I’m Proud to be Scout
Ketika
ayah memaksaku masuk kedalam organisasi kepramukaan pada saat aku duduk
dibangku sekolah menengah pertama dulu, aku tak pernah tahu itulah awal dari
semua cita-citaku. Itulah awal dimana aku lahir dan besar serta dirintis sebagai
seorang pemimpin. Ketika sebuah keputusan berat dari sebuah paksaan ayah kepada
anaknya, yang kini ku akui sebagai anugerah besar dalam hidupku.
Ku
lihat cermin menggambarkan diriku. Gagah, dibalut dengan seragam cokelat
lengkap dengan kacu dan baret. Ku busungkan dadaku seakan siap berperang. Ku
perhatikan setiap lekuk dari kacu yang melingkar kokoh dileherku. Dalam hati
aku berbisik I’m proud to be scout.
Dan waktu membiarkanku kembali pada masa lalu, masa dimana aku sebagai seorang
Penggalang yang tangguh. Dengan semua keterbatasan teknik kepramukaan yang tak
aku miliki.
Saat
itu aku hanya seorang siswa sekolah dasar yang telah duduk dibangku sekolah
menengah pertama. Namaku Fajar Pradana, tak banyak yang aku ketahui tentang
organisasi kepramukaan. Bahkan aku tak pernah tahu bahwa ayah menyelipkan
sejuta arti dari namaku itu. Sejuta harapan laksana aku seorang pemimpin kelak.
Aku tak pernah ingin seperti ayah, ayahku seorang polisi berpangkat tinggi. Ia
dingin, keras, dan yah berwibawa mungkin.
Ayah selalu menginginkan aku untuk bisa menjadi seperti dirinya, walaupun
hingga kini aku tak pernah ingin menjadi seorang polisi namun, aku telah
menentukan sendiri seperti apa jalanku.
Aku
anak pertama dari dua orang bersaudara, adikku terpaut satu tahun usianya
dibawahku. Ayah mendidik kami seperti mendidik seorang prajurit. Ketika kami
salah ayah tak segan menegur dengan keras atau mencubit kami, atau ketika kami
terlelap tidur ayah selalu berada disamping kami untuk sekedar meninabobokan
kami. Ia selalu bisa menempatkan kami pada situasinya. “Dimana kamu harus didik keras, dan dimana kamu butuh suntikan kasih
sayang ayah” ujarnya.
Suatu
hari ketika berakhir masa orientasi siswa, aku pulang dan bercerita kepada ibu
bahwa aku bingung ingin masuk ekstrakurikuler apa. Aku suka mendesign sesuatu
namun tak ada ekstrakurikuler senada dengan skillku.
Ibu memberi masukan bahwa bagaimana kalau aku menyaksikan dulu demo
ektrakurikuler yang akan di selenggarakan keesokan harinya. Aku hanya bisa
mengangguk kecil dan menungu datangnya fajar esok pagi.
Keesokan
harinya, aku telah siap berangkat ke sekolah. Dengan tatapan bingung aku
melihat ibu meletakkan baju pramuka lengkap dengan kacunya dipinggir kasurku,
aku bertanya dengan polosnya “Kok baju pramuka sih bu? Bukannya baju olahraga
ya?”. Ibu menjawab dengan menunjukan surat edaran yang didalamnya bertuliskan
seragam lengkap pada masa orientasi siswa. Dengan setengah hati ku pakai
seragam itu. Ku lihat cermin dan berkata dengan lesu “Aku mirip ayah kalau
pakai seragam ini”. Ibu hanya tertawa kecil dan merapihkan sedikit kacu yang
aku kenakan. Ibu menaikkan daguku sehingga aku menatap lurus kearah cermin, Ia
memakaikan baret cokelat ke kepalaku. Ibu menatap gambar diriku dicermin dan
berkata “Kamu gagah dengan seragam ini nak” ujarnya, sambil menepuk bahuku dan
tersenyum.
Ketika
sampai disekolah demo ekstrakurikuler telah dimulai. Ku edarkan pendanganku ke
seluruh penjuru sekolah. Cokelat,
hanya itu yang terlihat. Seorang teman mendekat memperkenalkan dirinya “I Ketut
Pratama” sambil menyodorkan tangannya, aku tersenyum dan menjabat tangannya dan
memperkenalkan diriku. Ia bertanya kepadaku mengenai ekstrakurikuler apa yang
akan aku pilih nanti, ku jelaskan padanya bahwa aku belum memiliki pilihan.
Ketika sedang asyik mengobrol dengannya tiba-tiba terdengar suara teriakan
aba-aba dari tengah lapangan disusul dengan suara hentakan tongkat yang diadu.
Ketut dengan excited menarik tanganku
dan berteriak “Mereka menampilkan koloni tongkat! Kita harus lihat!”. Aku hanya
mengikuti setiap langkahnya dari belakang dan menerobos kerumunan hingga
sampailah aku dan Ketut dibarisan paling depan dipinggir lapangan.
“Pasukan
pramuka mereka juara bertahan pada lomba LKBBT tingkat ranting, jar! Ku dengar
anggotanya banyak yang sudah menjadi Pramuka Garuda tingkat penggalang! Keren bukan. Aku akan bergabung dengan
mereka, jar”. Ujarnya dengan mantap sambil menatap ke arah pasukan bertongkat
ditengah lapangan itu.
Usai
parade demo ekstrakurikuler diadakan pengrekrutan anggota pada ekstrakurikuler
wajib yakni Pramuka, Paskibra, PMR, dan Rohis. Seleksi berdasarkan sikap, dan
keaktifan peserta MOS pada masa orientasi siswa kemarin. Dan alangkah
terkejutnya aku ketika namaku muncul dalam barisan anggota Pramuka disusul
dengan nama Ketut. Ketut menepuk bahuku, dan berkata “Selamat datang penggalang
Fajar Pradana, berbanggalah kamu dapat bergabung”. Aku tersenyum kecut dan berjanji
didalam hati “Aku akan keluar dari ekstrakurikuler
ini”. Namun, kini aku tahu ketika aku masuk kedalam organisasi itu aku tak
mungkin untuk keluar. Kini jiwaku miliknya, ragaku miliknya, dan ku biarkan
diriku tetap menjadi pandunya. “Selamat datang adik-adik peserta didik yang
baru saja masuk menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 25 Bekasi dan sekaligus
keluarga besar dari Pramuka kami” ujar kak Sugeng dari depan kelas. Ketika
berada ditengah-tengah mereka aku merasa seperti sedang bersama ayah, dimana
aku harus menempatkan diriku dan sikapku ketika sedang berbicara kepada
kakak-kakak senior dan bagaimana aku bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman
baru yang ku lihat memiliki kemampuan sangat luar biasa pada organisasi ini. Namun
kini aku mengerti, sikap yang Pramuka ajarkan kepada setiap peserta didiknya
adalah menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Dan begitulah cara mereka
untuk memperhatikan rasa toleransi terhadap sesama temannya atau mungkin orang
yang lebih tua darinya.
Waktu
berlalu begitu cepat, hari sabtu pun datang lagi. Saat itu aku ingat benar aku
pura-pura sakit dan tak mau berangkat ke sekolah untuk mengikuti
ekstrakurikuler. Pada minggu berikutnya pun begitu, mungkin ayah telah mencium
akal licikku. Ayah mengajakku bicara dan aku hanya bisa tertunduk diam
mendengar semua keinginan ayah terhadapku.
“Saat
ayah tahu kamu terpilih menjadi anggota Pramuka disekolah barumu, ayah senang
sekali mendengarnya mas! Disana kamu akan tahu bagaimana caranya berorganisasi.
Kamu ndak perlu takut kamu tidak bisa
mengembangkan bakat mendesignmu, Pramuka satu-satunya wadah berkembangnya semua
organisasi. Kalau PMR bisa membuat tandu? Pramuka bisa lebih dari sekedar
membuat tandu. Kalau Paskibra bisa punya skill PBB yang bagus, percayalah
Pramuka juga bisa lebih jago dari
mereka. Ayah tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu mas! Cobalah dulu dan nikmatilah, pendidikan karakter
yang sesungguhnya hanya ada di Pramuka. Dan ayah ingin, anak ayah manjadi cikal
pemimpin yang tangguh”. Ujarnya. Saat itu aku hanya diam dan terlelap dalam
pandanganku kearah jari-jari kakiku yang sedang mencoba meremas-remas karpet
yang berada dibawahnya. Dan mencoba mengikhlaskan dan berpikir bahwa, mungkin
inilah jalanku.
Matahari
pagi menyambut sabtu berikutnya. Saat itu aku telah siap berangkat ke sekolah, ya! Tentu saja kali ini aku telah
berhasil memakai kacuku dengan benar dan cukup rapi. Hari itu akan diadakan
seleksi ulang anggota Pramuka yang sudah terekrut sebelumnya. Entah mengapa
hari itu aku sangat bersemangat, ayah memperhatikan setiap langkah kecilku
menyusuri anak tangga dengan senyum. Sungguh tak seperti biasanya beliau
seperti itu.
Saat-saat
mengayuh sepeda menuju ke sekolah entah mengapa aku merasa gagah sekali memakai
seragam Pramuka itu. Setiba di sekolah aku disambut hangat oleh Ketut dan juga
teman-teman yang lainnya, mereka menjabat tanganku seakan mereka melihat bahwa
aku sudah siap berperang bersama mereka. Saat bel dibunyikan kak Sugeng dari
kejauhan memberikan kode bahwa kami akan melaksanakan apel sebelum kegiatan
dimulai. Saat itu darahku seakan ikut bersemangat dan aku mulai mempunyai tekad
untuk terus seperti ini.
“Seleksi
anggota Pramuka yang akan adik-adik laksanakan sangatlah mudah. So, enjoy your exam ya penggalang!”.
Ujarnya dalam amanat singkat. Ya, seleksi yang kami ikuti hanya permainan
ketangkasan dan daya ingat serta ada satu lagi yang membuat menarik dari
kegiatan seleksi anggota ini ketika peserta didik dikumpulkan kembali kedalam
ruangan dan mulailah kakak-kakak senior memberikan secarik kertas bertuliskan “Apa cita-citamu dan apa ambisimu untuk
mewujudkannya?”. Aku tersenyum dan saat itu aku tak sadar telah lebih dulu
mengukir masa depanku. Tahukah kalian apa yang aku tuliskan dalam kertas itu?
Kutuliskan dua kata dengan sejuta arti “Designer
logo dan aku punya mimpi untuk mewujudkannya”. Dan ketika aku dinyatakan
sebagai anggota Pramuka sejak itu aku berjanji, akanku buktikan ambisiku itu.
Masih teringat benar ketika bendera merah-putih ku pegang dengan erat dan ku
taruh di dadaku, dan ku ucap ulang Tri Satya. Aku mulai mengerti mengapa ayah
menginginkan aku masuk kedalam organisasi ini.
Minggu-minggu
berikutnya aku mulai menyesuaikan diri dengan kakak-kakak senior yang senang
membagi ceritanya kepadaku. Aku mulai memperlajari teknik kepramukaan dan juga leadership. Dan disanalah aku tahu, ayah
telah menyelipkan sejuta arti dari namaku Fajar Pradana. Ayah ingin aku menjadi
seperti pemimpin pasukan dikala fajar, yang dengan gagahnya berperang.
Minggu-minggu selanjutnya aku mulai tumbuh menjadi seorang Pratama, aku mulai
benar-benar dicoba untuk menjadi pemimpin ketika diusung menjadi ketua Dewan Penggalang, dan puncak dari semua
perjuanganku adalah ketika aku telah menjadi seorang Penggalang Terap dan aku
memenangkan lomba mendesign pada Jamboree On The Air (JOTA) dan Jamboree
On The Internet (JOTI) mengalahkan 20.000 orang yang mengikutinya dan
mendapatkan juara ke-2. Saat itu aku sangat bangga, ayah benar. Pramuka wadah
semua organisasi yang pernah ada, dan akulah buktinya.
Sulit
melepaskan gugus depanku yang lama dan merelakan namaku sebagai seorang
Pratama, aku dan Ketut melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kami
benar-benar telah tumbuh sebagai seorang pemimpin, Ketut telah menjadi Ketua Dewan
Saka Bhayangkara. Dan aku telah bergabung dengan Saka Bahari dan akan dilantik
sebagai Dewan Kerja Daerah. Dan puncak dari masa-masa indah kami bersama
Pramuka diakhiri dengan perjuangan kami sebagai peserta didik tingkatan paling
akhir, seorang Pandega. Aku dan Ketut menempuh perjuangan yang cukup sulit
untuk bisa menjadi seorang Pramuka Garuda tingkat Pandega. Dan ketika aku
meraihnya, aku teriak didalam hati “I’M
PROUD TO BE SCOUT”.
Kategori Pramuka Penegak/Pandega
No comments:
Post a Comment