ketika kami terlelap tidur ayah selalu berada disamping kami untuk sekedar meninabobokan kami. Ia selalu bisa menempatkan kami pada situasinya. “Dimana kamu harus didik keras, dan dimana kamu butuh suntikan kasih sayang ayah” ujarnya.
Suatu hari ketika berakhir masa orientasi siswa, aku pulang dan bercerita kepada ibu bahwa aku bingung ingin masuk ekstrakurikuler apa. Aku suka mendesign sesuatu namun tak ada ekstrakurikuler senada dengan skillku. Ibu memberi masukan bahwa bagaimana kalau aku menyaksikan dulu demo ektrakurikuler yang akan di selenggarakan keesokan harinya. Aku hanya bisa mengangguk kecil dan menungu datangnya fajar esok pagi.
Keesokan harinya, aku telah siap berangkat ke sekolah. Dengan tatapan bingung aku melihat ibu meletakkan baju pramuka lengkap dengan kacunya dipinggir kasurku, aku bertanya dengan polosnya “Kok baju pramuka sih bu? Bukannya baju olahraga ya?”. Ibu menjawab dengan menunjukan surat edaran yang didalamnya bertuliskan seragam lengkap pada masa orientasi siswa. Dengan setengah hati ku pakai seragam itu. Ku lihat cermin dan berkata dengan lesu “Aku mirip ayah kalau pakai seragam ini”. Ibu hanya tertawa kecil dan merapihkan sedikit kacu yang aku kenakan. Ibu menaikkan daguku sehingga aku menatap lurus kearah cermin, Ia memakaikan baret cokelat ke kepalaku. Ibu menatap gambar diriku dicermin dan berkata “Kamu gagah dengan seragam ini nak” ujarnya, sambil menepuk bahuku dan tersenyum.
Ketika sampai disekolah demo ekstrakurikuler telah dimulai. Ku edarkan pendanganku ke seluruh penjuru sekolah. Cokelat, hanya itu yang terlihat. Seorang teman mendekat memperkenalkan dirinya “I Ketut Pratama” sambil menyodorkan tangannya, aku tersenyum dan menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku. Ia bertanya kepadaku mengenai ekstrakurikuler apa yang akan aku pilih nanti, ku jelaskan padanya bahwa aku belum memiliki pilihan. Ketika sedang asyik mengobrol dengannya tiba-tiba terdengar suara teriakan aba-aba dari tengah lapangan disusul dengan suara hentakan tongkat yang diadu. Ketut dengan excited menarik tanganku dan berteriak “Mereka menampilkan koloni tongkat! Kita harus lihat!”. Aku hanya mengikuti setiap langkahnya dari belakang dan menerobos kerumunan hingga sampailah aku dan Ketut dibarisan paling depan dipinggir lapangan.
“Pasukan pramuka mereka juara bertahan pada lomba LKBBT tingkat ranting, jar! Ku dengar anggotanya banyak yang sudah menjadi Pramuka Garuda tingkat penggalang! Keren bukan. Aku akan bergabung dengan mereka, jar”. Ujarnya dengan mantap sambil menatap ke arah pasukan bertongkat ditengah lapangan itu.
Usai parade demo ekstrakurikuler diadakan pengrekrutan anggota pada ekstrakurikuler wajib yakni Pramuka, Paskibra, PMR, dan Rohis. Seleksi berdasarkan sikap, dan keaktifan peserta MOS pada masa orientasi siswa kemarin. Dan alangkah terkejutnya aku ketika namaku muncul dalam barisan anggota Pramuka disusul dengan nama Ketut. Ketut menepuk bahuku, dan berkata “Selamat datang penggalang Fajar Pradana, berbanggalah kamu dapat bergabung”. Aku tersenyum kecut dan berjanji didalam hati “Aku akan keluar dari ekstrakurikuler ini”. Namun, kini aku tahu ketika aku masuk kedalam organisasi itu aku tak mungkin untuk keluar. Kini jiwaku miliknya, ragaku miliknya, dan ku biarkan diriku tetap menjadi pandunya. “Selamat datang adik-adik peserta didik yang baru saja masuk menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 25 Bekasi dan sekaligus keluarga besar dari Pramuka kami” ujar kak Sugeng dari depan kelas. Ketika berada ditengah-tengah mereka aku merasa seperti sedang bersama ayah, dimana aku harus menempatkan diriku dan sikapku ketika sedang berbicara kepada kakak-kakak senior dan bagaimana aku bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman baru yang ku lihat memiliki kemampuan sangat luar biasa pada organisasi ini. Namun kini aku mengerti, sikap yang Pramuka ajarkan kepada setiap peserta didiknya adalah menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Dan begitulah cara mereka untuk memperhatikan rasa toleransi terhadap sesama temannya atau mungkin orang yang lebih tua darinya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari sabtu pun datang lagi. Saat itu aku ingat benar aku pura-pura sakit dan tak mau berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler. Pada minggu berikutnya pun begitu, mungkin ayah telah mencium akal licikku. Ayah mengajakku bicara dan aku hanya bisa tertunduk diam mendengar semua keinginan ayah terhadapku.
“Saat ayah tahu kamu terpilih menjadi anggota Pramuka disekolah barumu, ayah senang sekali mendengarnya mas! Disana kamu akan tahu bagaimana caranya berorganisasi. Kamu ndak perlu takut kamu tidak bisa mengembangkan bakat mendesignmu, Pramuka satu-satunya wadah berkembangnya semua organisasi. Kalau PMR bisa membuat tandu? Pramuka bisa lebih dari sekedar membuat tandu. Kalau Paskibra bisa punya skill PBB yang bagus, percayalah Pramuka juga bisa lebih jago dari mereka. Ayah tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu mas! Cobalah dulu dan nikmatilah, pendidikan karakter yang sesungguhnya hanya ada di Pramuka. Dan ayah ingin, anak ayah manjadi cikal pemimpin yang tangguh”. Ujarnya. Saat itu aku hanya diam dan terlelap dalam pandanganku kearah jari-jari kakiku yang sedang mencoba meremas-remas karpet yang berada dibawahnya. Dan mencoba mengikhlaskan dan berpikir bahwa, mungkin inilah jalanku.
Matahari pagi menyambut sabtu berikutnya. Saat itu aku telah siap berangkat ke sekolah, ya! Tentu saja kali ini aku telah berhasil memakai kacuku dengan benar dan cukup rapi. Hari itu akan diadakan seleksi ulang anggota Pramuka yang sudah terekrut sebelumnya. Entah mengapa hari itu aku sangat bersemangat, ayah memperhatikan setiap langkah kecilku menyusuri anak tangga dengan senyum. Sungguh tak seperti biasanya beliau seperti itu.
Saat-saat mengayuh sepeda menuju ke sekolah entah mengapa aku merasa gagah sekali memakai seragam Pramuka itu. Setiba di sekolah aku disambut hangat oleh Ketut dan juga teman-teman yang lainnya, mereka menjabat tanganku seakan mereka melihat bahwa aku sudah siap berperang bersama mereka. Saat bel dibunyikan kak Sugeng dari kejauhan memberikan kode bahwa kami akan melaksanakan apel sebelum kegiatan dimulai. Saat itu darahku seakan ikut bersemangat dan aku mulai mempunyai tekad untuk terus seperti ini.
“Seleksi anggota Pramuka yang akan adik-adik laksanakan sangatlah mudah. So, enjoy your exam ya penggalang!”. Ujarnya dalam amanat singkat. Ya, seleksi yang kami ikuti hanya permainan ketangkasan dan daya ingat serta ada satu lagi yang membuat menarik dari kegiatan seleksi anggota ini ketika peserta didik dikumpulkan kembali kedalam ruangan dan mulailah kakak-kakak senior memberikan secarik kertas bertuliskan “Apa cita-citamu dan apa ambisimu untuk mewujudkannya?”. Aku tersenyum dan saat itu aku tak sadar telah lebih dulu mengukir masa depanku. Tahukah kalian apa yang aku tuliskan dalam kertas itu? Kutuliskan dua kata dengan sejuta arti “Designer logo dan aku punya mimpi untuk mewujudkannya”. Dan ketika aku dinyatakan sebagai anggota Pramuka sejak itu aku berjanji, akanku buktikan ambisiku itu. Masih teringat benar ketika bendera merah-putih ku pegang dengan erat dan ku taruh di dadaku, dan ku ucap ulang Tri Satya. Aku mulai mengerti mengapa ayah menginginkan aku masuk kedalam organisasi ini.
Minggu-minggu berikutnya aku mulai menyesuaikan diri dengan kakak-kakak senior yang senang membagi ceritanya kepadaku. Aku mulai memperlajari teknik kepramukaan dan juga leadership. Dan disanalah aku tahu, ayah telah menyelipkan sejuta arti dari namaku Fajar Pradana. Ayah ingin aku menjadi seperti pemimpin pasukan dikala fajar, yang dengan gagahnya berperang. Minggu-minggu selanjutnya aku mulai tumbuh menjadi seorang Pratama, aku mulai benar-benar dicoba untuk menjadi pemimpin ketika diusung menjadi ketua Dewan Penggalang, dan puncak dari semua perjuanganku adalah ketika aku telah menjadi seorang Penggalang Terap dan aku memenangkan lomba mendesign pada Jamboree On The Air (JOTA) dan Jamboree On The Internet (JOTI) mengalahkan 20.000 orang yang mengikutinya dan mendapatkan juara ke-2. Saat itu aku sangat bangga, ayah benar. Pramuka wadah semua organisasi yang pernah ada, dan akulah buktinya.
Sulit melepaskan gugus depanku yang lama dan merelakan namaku sebagai seorang Pratama, aku dan Ketut melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kami benar-benar telah tumbuh sebagai seorang pemimpin, Ketut telah menjadi Ketua Dewan Saka Bhayangkara. Dan aku telah bergabung dengan Saka Bahari dan akan dilantik sebagai Dewan Kerja Daerah. Dan puncak dari masa-masa indah kami bersama Pramuka diakhiri dengan perjuangan kami sebagai peserta didik tingkatan paling akhir, seorang Pandega. Aku dan Ketut menempuh perjuangan yang cukup sulit untuk bisa menjadi seorang Pramuka Garuda tingkat Pandega. Dan ketika aku meraihnya, aku teriak didalam hati “I’M PROUD TO BE SCOUT”.

Kategori Pramuka Penegak/Pandega

Monday, 20 August 2012

My Scout Team Work, SATYA WIRA WICAKSANA :)

kami adalah satu, satu hatinya dan satu jiwanya. SATYAKU KU DHARMAKAN DHARMAKU KU BHAKTIKAN.
AMBALAN SATYA WIRA WICAKSANA
GUGUS DEPAN 07.335-07.336 SMKN 48 Jakarta

(Pelantikan Bantara 2012)


 (Adinda Trieas Maya A.P; LAKSANA 2012)



 (Kak Abdi's Birthday)



 (LAKSANA 2012)



 (SAKA BHAYANGKARA 
KWARTIR CABANG JAKARTA TIMUR - TIBMAS LT V NASIONAL 2012)



 (Hunting Beadge Kwartir Daerah peserta LT V)




 (GIRL SCOUT OF SATYA WIRA WICAKSANA)



 (LAKSANA DAN BANTARA 2012)
 


 (SIMULASI GULTOR - 
DEMO MOS EKSKUL PRAMUKA 2012 DI SMKN 48 JKT)


Sunday, 15 July 2012

Nana, Pelangi itu Ada Dimatamu


Nana, pelangi itu ada dimatamu
Ketika kita membuka mata disaat fajar menyembul di pagi hari
Ketika ku dengar suara senandung lagu terdengar dari kejauhan
Ku nikmati setiap lantunan syairnya
Ku nikmati setiap melodi yang dimainkannya
Ku nikmati setiap waktu bergulir disampingnya
Lembut, nyaman, dan indah..

Nana, ketika kau mulai lelah dan berhenti memainkan setiap syair yang keluar dari bibirmu itu
Kami tahu kami merasa kehilangan
Seperti telaga nan dangkal
Seperti hutan tak berpenghuni
Seperti lautan tanpa karang
Seperti aku tanpa nafas dalam ragaku

Nana, filosofi kehidupan masalaluku hanyalah kamu
Tangis dan tawa masa depanku jugalah kamu
Hitam dan putih roda kehidupanku cumalah kamu

Nana, kau lebih dari sekedar diary usang didalam ransel hijau tua pemberian ayahku
Nana, kau lebih dari tempatku berbagi
Kau lebih dari sekedar rona merah jambu yang terlukis dipipiku saat itu
Kau lebih dari pelangi yang terpatri jelas dimatamu

Nana, biarkan aku menjadi bagian dari perjalananmu
Hujam aku dengan seribu mata pisaumu
dan masukkan aku kedalam setiap lembar cerita didalam hatimu
nana, kau labih dari sekedar mata pisau yang menghujam setiap detikku

kau, diary berjalan
kau setia menemani setiap alunan langkahku
kau temani setiap hembus nafasku
kau titik ukur setiap perjalananku

dan ketika aku dan kamu sampai diakhir perjalanan
katahuilah nana, aku merindumu