Sunday, 16 December 2012

I’m Proud to be Scout


I’m Proud to be Scout

Ketika ayah memaksaku masuk kedalam organisasi kepramukaan pada saat aku duduk dibangku sekolah menengah pertama dulu, aku tak pernah tahu itulah awal dari semua cita-citaku. Itulah awal dimana aku lahir dan besar serta dirintis sebagai seorang pemimpin. Ketika sebuah keputusan berat dari sebuah paksaan ayah kepada anaknya, yang kini ku akui sebagai anugerah besar dalam hidupku.
Ku lihat cermin menggambarkan diriku. Gagah, dibalut dengan seragam cokelat lengkap dengan kacu dan baret. Ku busungkan dadaku seakan siap berperang. Ku perhatikan setiap lekuk dari kacu yang melingkar kokoh dileherku. Dalam hati aku berbisik I’m proud to be scout. Dan waktu membiarkanku kembali pada masa lalu, masa dimana aku sebagai seorang Penggalang yang tangguh. Dengan semua keterbatasan teknik kepramukaan yang tak aku miliki.
Saat itu aku hanya seorang siswa sekolah dasar yang telah duduk dibangku sekolah menengah pertama. Namaku Fajar Pradana, tak banyak yang aku ketahui tentang organisasi kepramukaan. Bahkan aku tak pernah tahu bahwa ayah menyelipkan sejuta arti dari namaku itu. Sejuta harapan laksana aku seorang pemimpin kelak. Aku tak pernah ingin seperti ayah, ayahku seorang polisi berpangkat tinggi. Ia dingin, keras, dan yah berwibawa mungkin. Ayah selalu menginginkan aku untuk bisa menjadi seperti dirinya, walaupun hingga kini aku tak pernah ingin menjadi seorang polisi namun, aku telah menentukan sendiri seperti apa jalanku.
Aku anak pertama dari dua orang bersaudara, adikku terpaut satu tahun usianya dibawahku. Ayah mendidik kami seperti mendidik seorang prajurit. Ketika kami salah ayah tak segan menegur dengan keras atau mencubit kami, atau ketika kami terlelap tidur ayah selalu berada disamping kami untuk sekedar meninabobokan kami. Ia selalu bisa menempatkan kami pada situasinya. “Dimana kamu harus didik keras, dan dimana kamu butuh suntikan kasih sayang ayah” ujarnya.
Suatu hari ketika berakhir masa orientasi siswa, aku pulang dan bercerita kepada ibu bahwa aku bingung ingin masuk ekstrakurikuler apa. Aku suka mendesign sesuatu namun tak ada ekstrakurikuler senada dengan skillku. Ibu memberi masukan bahwa bagaimana kalau aku menyaksikan dulu demo ektrakurikuler yang akan di selenggarakan keesokan harinya. Aku hanya bisa mengangguk kecil dan menungu datangnya fajar esok pagi.
Keesokan harinya, aku telah siap berangkat ke sekolah. Dengan tatapan bingung aku melihat ibu meletakkan baju pramuka lengkap dengan kacunya dipinggir kasurku, aku bertanya dengan polosnya “Kok baju pramuka sih bu? Bukannya baju olahraga ya?”. Ibu menjawab dengan menunjukan surat edaran yang didalamnya bertuliskan seragam lengkap pada masa orientasi siswa. Dengan setengah hati ku pakai seragam itu. Ku lihat cermin dan berkata dengan lesu “Aku mirip ayah kalau pakai seragam ini”. Ibu hanya tertawa kecil dan merapihkan sedikit kacu yang aku kenakan. Ibu menaikkan daguku sehingga aku menatap lurus kearah cermin, Ia memakaikan baret cokelat ke kepalaku. Ibu menatap gambar diriku dicermin dan berkata “Kamu gagah dengan seragam ini nak” ujarnya, sambil menepuk bahuku dan tersenyum.
Ketika sampai disekolah demo ekstrakurikuler telah dimulai. Ku edarkan pendanganku ke seluruh penjuru sekolah. Cokelat, hanya itu yang terlihat. Seorang teman mendekat memperkenalkan dirinya “I Ketut Pratama” sambil menyodorkan tangannya, aku tersenyum dan menjabat tangannya dan memperkenalkan diriku. Ia bertanya kepadaku mengenai ekstrakurikuler apa yang akan aku pilih nanti, ku jelaskan padanya bahwa aku belum memiliki pilihan. Ketika sedang asyik mengobrol dengannya tiba-tiba terdengar suara teriakan aba-aba dari tengah lapangan disusul dengan suara hentakan tongkat yang diadu. Ketut dengan excited menarik tanganku dan berteriak “Mereka menampilkan koloni tongkat! Kita harus lihat!”. Aku hanya mengikuti setiap langkahnya dari belakang dan menerobos kerumunan hingga sampailah aku dan Ketut dibarisan paling depan dipinggir lapangan.
“Pasukan pramuka mereka juara bertahan pada lomba LKBBT tingkat ranting, jar! Ku dengar anggotanya banyak yang sudah menjadi Pramuka Garuda tingkat penggalang! Keren bukan. Aku akan bergabung dengan mereka, jar”. Ujarnya dengan mantap sambil menatap ke arah pasukan bertongkat ditengah lapangan itu.
Usai parade demo ekstrakurikuler diadakan pengrekrutan anggota pada ekstrakurikuler wajib yakni Pramuka, Paskibra, PMR, dan Rohis. Seleksi berdasarkan sikap, dan keaktifan peserta MOS pada masa orientasi siswa kemarin. Dan alangkah terkejutnya aku ketika namaku muncul dalam barisan anggota Pramuka disusul dengan nama Ketut. Ketut menepuk bahuku, dan berkata “Selamat datang penggalang Fajar Pradana, berbanggalah kamu dapat bergabung”. Aku tersenyum kecut dan berjanji didalam hati “Aku akan keluar dari ekstrakurikuler ini”. Namun, kini aku tahu ketika aku masuk kedalam organisasi itu aku tak mungkin untuk keluar. Kini jiwaku miliknya, ragaku miliknya, dan ku biarkan diriku tetap menjadi pandunya. “Selamat datang adik-adik peserta didik yang baru saja masuk menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 25 Bekasi dan sekaligus keluarga besar dari Pramuka kami” ujar kak Sugeng dari depan kelas. Ketika berada ditengah-tengah mereka aku merasa seperti sedang bersama ayah, dimana aku harus menempatkan diriku dan sikapku ketika sedang berbicara kepada kakak-kakak senior dan bagaimana aku bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman baru yang ku lihat memiliki kemampuan sangat luar biasa pada organisasi ini. Namun kini aku mengerti, sikap yang Pramuka ajarkan kepada setiap peserta didiknya adalah menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Dan begitulah cara mereka untuk memperhatikan rasa toleransi terhadap sesama temannya atau mungkin orang yang lebih tua darinya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari sabtu pun datang lagi. Saat itu aku ingat benar aku pura-pura sakit dan tak mau berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler. Pada minggu berikutnya pun begitu, mungkin ayah telah mencium akal licikku. Ayah mengajakku bicara dan aku hanya bisa tertunduk diam mendengar semua keinginan ayah terhadapku.
“Saat ayah tahu kamu terpilih menjadi anggota Pramuka disekolah barumu, ayah senang sekali mendengarnya mas! Disana kamu akan tahu bagaimana caranya berorganisasi. Kamu ndak perlu takut kamu tidak bisa mengembangkan bakat mendesignmu, Pramuka satu-satunya wadah berkembangnya semua organisasi. Kalau PMR bisa membuat tandu? Pramuka bisa lebih dari sekedar membuat tandu. Kalau Paskibra bisa punya skill PBB yang bagus, percayalah Pramuka juga bisa lebih jago dari mereka. Ayah tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu mas! Cobalah dulu dan nikmatilah, pendidikan karakter yang sesungguhnya hanya ada di Pramuka. Dan ayah ingin, anak ayah manjadi cikal pemimpin yang tangguh”. Ujarnya. Saat itu aku hanya diam dan terlelap dalam pandanganku kearah jari-jari kakiku yang sedang mencoba meremas-remas karpet yang berada dibawahnya. Dan mencoba mengikhlaskan dan berpikir bahwa, mungkin inilah jalanku.
Matahari pagi menyambut sabtu berikutnya. Saat itu aku telah siap berangkat ke sekolah, ya! Tentu saja kali ini aku telah berhasil memakai kacuku dengan benar dan cukup rapi. Hari itu akan diadakan seleksi ulang anggota Pramuka yang sudah terekrut sebelumnya. Entah mengapa hari itu aku sangat bersemangat, ayah memperhatikan setiap langkah kecilku menyusuri anak tangga dengan senyum. Sungguh tak seperti biasanya beliau seperti itu.
Saat-saat mengayuh sepeda menuju ke sekolah entah mengapa aku merasa gagah sekali memakai seragam Pramuka itu. Setiba di sekolah aku disambut hangat oleh Ketut dan juga teman-teman yang lainnya, mereka menjabat tanganku seakan mereka melihat bahwa aku sudah siap berperang bersama mereka. Saat bel dibunyikan kak Sugeng dari kejauhan memberikan kode bahwa kami akan melaksanakan apel sebelum kegiatan dimulai. Saat itu darahku seakan ikut bersemangat dan aku mulai mempunyai tekad untuk terus seperti ini.
“Seleksi anggota Pramuka yang akan adik-adik laksanakan sangatlah mudah. So, enjoy your exam ya penggalang!”. Ujarnya dalam amanat singkat. Ya, seleksi yang kami ikuti hanya permainan ketangkasan dan daya ingat serta ada satu lagi yang membuat menarik dari kegiatan seleksi anggota ini ketika peserta didik dikumpulkan kembali kedalam ruangan dan mulailah kakak-kakak senior memberikan secarik kertas bertuliskan “Apa cita-citamu dan apa ambisimu untuk mewujudkannya?”. Aku tersenyum dan saat itu aku tak sadar telah lebih dulu mengukir masa depanku. Tahukah kalian apa yang aku tuliskan dalam kertas itu? Kutuliskan dua kata dengan sejuta arti “Designer logo dan aku punya mimpi untuk mewujudkannya”. Dan ketika aku dinyatakan sebagai anggota Pramuka sejak itu aku berjanji, akanku buktikan ambisiku itu. Masih teringat benar ketika bendera merah-putih ku pegang dengan erat dan ku taruh di dadaku, dan ku ucap ulang Tri Satya. Aku mulai mengerti mengapa ayah menginginkan aku masuk kedalam organisasi ini.
Minggu-minggu berikutnya aku mulai menyesuaikan diri dengan kakak-kakak senior yang senang membagi ceritanya kepadaku. Aku mulai memperlajari teknik kepramukaan dan juga leadership. Dan disanalah aku tahu, ayah telah menyelipkan sejuta arti dari namaku Fajar Pradana. Ayah ingin aku menjadi seperti pemimpin pasukan dikala fajar, yang dengan gagahnya berperang. Minggu-minggu selanjutnya aku mulai tumbuh menjadi seorang Pratama, aku mulai benar-benar dicoba untuk menjadi pemimpin ketika diusung menjadi ketua Dewan Penggalang, dan puncak dari semua perjuanganku adalah ketika aku telah menjadi seorang Penggalang Terap dan aku memenangkan lomba mendesign pada Jamboree On The Air (JOTA) dan Jamboree On The Internet (JOTI) mengalahkan 20.000 orang yang mengikutinya dan mendapatkan juara ke-2. Saat itu aku sangat bangga, ayah benar. Pramuka wadah semua organisasi yang pernah ada, dan akulah buktinya.
Sulit melepaskan gugus depanku yang lama dan merelakan namaku sebagai seorang Pratama, aku dan Ketut melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kami benar-benar telah tumbuh sebagai seorang pemimpin, Ketut telah menjadi Ketua Dewan Saka Bhayangkara. Dan aku telah bergabung dengan Saka Bahari dan akan dilantik sebagai Dewan Kerja Daerah. Dan puncak dari masa-masa indah kami bersama Pramuka diakhiri dengan perjuangan kami sebagai peserta didik tingkatan paling akhir, seorang Pandega. Aku dan Ketut menempuh perjuangan yang cukup sulit untuk bisa menjadi seorang Pramuka Garuda tingkat Pandega. Dan ketika aku meraihnya, aku teriak didalam hati “I’M PROUD TO BE SCOUT”.

Kategori Pramuka Penegak/Pandega

No comments:

Post a Comment