Biru
Betapa lama aku tertidur dalam hujaman waktu. Malam ini aku terbangun dalam ruang hampa tanpa oksigen,seolah-olah waktu mempermainkanku. Aku hadir dalam dunia yang baru kukenal, dunia yang dulu sempat singgah dihidupku. Cinta dan harapanku telah kembali utuh, dia kembali untukku (benarkah?!) saat ini. Apa aku masih tertidur pulas dalam beberapa waktu? Tidak! Aku sudah benar-benar bangun sekarang.
Memory masa awalnya putih abu-abu menekan keatas hingga akhirnya mengingatkanku kembali. Dimana aku tenggelam dalam kebodohan itu, arrrrrgh! Syukurlah kini dia benar-benar kembali. Dia yang dulu menjadi semangatku, dia yang bisa buat aku tersenyum disegala kesempatan. Dia yang menanam luka, hingga harusku membohongi perasaanku selama ini, dia yang membuatku belajar untuk bisa lebih bersabar.
Masih teringat jelas mama menanyakanmu, kabarmu, ibumu. Aku hanya bisa tersenyum kala itu. Sayang, itu jauuuuuh sebelum saat ini. Jauh sebelum aku dewasa, jauh sebelum aku benar-benar menjadi orang. Dimana dulu aku selalu ada disaat kamu jatuh, dihari bahagiamu, menjagamu kala sakit, dimana aku ingin menjadi sesuatu untukmu. Tapi, semua hanya sementara aku hanya selingan, dan tak pernah jadi sesuatu dimatamu.
Aku bukan lagi perempuan yang cengeng yang pernah dia kenal, bukan lagi perempuan yang bisa gampang percaya dengan orang lain, dan aku bukan lagi sosok yang peka dengan perasaan orang lain semua ini karena aku berkaca dengan apa yang dulu pernah terjadi. Sakit yang pernah aku rasa, sakit yang berkelanjutan itu semata-mata cuma kebodohan seorang remaja yang baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama yang akan menginjaki bangku SMA. Sudah lima tahun semua berlalu, aku tumbuh sebagai wanita dewasa pada umumnya, aku menata kembali hidupku yang lama terengkuh waktu.
“Saya Fahma Dwi Rakhmi, ingin mempresentasikan hasil riset yang telah saya lakukan pada saat pertukaran mahasiswi di Oxford University lima bulan yang lalu….”
Aku mahasiswi merangkap seorang penulis novel, aku bukan seorang perempuan yang mementingkan kuantitas tapi lebih kepada kwalitas. Dan aku bukan seseorang yang cantik,putih da sexy hehe bahkan aku seorang perempuan yang cokelat, gemuk, dan semampai hanya itu. Tapi, tak mengurangi rasa syukurku kapada-Nya.
Seusai kuliah, kusempatkan hari itu untuk mendownload beberapa referensiku untuk menulis, dan untuk sedikit berselancar didunia maya. Kubuka salah satu akun jaringan sosialku. Kulihat dilayar laptop ada sebuah pesan disana, kubuka kotak pesan. Ternyata dari kawan-kawan lamaku di Sekolah Menengah Pertama dulu yang turut mengundangku pada acara reuni akbar Gold Realition angkatan 2000-2010. Sambilku reply pesan itu, fikiranku melayang jauh bersama pesan itu. Di tahun 2010.
“Besok simulasi UN yang kedua arrrgh!” Teriak Putri teman SMPku dulu.
“lalalala telen aja dah bulet-bulet hehe,” ujarku.
Dibulan itu benar-benar bulan yang panjaaaaaaaaaaaaang banget rasanya. Tryout sana-sinilah, simulasi Ujian Nasional lah, ngomongin acara pelepasan, buku tahunanlah, bermalam-malaman ditempat bimbel semua itu jenis kerja kerasnya siswa-siswi kelas 9 SMP yang lagi pusing-pusingnya hehe. Eh ane malah pengen bisa deket sama si dia pas banget hari dimana simulasi UN kedua. Deket deh hehe, jadian deh hahaha dasar bocah. Semua terlewati begitu aja, semuanya. Ujian Nasional udah berakhir, Ujian Sekolah juga udah selesai, Ujian Praktek apalagi, Ujian Teori, Ujian Essay, Ujian Blok,Ujian Batin, Ujian Fisik, Ujian dari segala ujian deh pokoke.
Liburan panjang nunggu hasil dari kerja keras yang udah diusahain se-usaha-usahanya hehe. Seneng banget liburan bisa sama-sama orang yang kita sayang, bisa kenal sama keluarganya. Tapi, liburan juga sibuk untuk nyiapin buat masuk SMA.
Tiba-tiba aku terbangun dari khayalan ditahun 2010 itu, dua buah pesan terlihat kembali dari layar laptopku yang pertama balasan dari teman-teman SMPku dan yang satu dari dia. Menanyakan bagaimana kabarku saat ini, aku kembali terbang terhisap waktu. Mengulang kembali lembaran-lembaran waktu yang pernah ada.
Semua yang gak ingin terjadi malah terjadi, semua itu. Andai bisa ku ulang dan ku hapus bagian-bagian tertentu mungkin (arrrgh!) tak kan seperti ini jadinya. Hingga sampai dihari itu tepat beberapa minggu aku menginjaki bangku SMA. Dia berubah sikap, dingin, dan aneh.
“Andai bisa gue ulang waktu, gue cuma mau hapus dibagian-bagian tertentu dalam lima bulan itu! Bahkan gue gak akan memulai ini semua kalau cuma untuk lima bulan. Gak mau ada yang kecewa selain gue.” isak menyelimuti hari itu. Kesal, bingung, marah, tangis bercampur jadi satu hari itu. Bingung mau teriak sama siapa, walaupun aku tau itu haknya dia. Tapi, aku lebih tau banyak. Masih banyak yang dia sembunyiin dari aku.
Sejak hari itu, ya sejak hari itu semua kembali dari Nol. Semua kembali kutata sedemikian rupa untuk menyembunyikan rasa kecewaku ini. Kesimpulan demi kesimpulan berteriak-teriak, bertalu-talu dibenakku, siapapun yang dapat mendengarnya akan pecah gendang telinganya.
“Alhamdulillah, saya baik. Mas sendiri gimana kabarnya? Ibu apa kabar mas?” ku balas pesannya dengan singkat.
Tak lama kemudian ku lihat dilayar laptop ada sebuah pesan balasan darinya.
“Alhamdulillah, mas dan keluarga baik. oh iya kamu ganti nomer ya?”
Sebelum aku membalasnnya, ada sebuah pesan muncul dilayar. Pesan susulan darinya.
“Minta dong boleh tak?” tanyanya.
“085691938228” Kubalas pesan darinya, beberapa detik kemudian aku segera sign out dari akun jaringan sosial itu sementara pesan balasan darinya tak kubuka.
Kunikmati beberapa menit untuk mendengarkan hiburan diradio telepon genggamku, kudengar potongan lagu Music Of My heart dari N’SYNC. Lagu yang dulu selalu mengingatkanku pada sesuatu yang sampai hari ini ada dalam diriku.
you taught me to run…
you taught me to fly…
help me to free the me inside…
help me hear the music of my heart…
help me hear the music of my heart….
Pagi menjelang. Seruan sang pencipta membahana diseluruh sentero bumi untuk selalu mengingat-Nya. Sujud kala subuh itu terasa panjang dan dalam, diakhir shalat kusisipkan do’aku untuk dia dan keluarganya hal yang selalu ku lakukan disetiap akhir shalatku. Dalam hati kubertanya. Bagaimana kabar ibunya? Sudah lama sekali tak pernah main kerumahnya, aku kangen sama ibu, semoga ibu sehat wal’afiat. Amin..
Yang selalu kuingat dari ibunya adalah kata-katanya ini jangan putuskan tali silaturahminya ya Fahma, kamu jadi adik perempuannya masnya aja ya.. dengan logat jawanya yang halus. Aku sayang dengan keluarganya.
Hari ini aku ndak ada jadwal kuliah, jadi yah dirumah aja. Palingan yah bisa ngejar deadline nulis dan posting-posting tulisan pendek diweb. Sejak SMA aku terbiasa untuk selalu dirumah kalau sedang libur. Soalnya waktu, tenaga, fisik sudah seharian terpakai setiap hari disekolah. Jadi, setiap weekend jangan heran aku pasti ndak mau diajak kemana-mana apalagi yang ndak penting tujuannya hehe ,ada pengecualian kalau lagi mood yah paling mampir ke Book Store hunting buku. Suara ping terdengar dari handphoneku,sebuah pesan masuk dari nomer tak kukenal. Kubuka pesan itu dan kubaca.
“Assalamu’alaikum, benar ini nomernya Fahma?”
“wa’alaikumusallam, ya benar siapa ini?” seketika jariku beradu dengan keypad membalas pesan tersebut.
“Alhamdulillah, ini aku Gilang. Ingat?”
Gilang. Hatiku mengucap ulang nama itu, ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Yang seakan menari-nari didalam sana.
“Ya, akh pasti aku ingat” kubalas pesan darinya dengan salah tingkah.
“Aku kira sudah tak ingat lagi, sudah lupa tetutup dengan ilmu-ilmu yang kian menggunung yang ada dikepalamu saat ini setiba pulang dari Oxford University hehe, afwan ukhti aku bercanda.”
“Huuu bisa saja hehe” Kubalas pesannya. Ada yang aneh dengan hatiku,aku seperti berharap dia telah berubah seiring dengan kembalinya dia.
Kutinggalkan handphoneku didalam kamar, aku bergegas turun dari kamarku menuju ruang makan. Entah mengapa ada yang aneh dengan hatiku saat ini, aku seperti kembali hidup setelah lama mati. Aku seakan baru merasakan kembali apa itu rasa paling norak yang biasanya ABG rasakan. Seraya ku berdo’a semoga ini tidak berlebihan, semoga hatiku tidak berlebihan. Karena sampai kiamat pun setan akan tetap mengganggu umat nabi Adam a.s lebih dekat dari urat leher.
Kembali aku membenamkan diri didalam kamar, kulihat tiga pesan bertengger dilayar handphoneku. Kulihat dua pesan dari Gilang, dan yang satu dari Raffa. Kubuka pesan dari Raffa, dia menanyakanku apa aku ada dirumah. Setelahku balas pesan dari Raffa, kubaca pesan dari Gilang.
“Ada waktu ketemu malam ini, ukhti?”
“Ndak ada jawaban, ndak mau ya?” Sebelumku balas ,aku membaca satu pesan lagi darinya.
“Ada waktu, tapi harus malam ya?” Kubalas pesannya dengan semangat 45.
Tak lama pesan darinya muncul, “Okay ,jam 4 sore ditempat biasa ya. Gimana?”
“Boleh, okay jam 4 sore disana” Kusudahi berbalasan pesan dengannya, fikiranku kembali menggali masalalu ,tentang tempat makan itu. Masanya dia dan aku.
Kukenakan pakaian berwarna merah di padu dengan rok panjang berwarna hitam, dan jilbab panjang berwarna putih. Sungguh anggunku didepan kaca, maha besar Allah dzat yang maha pencipta yang paling baik. Kuniatkan ini hanya untuk melepas rindu dan untuk mempererat tali silaturahmi, hanya itu tanpa ada maksud dan tujuan yang lainnya. Aku segera meminta diantarkan ketempat itu oleh Pak Wan.
Setibanya disana, kuedarkan mataku keseluruh pelosok tempat makan itu. Sungguh tak ada yang berubah semua hampir sama seperti dulu tidak ada yang berubah yang ada hanya tambahan meja dan kursi dimana-mana, seketika butiran bening membasahi pelupuk mataku. Ya rabbi kuatkanlah aku…
Tak lama aku merasa melihat dia dan yap itu memang dia, seluruh hawa dan waktu seakan menekanku. Seakan-akan panas sekali, aku dan dia terlihat berkeringat. kecuali aku yang terlihat biasa saja karena mengenakan jilbab. Obrolan-obrolan ringan dia edarkan kepadaku, pertanyaan demi pertanyaan ku lontarkan untuknya. Seperti teman biasa, ya memang teman biasa.
“Tempat ini nggak ada yang berubah ya? Persis sama seperti terakhir kita kesini dulu, iya kan?” Tiba-tiba dia menanyakan hal ini kepadaku.
“Ya, sudah lama sekali tidak pernah kesini. Mas, aku.. hmm.. gak jadi deh hehe”
“Loh kok nggak jadi? Kebiasaan jelek dari dulu ndak berubah-berubah ,bikin orang penasaran aja hehe” candanya.
“ih gitu, hehe ndak kok aku kangen sama ibu kapan-kapan aku boleh main kerumah kan? Sekalian nengokin ibu, sudah lama banget ndak kerumah kamu.”
“Kangennya sama ibu aja ya, Fahma?”
“hehe.. iya dong masa kangen sama kamu mas”
Ceees! Ada sesuatu yang jatuh dihatiku, Sesuatu yang tak pernah sebelumnya. Ah! ini hal yang biasa, namanya juga sudah lama tak bertemu. Ini hal yang manusiawi dan wajar kok, fikirku matang.
Dulu aku pernah bilang sama Raffa dan Aulia, kalau sebelum aku pergi untuk pertukaran mahasiswi selama itu pun aku tak pernah bertemu dengannya. Terakhir aku bertemu dengannya hanya pada saat acara pensi diSMAku dulu, itupun aku selalu menghindari melihat matanya. Itu terakhir kalinya aku melihat dia, dan sekarang rasa rinduku terbayar sudah. Tapi, entah mengapa aku tetap takut dan malu untuk meneggakkan kepalaku saat bertemu dengannya. Apa yang sebenarnya salah? Aku selalu takut untuk memulai kisah cinta yang sudah kutinggal di 2010 lalu.
“Oh, ayolah Fahma… terus sampai kapan kamu masih ingin begini?!” pertanyaan Tyan sahabat lamaku dibangku SMA.
Aku nggak pernah tau kapan ini akan berakhir, aku nggak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain. Oh! ini benar-benar terlalu bodoh memang, tapi harus seperti apa lagi? Phobia. Aku nggak pengen pacaran lagi, yan! Cukup, dia yang terakhir.
Aku sanggup untuk bisa melihat dia dengan orang lain, sama seperti dulu dia bersama sahabatku itu. Hanya saja yang kini berbeda, aku melihat dia dari segi seseorang yang pernah ada disisinya. Sakit memang sakit, aku merasa sudah terbiasa untuk menyimpan rasa ini untuknya. Sampai suatu saat dia akan mengerti, siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdo’a semoga..
Dia tak jauh berbeda, aku tak lagi mengenal pribadinya. Apakah dia kembali untukku? Atau hanya sesuatu untuk mempermainkanku seperti dulu? Istighfarku dalam hati, aku gak boleh su’udzan dengannya. Dia mulai dewasa. Kulihat dia mulai berpakaian dengan rapih. 25 tahun sudah usianya, lima tahun diatas diriku. Sementara waktu yang kini seakan mempermainkanku, hampir saja aku lupa akan waktu yang menunjukkan pukul 17.30 saat itu.
“Astaghfirullah, ini sudah sore sekali. Hmmm… mau pulang.. gak kenapa-kenapa kan?”
“Yasudah ,aku antar ya boleh kan?” Tanyanya.
“Syukran akh, baik sekali.” Jawabku sekenanya.
Hilir waktu seakan-akan diperlambat jalannya. Masih kuingat jelas dia mengantarku pulang, masih kuingat malam dimana dia bercanda, tertawa bersamaku dibawah ratusan bintang. Bahkan masih sangat kuingat bagaimana dia menghancurkan rasa percayaku, ketika aku tahu masih banyak yang belum dia katakan dengan jujur. Aku tak pernah berharap lebih, hanya saja perasaan ini yang selalu ingin memperhatikannya. Setan benar-benar jelas ada diantara kita.
Sejak hari itu, kami mulai saling mencoba mengenal lagi satu dengan lain. Mencoba untuk lebih menghargai lagi. Tanpa suatu rasa yang paling norak yang biasanya ABG rasakan.
“Minggu besok aku harus kembali ke Amrik, untuk mengurus sisa waktu pertukaran mahasiswiku disana. Yah, sekitar satu semester setelah kita liburan baru aku bisa pulang kembali.” ujarku kepada Raffa dan Aulia.
“Yah ,ambrong! Kamu kan baru pulang Ma, masa mau balik lagi sih. Lia mau minta diajarkan presentasi Hitung Dagang menggunakan bahasa yang formal dalam bahasa Inggris tuh.” jawab Raffa kesal.
“Aku minta maaf sekali, mungkin kalian masih kangen sama aku hehe soal Lia, masih bisa kok say! kan aku masih satu minggu lagi disini” Jawabku menenangkan mereka.
“Baiklah, sisa satu minggu disini ya. Fa, kita nginep dirumah Fahma aja gimana?”
“Boleh boleh”
Raffa dan Aulia, sahabatku sejak dibangku SMP dulu. Merekalah yang tahu semua kejadian yang sedang menimpa diriku. Mereka lebih tau aku lebih dari teman-teman biasaku. Mereka juga yang selalu ada saat aku sedang merasa benar-benar butuh mereka. Mereka yang ,yah mereka yang sangat tahu apa yang terjadi padaku 2010 yang lalu itu. Mereka sahabat yang benar-benar sahabat. Kita selalu berbagi saat situasi apapun, dan tak ada saling mengkhianati seperti memakan bangkai saudara sendiri. Hanya mereka saksi betapa rapuhnya remaja berumur 15 tahun kala itu, mereka yang sangat tahu lima bulan yang aku lewati bersama Gilang itu. Hanya mereka sahabat yang benar-benar sahabat.
Senja sore terlihat sangat manis tergantung dilangit, berpadu seribu satu warna terlukis. Indah nian pemandangan ini, malam terakhirku disini. Untuk esokku kembali menimba ilmu dinegeri orang. Beberapa kali kulihat jam, dan melihat keluar dari balkon kamarku. Mencari-cari Aulia dan Raffa. Pergi kemana mereka? Selalu saja membuat orang khawatir. Aku mencoba menghubungi kedua telepon genggamnya tapi tak ada jawaban sama sekali. Sungguh klasik, paling beli ice cream pikirku.
Setengah jam kemudian mereka datang, ya! Benar saja mereka pulang membawa satu kantong besar beisikan macam-macam makanan kecil. Mereka memang paling tahu.
“Eh, lama banget deh belanja aja. Bosen tau.” Kesalku.
“Hehe maaf ya sayangkuh kita ada keperluan sedikit diluar.” Ujar Aulia.
Keperluan? Ah yasudah tak perlu diributkan. Mungkin memang keperluan mendesak pikirku.
Diluar sana, dikediaman Gilang. Ada seorang laki-laki yang sedang bingung harus berbuat apa setelah ada dua orang perempuan menemuinya beberapa saat yang lalu.
kamu nggak pernah tau, seperti apa yang dirasakan Fahma bertahun-tahun Lang. Melihat kamu berdua dengan orang lain, ya memang dia tau itu hakmu. Tapi, dia berharap kalau kau benar-benar akan kembali untuknya. kamu tau? Sampai hari ini kamu masih menjadi semangatnya, dia selalu bicara kenapa sih harus fisik yang dilihat. Kenapa kamu gak pernah lihat orang yang selama ini ada saat kamu jatuh, kamu nggak pernah lihat orang yang berusaha untuk bisa berbaur dengan keluargamu. Bahkan dia mengejar pertukaran mahasiswi itu karna dia pikir dengan berada lebih jauh dengan kamu,dia akan jauh lebih cepat bisa melupakanmu seutuhnya!
dia gak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain lang, dia bahkan gak pernah jalan dengan satu orang laki-laki pun kecuali hanya teman biasa. Dia memang bukan seorang yang punya kecantikan fisik. Tapi, masih ada yang bisa dibanggain dari dia. Kejar dia kalau kamu kembali memang untuk dia. Dan pergi yang jauh jangan pernah hubungi dia, kalau memang kau kembali untuk rasa sakitnya.
Suara-suara Raffa dan Aulia seperti mengiang dikepalanya, seperti menekannya dan membuatnya merasa takut kehilangan.
Subuh menjelang, langit masih gelap segelap apa yang sedang aku rasakan sekarang. Ada sesuatu yang melarangku untuk pergi. Tapi, apa? Sejuk udara pagi semakin menusuk diubun-ubun. Shalat subuh dengan sujud yang panjang dan dalam dihari ini membuat kegelisahan sirna dalam hatiku. Kusisipkan jutaan do’a untuk orang-orang yang aku sayangi. Untuk ibunda yang sampai detik ini setia menemaniku, kedua kakakku yang selalu membantu moriil maupun materiil, Raffa dan Aulia yang siap dengan rasa perduli terhadapku, dan Dia serta keluarganya yang selalu membuatku menitikkan air mata setiap kali mengingatnya. Akankah semua yang dia katakan itu benar-benar akan terjadi? Benarkah dia akan selalu ada disaat aku butuhkan? Atau ,benarkah suatu saat ada saatnya aku dan dia kembali? Jutaan tanda tanya berpalung dibenakku.
Hari ini aku kembali ke negeri orang untuk melanjutkan study yang tersisa disana, entah mengapa hari ini berat sekali meninggalkan tanah air. Berbeda dengan semester yang lalu aku pergi tanpa beban. Apa mungkin karena pertemuanku dengannya itu? Mungkin. Ya, mungkin. Kulangkahkan kaki menuju anak tangga pesawat. Selama beberapa detik kumenoleh kebelakang mengedarkan pandangan keseluruh penjuru Bandar udara. Entah apa yang kucari, sesuatu yang tertinggal di tanah air.
Pesawat pun meninggalkan landasan pacu sekarang, entah apa yang masih kucari perasaanku tertinggal ditanah air bersama dia yang kusayangi. Benakku ingin aku terus melihat keluar sampai yang terlihat hanya putihnya awan menutupi jendela. Ada apa dengan ku? Apa yang akan terjadi, apa pun itu tak kan menggoyahkan niatku berburu ilmu dinegeri paman sam tersebut.
Sementara jauh dibandar udara, Gilang terengah-engah mengejar dirinya. “Semoga masih bisa ku kejar dia dilain kesempatan..”
Empat tahun kemudian..
Aku benar-benar telah tumbuh menjadi dewasa, aku bahkan sudah lupa untuk pulang ke tanah air tercinta. Setelah pertukaran mahasiswiku berakhir pada setengah semester setelah keberangkatanku. Aku mengurus mutasi kepindahanku untuk benar-benar melanjutkan studyku dinegeri paman Sam ini. Dan setelah kelulusanku hingga aku dapat menyisipkan gelar diawal namaku itu, aku bekerja menjadi wartawan VOA dan penyiar radio local disana. Pikiranku melayang jauh ke tanah air, tidakkah mereka merinduku? Pertanyaan yang cukup bodoh, Raffa dan Aulia hampir dua hari sekali memintaku pulang secepatnya hehe. Bukan, bukan mereka yang sedang aku bicarakan. Tapi, Gilang. Apa dia tidak merinduku? Oh! Ini baru pertanyaan yang konyol. Mungkin dia sudah menikah dengan orang lain jauh ditanah air sana. Itu artinya semua yang dia bilang itu bohong kan? Dia bahkan tak pernah mencoba atau melihatku sebagai sesuatu untuknya. Aku semakin tak ingin pulang.
Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik tirai tipis dilantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari sore menggantung condong kebarat berbentuk piring putih susu.
Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh dengan pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di ibukota Amerika Serikat, The Capitol and The Mall, tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan hehe. Posisi kantorku hanya selemparan batu dari di The Capitol, beberapa belas menit naik mobil ke kantor George Bush di Gedung Putih, kantor Colin Powell di Departement of state, markas FBI dan Pentagon. Lokasi impian banyak wartawan.
Kamera, digital recorder ,dan tiket aku benamkan ke ransel hijau zamrud ku. Tanganku segera bergerak melipat layar Apple PowerBook-ku yang berwarna perak. Bunyi ping.. halus dari messenger menghentikan tanganku. Layar berbahan titanium kembali aku kuakkan. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip diujung kanan monitor. Dari seorang bernama “Gilang”
“maaf, ini fahma dari Indonesia?”
Jariku cepat menekan tuts.
“betul, ini mas gilang? indonesy?”
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi.
“ya, Alhamdulillah sudah lama sekali tak ku dengar kabarmu. Bagaimana kabar disana?”
Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Jariku menari ligat di keyboard.
“Alhamdulillah aku baik mas hehe. mas sendiri?”
“Alhamdulillah baik juga, aku lihat namamu jadi panelis di London minggu depan. Aku juga akan datang mewakili Indonesia disana, kita bisa bertemu disana. kamu bisa jadi guide ke Trafalgar square seperti yang ada di buku yang dulu kamu kasih tahu ke aku. Bagaimana?”
Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.
Desember.
Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas. Dua air mancur besar memancarkan air tinggi ke udara dan mengirim tempias dinginnya ke wajahku. Square ini dikelilingi museum berpilar tinggi ,gedung opera, dan kantor-kantor berdinding kelabu. Yang kuingat National Gallery yang tepat berhadapan dengan square ini mempunyai koleksi kelas dunia seperti The Virgin of the rocks karya Leonardo Da Vinci, Sunflowers karya Van Gogh dan The Water-Lily Pond karya Monet. Hebatnya, semua ini bisa dilihat dengan gratis.
Tak lama kulihat dari kejauhan seorang laki-laki mendekat, dari jauh terlihat jelas dan tak pernah berubah rambutnya yang tak pernah rapih itu. Dipadu dengan jaket tebal berwarna cokelat. Dia tak pernah berubah, setelah sekian lama tak bertemu masih dapat ku kenali cara dia berpakaian meskipun dari jauh.
“Assalamu’alaikum Fahma, adiknya mas Gilang yang pasti makin pintar saja sekarang hehe” candanya.
“Wa’alaikumusallam mas Gilang yang jelek dan gak pernah rapi hehe sudah lama sekali ndak bertemu. Aku kangen sekali rasanya.” Manjaku.
“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya dik. Dihari keberangkatanmu empat tahun yang lalu aku mencoba mengejarmu ternyata terlambat. Pesawat sudah meninggalkan landasan pacu saat itu. Aku merasa sangat bersalah.”
“Ada apa ini mas, kenapa tiba-tiba..” belum selesaiku bertanya dia memotong kata-kataku.
“ya, aku merasa sangat bersalah sudah menyia-nyiakanmu. aku nggak pernah tau kalau semua itu benar-benar menjadi phobia untukmu. bahkan kamu nggak pernah untuk bisa memulai dengan siapapun sejak itu. bodohnya aku.”
“Kalaupun kita ndak ditakdirkan bersama. yah memang itu yang Allah mau kan, mas? Aku nggak pernah bisa karna aku yang nggak mau.”
“aku bukan lagi seorang yang cengeng, seperti dulu kamu kenal sama aku mas, aku bukan perempuan yang selalu nangis setiap ingat apa yang udah kamu lakukan ke aku. hanya saja aku ingin menemukan semuanya dalam bentuk yang nyata. karna bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfiir.”
“jauh sudah mas, semua itu jauh dibelakang kita. Sembilan tahun sudah aku coba untuk sendiri. Tapi, aku bisa kan? Bahkan aku tumbuh menjadi seorang yang bisa dibanggakan keluarga. Itu nggak terlepas dari peran kamu. Kamu selalu jadi semangat buat aku. Bahkan sampai dengan hari ini. Dan itu semua hak aku.”
“aku bisa ikhlas kalau memang Allah tidak menginginkan apa yang aku inginkan.” Jawabku panjang-lebar.
Aku bangun disepertiga malam terakhir ,kubasuh wajahku dengan air wudhu. Kumulai shalat malamku dengan khusyuk dan dalam. Kudengar detak jantungku seperti bisa ku dengar detak jam kala itu. Ku berdo’a untuk apa yang kuinginkan, aku serahkan apapun yang terbaik untukku kepada-Nya. Bila ia inginkan aku kembali dengannya. Maka aku akan kembali.
Pertengahan February ku putuskan untuk pulang ke tanah air. Akanku tebus rasa rinduku kepada ibunda. Memohon ampun dan belas kasihannya. Sesampainya di Bandar Udara aku dijemput oleh Raffa dan Aulia. Kucurahkan semua yang terjadi di Trafalgar Square Desember lalu. Benarkah dia akan kembali kepadaku? Tanda tanya masih menyelimuti hatiku.
Masih ingatkah dia apa yang telah dia lakukan kapadaku? Bukan itu. Tapi masih ingatkah dia semua yang sudah terlewati itu? Lima bulan itu, tempat makan itu, rumah sakit itu, liburan, semua dan semuanya! Aku gak pernah jadi sesuatu dimatanya. Bahkan apa yang sudah aku dan dia lewati nyatanya hanya hal yang fiktif yang pernah ada. Aku nggak ngerti seperti apa harusnya aku bersikap. Yang aku tahu Allah menjabah do’aku bahwa aku tak ingin bertemu dengannya sebelum aku bisa buktikan sesuatu.
Apa dia bisa merasakan seperti apa aku selama Sembilan tahun menunggu? Bahkan asa pun tak ragu mengekangku.
February.
Biru telah kurasakan saat ini,semua kembali sediakala. Allah telah memperlihatkan kekuasaannya. Maha Suci Allah tuhan seluruh alam dan isinya.
Hari bahagiaku bersama dia. Kurasakan kembali, rasa paling norak yang biasa ABG rasakan. Aku ingat 2010 dimana remaja berumur 15 tahun bersama dia yang jauh lima tahun diatasnya. Sekarang dia datang utuh untukku. Dia tak pernah bohong, bahwa ada saatnya dimana aku bisa bersamanya lagi. Aku merasakan cinta mulai tumbuh seusai akad nikah, inilah yang aku inginkan. Maha Besar Allah yang maha mendengar segala asaku.
Ribuan malam akanku lewati bersamanya. Hanya dengannya, mendendangkan alunan syair puisi cinta seperti di pinggir sungai nil. Mengarungi satu lautan dengan satu perahu. Dan untuk melahirkan generasi-generasi titipan-Nya yang sangat indah.
Kudendangkan potongan lagu Dalam Mihrab Cinta, sebelumku memulai ibadah ku malam ini bersamanya, menyempurnakan sebagaian agamaku. Sungguh Allah maha mendengar dan maha pengabul.
suatu saat ku kan kembali sungguh sebelum aku mati dalam mihrab cintaku berdoa semoga
suatu hari kau kan mengerti siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdoa padanya…
Bekasi, 18 Maret 2011
NB: karena bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfikir.
No comments:
Post a Comment