Empat Penjuru Mata Angin
Udara menyesak menenggelamkan suara-suara memekik. Diam seribu bahasa dan sepi dalam kesunyian yang nyata. Awan bergerak perlahan namun pasti, seolah tak mau mengganggu ketenangan dalam misteri. Dedaunan melambai dengan indahnya menghadirkan sejuta tanda Tanya yang tak pernah berhenti bergulir.
Akulah pembisik dalam diri manusia agar mereka enggan menuruti perintah dari penguasa alam semesta. Akulah yang menghadirkan alternatif-alternatif pikiran yang dapat merusak hubungan keluarga. Akulah penyebar kebingungan di semua pelosok bumi. Dan akulah yang selalu mengusik mimpi manusia menjadi terror menakutkan yang akan selalu menghantui mereka. Aku, sang penguasa empat penjuru mata angin yang setiap saat mencari mangsa untuk menjerumuskan sang khalifah dalam kesesatan abadi di neraka.
Aku terbang menyusuri lorong-lorong tak berdimensi. Empat tugas baruku telah menanti di gerbang kerajaan empat penjuru angin. Dengan sekali hitungan, aku bisa menerima dan menyimpannya dalam otakku. Sebuah sinyal mulai berkedip mengirimku ke target satu per satu.
Penjuru satu
Subuh itu begitu dingin membeku. Desiran angin berhembus dengan lembut membuat nyenyak setiap insan yang terlelap oleh khayalan mimpi-mimpi. Pada saat aku disibukkan bekerja menyampaikan pesan-pesan menggiurkan untuk meninabobokan mereka, ada seorang remaja bergerak dari tidurnnya dan berusaha bangkit dari mimpi indah yang kuhembuskan. Aku mencoba menghentikan gerakkannya dan meracuni remaja itu agar kembali tidur menikmati mimpi. Usahaku lumayan berhasil. Dia berbaring kembali dan berada antara alam sadar dan mimpi. Bisikan suara-suara sumbangku segera beraksi.
“Azan baru berkumandang, matahari masih terbenam di ufuk timur. Sudahlah…lebih baik kau tidur dan lanjutkan mimpi indahmu.”
“Itu bukanlah alasan yang tepat untuk menghindari subuh. Lagi pula salat adalah kewajiban setiap hamba-Nya,” remaja itu menapik ajaranku.
“Waktu subuh kan satu jam lagi, dan ingat, kau punya alasan untuk kembali terlelap. Kau capek dan pusing setelah belajar di depan computer semalam. Aku yakin Allah memakluminya.”
“Tidak….” ia berteriak sangat keras hingga memekakkan pendengaranku. “Aku tak mau terlena dalam mimpi. Dan aku tak mau berbuat kesalahan seperti hari-hari sebelumnya.”
“Alaaaaaaah…apalah artinya dosa kecil jika nanti kau dapat bertobat dan menyucikan diri?” kujawab dengan tenang.
“Tapi kalau dosa itu bertumpuk tak terbendung, gunung pun akan hancur berantakan jika di atasnya diletakkan tumpukkan dosa itu?” pengetahuan agamanya mencoba mengganjalku.
Tepuk tanganku membahana memberikan aplaus buat keyakinannya yang sekeras batu. Biar dia merasa menang dan lengah dengan seranganku selanjutnya.
“Boleh juga jawabanmu. Tapi aku pernah dengar dalam hadist, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa? Al insaanu mahallul khotho’ wan nisyan. Wajar dong kalau kau beberapa kali lalai dalam menjalankan perintah Allah,” jawabku tak mau kalah.
“Kalalu sekali atau dua kali lalai aku yakin masih dimaklumi, tapi kalau ratusan, ribuan ,atau jutaan kali adalah hal yang harus dihindari. Dan itu berarti aku tidak mempunyai kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, tidak taubatan nasuha. Perlu kau ketahui wahai Makhluk Kasat Mata. Setiap manusia memiliki dosa, sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang bertaubat,”
Aku merasa tertekan dengan jawaban tak terduga itu. Aku melakukan penyerangan berikutnya dengan gencar melalui celah-celah nafsu kemanusiaanya. Setelah melalui lobi-lobi keras dan panjang, akhirnya berhasil juga. Dia memang tidak tidur kembali apalagi menikmati mimpi. Tapi lihat, matahari sudah menampakkan diri dengan menebarkan cahaya alami. Dan dia masih saja tak beranjak dari kasur empuknya, bengong dan termenung meladeni semua omomonganku yang ngalor-ngidul.
Lega rasanya mengalahkan semangatnya yang terlihat begitu kuat dan kokoh, tapi menyadari waktu yang berlalu dengan cepat dan tak kan pernah kembali itu, sudah pergi dari wajahnya yang kusut.
Sebelum kutinggalkan, aku sempat mendengar pemuda itu menyesal dan menyesal dengan apa yang telah terjadi. Ingin aku tertawa dengan tingkah lakunya itu. Mungkin dia menyesal hari ini, tapi kalau terus-terusan kayak gitu tanpa ada usaha untuk tidak mengulangi kesalahannya, seperti ceramah agama yang dia sampaikan tadi, tak perlu kaget kalau suatu saat melihatnya menyesali kejadian serupa setiap hari sampai tak ada lagi semangat untuk membangun hidupnya yang telah mati.
Penjuru dua
Sinyal di otakku berkedip pelan. Mangsaku kali ini tak begitu tangguh karena tinggal menyulut puncak api dendam di sudut hatinya. Aku langsung pergi dari tempat mangkal dan menuju sasaran kedua.
Bagai gempa runtuhan. Sebuah kemarahan besar terlampiaskan melalui meja, kursi, piring, dan perabotan lain yang dibanting, dilempar ke sembarang arah, menimbulkan kegaduhan luar biasa. Aku hanya menyaksikannya tak berkutik.
“Dede’ minta maaf, Pak. Dede’ nggak mau mencampuri urusan Bapak lagi. Dede’ Cuma mau Bapak ngak main judi lagi dan mabuk-mabukan seperti ini. Maapin Dede’, Pak!”
“Kamu tahu apa tentang judi dan mabuk,heh? Tahu nggak? Kamu itu anak tak tahu di untung. Sejak Mak meninggal, aku yang merawat kamu. Ingat? Dan sekarang kamu mau mengatur hidup Bapak. Brengsek kamu ya!” Tamparan keras berkali-kali melayang kedua pipi anak itu.
Tangis Dede’ pecah, memekakkan keheningan.
“Diam….dasar anak durhaka,” hardik orang tua itu. Lalu diikuti dua tendangan tanpa ampun menghajar Dede’.
Dalam keadaan mabuk berat, orang tua itu hanya cengengesan melihat darah segar mengucur dari tubuh anaknya. Tanpa sengaja dia menabrak pintu rumah dengan keras dan jatuh tak sadarkan diri.
“De’, kau sudah terlalu lama dianiaya dan disiksa. Bukankah sekarang sudah saatnya membalaskan dendam belasan tahunmu?” aku mulai menghinggapi pikirannya.
“Tidak. Bagaimanapun juga dia tetap bapakku. Bapak yang telah menjadi sebab lahirnya aku ke dunia ini. Bapak yang dengan segala kondisi sosial ekonominya telah mengantarku kepada kedewasaan ini, walau dengan didikan-didikan yang menurutku tak pantas.”
“De’, orang itu bukan bapakmu. Mana ada bapak yang tega mencaci-maki anaknya seperti binatang jalang? Mana ada bapak yang tega menghajar darah dagingnya sendiri tanpa sedikit pun belas kasihan? Saat ini keputusan ada ditanganmu. Terserah mau kau apakan orang tua ini biar tak ada lagi orang yang berani menghardikmu. Kalau tak cekatan, setelah dia sadar, mimpi burukmu akan kembali menghampiri,” suara-suara provokasi aku bisikkan dalam hatinya.
“Kalau kau mengingat semua perbuatannya selama ini, tidak ada satu pun perlakuan yang mencerminkan sebagai seorang bapak. Bapak yang merawat dan mendidik anaknya agar bisa meraih apa yang dicita-citakan seperti yang teman-temanmu rasakan. Jangankan untuk bermain dan bersenang-senang, belajar untuk menggapai apa yang kau inginkan saja dia tak pernah mau tahu. Kau tidak pernah dianggap sebagai manusia yang seharusnya mendapatkan perlakuan pantas dan kasih sayang yang nyata. Tapi kau hanya seorang budak yang harus menuruti segala perintah dari orang yang kau anggap bapak itu. Apa kau hanya menerima semua itu dengan Cuma-Cuma tanpa suatu perlawanan apa pun? Sungguh menyedihkan!” suara provokasi itu semakin aku hembuskan ke dalam pikirannya.
“Aku tak mau jadi anak durhaka. Aku tak mau dikutuk oleh Allah. Biar aku sebatang kara, tapi aku tak mencelakai bapakku.”
“Oke, kalau kau masih mengganggap orang tua itu adalah bapakmu. Kau sudah berusaha memperingatinya, tapi apa yang kau dapat? Apa? Kata-katamu hanya dianggap lolongan anjing malam yang memekakkan telinga. Aku rasa dengan membunuhnya, kau tidak akan berdosa, karena tujuanmu adalah mencegah bapakmu untuk berbuat maksiat yang lebih besar lagi. Kau mau bapakmu dimasukkan dalam neraka jahanam? Tidak kan? Kalau kau membunuhnya, mungkin dia hanya merasakan neraka paling luar. Dan satu lagi, warisan peninggalan kakekmu yang masih melimpah dapat kau gunakan untuk sekolah dan beramal.”
Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya untuk menuruti apa yang aku bisikkan. Tapi suasana kalut akau kekangan sudah terlanjur memunculkan ambisi yang mengerikan, yaitu membungkam bapaknya untuk selama-lamanya. Ingatan tentang film-film action menegangkan produksi Amerika serta pertarungan smackdown yang pernah dia lihat dari televise milik tetangganya kembali aku munculkan.
Ketika seorang anak manusia sudah kehilangan akal sehatnya, dan ketika suasana kelam menghujam hati yang bimbang, sebuah tragedi berdarah tertorehkan di atas lembaran sejarah umat manusia. Dede’ menghentikan napas bapaknya dengan tujuh tusukkan di sekujur tubuh tak berdaya itu. Seketika itu juga, bapaknya pergi kealam baru. Belum ada kepastian tentang sebuah keputusan yang akan menghakimi orang tua itu atas segala perbuatannnya di dunia, dan pendidikan yang diberikan kepada anaknya untuk selanjutnya berada dalam ruangan abadi. Antara surga dan neraka.
Awan hitam menyelimuti bumi menghadirkan sejuta asa dalam kegelapan. Bergerak mengikuti langkah dua orang berbaju polisi dan seorang lagi yang memakai kaos berwarna putih, tapi menjadi merah bersimbah darah bapaknya sendiri. Apakah aku ngeri? Tidak. Peristiwa seperti itu sudah menjadi tontonan yang sama sekali tak istimewa karena hampir tiap hari lalu-lalang di depan mata mereka.
Penjuru tiga
Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa banyak rintangan dan hambatan. Aku merasa agak lemas karena sudah lama tak mendapatkan tantangan yang berarti. Target kali ini pun nggak begitu menarik. Kubaca pesan dari atasan; Rony, 18 tahun, lagi berduaan dirumah pacarnya, Putri. Aku tak habis pikir kenapa Cuma ada dua remaja dirumah sebesar itu? Aku yakin kedua orang tua Putri ,masih asyik dengan pekerjaan masing-masing, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dirumah sunyi mereka.
Secepat cahaya aku pergi ke lokasi. Malam itu, lonceng berbunyi tujuh kali dan kebetulan orang tua Putri tak kunjung kembali. Angin berhembus melewati celah-celah jendela telah membangkitkan nafsu dua insan yang berduaan. Aku datang meramaikan suasana yang sedang tak menentu. Kubisikkan beribu kata cinta yang memikat untuk keluar dari bibir Rony. Aku hanya sekutu dibalik kata-kata manisnya.
“Put, setiap kali melangkah kakiku, aku selalu teringat engkau seorang. Satu hari tak bertemu atau mendengar suaramu, hatiku seakan mau pecah tak menentu. Aku ingin selamanya dekat denganmu dalam suka maupun duka.”
“Gombal kamu Ron. Dari dulu kamu nggak pernah berubah,” jawab Putri.
“Inget nggak waktu kamu putuskan aku satu tahun yang lalu? Aku menjadi orang yang patah hati. Saat itu diriku menjelma menjadi kapas, terbang ke sana kemari tanpa arah dan tujuan.”
“Ah, kamu semakin pandai berpuisi saja!”
“Bener Put, aku nggak bohong. Tapi setelah kamu ngajak jadian lagi kemarin sore, aku kembali menjelma menjadi bunga yang mekar oleh sentuhan seorang bidadari. Dunia ini seakan tercipta hanya untukku dan untukmu.”
Putri hanya dapat menganggukan kepala mendengarkan kata-kata cinta itu. Sebuah ciuman mesra dari seorang gadis kepada pemuda yang bukan muhrimnya tak terelakkan.
Ketika asmara dua insan itu sedang memuncak, aku masukkan tayangan ulang film-film di TV dan bioskop-bioskop serta foto-foto aduhai dari internet yang pernah dia tonton dari memory Rony. Dan akhirnya kumpulan langkah terurai menuju kamar kosong yang akan menjadi saksi bisu atas kelalaian mereka. Aku enggan melihat adegan menjijikan itu dan pergi dari balik remang-remang lampu kamar.
Sungguh semakin edan kondisi dunia saat ini. Globalisasi telah datang dengan bermacam-macam rupa dan warna. Aku sih untung besar. Tapi apakah ini berarti kiamat besar akan tiba? Pertanyaanku itu berlalu bagai tertiup angin tanpa sepatah jawaban yang mengakhiri.
Penjuru empat
Dunia Barat sedang gencar melancarkan serangan gozhwul fikr atau perang pemikiran, khususnya bidang moralitas kebanyakan masyarakat Dunia Timur yang masih memegang teguh agamanya. Ini adalah kesempatan terbaik buatku untuk menyusupkan doktrin-doktrin dalam diri kebanyakan masyarakat islam saat ini. Nafsuku tiba-tiba membisikkan satu kata, “Jilbab”. Ya! Kata itu memang pantas keluar dari nafsuku yang membara. Kata itu akan aku jadikan priorotas untuk dijadikan isu paling hangat di kalangan umat islam.
Tak sengaja sinyal di otakku berkedip. Rupanya sebuah jiwa yang gelisah secepat kilat melewatiku. Kulihat seorang gadis mungil berjilbab sedang mondar-mandir di depan kampusnya. Andini, 19 tahun, kebingungan itulah data yang aku tahu dari batinnya. Setelah kuteliti, aku menyadari bahwa kegelisahan tadi keluar dari lubuk hatinya. Dan sepertinya dia adalah mangsa selanjutnya. Dialog antara aku dan batinnya pun terjadi.
“Din, ngapain kamu mikirin larangan orang tuamu. Rugi lo kalau kamu nggak mau ngikutin tren yang ada. Kamu mau dibilang nggak gaul and kuper? Lagian kalau kamu pake’ tanktop dan celana agak ketat, kamu kan tambah cantik. Ditambah lagi kalau kamu berbusana tanpa jilbab. Aku jamin cowok-cowok di kampus ini akan tambah perhatian sama kamu. Percaya deh sama aku,” serangan pertamaku telah menampakkan batang hidungnya.
“Jangan ganggu aku. Itu hanya kemauan sesaat otak kotorku. Aku tak sudi untuk menuruti nafsuku,” batin Andini menolak ajakanku mentah-mentah.
“Apa kamu tak mau seperti teman-temanmu yang jauh di bawah kecantikanmu, tapi mereka dapet perhatian yang jauh lebih besar darimu. Sudahlah, orang tua kamu ngelarang hanya karena mereka tak pernah tahu tentang tren masa kini. Mereka tidak pernah tahu tentang Britney Spears, Madonna,atau Pamela Anderson yang menfaatin kecantikan wajah dan kelenturan tubuh mereka untuk dipertontonkan kepada dunia. Dan kau lihat sendiri, mereka dapat perhatian yang wah..!”
Tak ada jawaban dari serangan keduaku. Kulihat batinnya mulai goyah dan bergetar tak menentu. Ketika tekanan di batinnya memuncak, Andini cepat menghindar dan beristighfar.
“Astaghfirullahal’adzim..hapuskanlah pikiran kotor itu dari otakku ya Allah.”
Malam harinya aku langsung menyerbu dengan segala siasatku. Dengan pengalamanku selama ribuan tahun, aku memasuki mimpi Andini. Pertama-tama kuubah tubuhku jadi sesosok yang paling disayangi. Aku adalah Anton, pacarnya. Kemudian aku menemuinya dengan memberi sedikit kejutan.
“Doooor….!”
“Anton, ngagetin aja kamu!”
“Hai Din,pa kabar? gimana harimu, baik kan?” kurayu dia dengan lembut memesona.
“Baik. Kok nanyanya rada cuek gitu sih? Ngomong-ngomong ngapain kamu kesini? Apa kamu…” Sebelum Andini meneruskan pertanyaan itu aku bisa menebak isi hatinya.
“Yup…Exactly. Aku pengen kamu ngikutin tren sekarang. Setidaknya kamu coba dulu dan aku akan maklum kalau jilbabmu belum bisa lepas dari wajahmu yang cantik itu. Kalau kamu tidak menuruti keinginanku, ya udah…. berarti kamu tak sayang lagi ama aku. Bye.”
“Anton…!” suara Andini parau dan terdengar semakin melemah.
Kutinggalkan saja dia. Aku biarkan Andini memikirkannya sementara waktu.
Hari yang kutunggu datang juga. Tepat seminggu setelah kumasuki mimpi Andini, aku melihat dia dan boy friend-nya jalan-jalan disebuah mall, meskipun wajahnya terlihat malu dan tertutup oleh jilbab yang diikat di lehernya. Badannya yang seksi semakin jelas terlihat oleh mata-mata liar yang setiap saat dapat menerkamnya dimalam dan siang hari. Memang, dia baru mencobanya di mall,tapi aku sudah merasa agak puas. Aku yakin, tinggal menunggu waktu, Andini bakalan menuruti apa yang aku perintahkan atau bahkan melebihi dari yang aku harapkan. Aku menghilang di balik gelapnya malam.
Pada waktu suasana hatiku sedang senang tak terbilang dan di tengah suntuknya suasana yang menyengat di empat penjuru angin, sebuah pesan singkat muncul dibenakku:
MEMO
Segera kembali ke bumi, dua penjuru tak dikenal terlihat di daerah kekuasaanmu. Segera bereskan mereka kalau kau menginginkan jabatan yang setara denganku.
Panglima Empat Penjuru Angin Sektor I
Ketika aku baru kembali, kulihat dua buah rumah bersinar menyilaukan cahaya ke sagala arah. Setelah kuamati dengan cermat, ternyata orang-orang di dua penjuru itu adalah tugas khusus yang diberikan atasanku. Dari memori di kepala, kucocokan potret kedua sosok yang agak berjauhan itu. Tak salah lagi, mereka adalah sosok yang paling ditakuti oleh semua panglima empat penjuru angin. Oke! Mereka akan aku bereskan satu per satu.
Penjuru tak dikenal pertama
Kudekati pemuda itu. Semakin dekat kurasakan getaran dalam jiwaku semakin keras dan kencang. Baru pertama kali aku merasakan getaran mengguncang sekeras ini. Ciut hatiku tersentuh aura besar dari tubuhnya. Kenapa bisa begini? Padahal menurut data yang kuperoleh, roman kehidupan masa lalunya begitu pahit dan berlumpur. Segala jenis kejahatan pernah dia lakukan, bahkan dari saat umurnya baru sepuluh tahun. Dari menyontek, mencuri, berzina sampai membunuh.
Hmmm… aku tak perduli dengan masa lalunya. Yang penting aku harus menuntaskan tugas khusus ini, agar namaku bisa melambung tinggi dan bisa dipromosikan untuk naik pangkat menjadi panglima di empat penjuru mata angin. Aku sadar dari lamunanku. Kubuang khayalan dalam anganku untuk sementara.
Sebelum memulai tugas, kuperlihatkan dulu tindak-tanduk pemuda itu. Gila! Dia tidak hanya tahan beribadah sepanjang malam, tetapi juga berdoa berjam-jam di sajadahnya yang lusuh dan usang itu. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, meskipun itu ada di depan mataku. Selama ini aku mengira di daerah kekuasaanku sudah tak ada lagi manusia yang taat kepada Allah. Kudekati dia dengan penuh kewaspadaan.
“Wahai Pemuda Alim, apa kau masih mau melanjutkan ibadahmu walaupun hidupmu tak pernah beranjak dari kemiskinan?”
Pemuda itu tak berkutik dari duduknya. Sangking khusyuknya pemuda itu tak mendengarkan sepatah kata pun yang barusan kubilang.
“Hei Pemuda, kenapa kau beribadah sepanjang malam sedangkan sehidupanmu di akhirat nanti belum tentu masuk surga?”
Untuk kedua kalinya aku dicuekin. Kebetulan ibadah panjangnya sudah selesai, aku bisa menggodanya dengan leluasa.
“Dosamu sudah tak bisa dihitung lagi wahai Pemuda. Bagaimanapun kerasnya ibadah dan taubatmu, kau takkan bisa menutupi kebusukkan masa lalumu.”
“Aku tak tahu siapa kau, tapi yang pasti kau bukanlah Tuhanku yang berhak menentukan kategori taubatku. Jadi, kau sekedar membual dengan perkataanmu. Aku yakin bahwa keadilan Allah akan selalu menyelimuti bumi. Dan aku juga meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tak ada yang mustahil dimata Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah aku lakukan, insya Allah dengan taubatan nasuha, aku seakan terlahir kembali ke dunia. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dia menjawab dengan tenang, tapi sungguh sangat dalam.
Aku tak menyerah begitu saja. Masih tersisa sejuta macam godaan untuknya. Aku ganggu dia dari empat penjuru sekaligus; kanan, kiri, depan, dan belakang. Sia-sia. Tak satu pun celah yang kudapatkan dari empat penjuru itu. Padahal dari semua tugasku sebelumnya, melalui satu penjuru pun mereka sudah takluk di tanganku.
Sebelum aku mengambil langkah berikutnya tiba-tiba badanku panas sekali. Tak hanya itu, jiwaku seakan meledak oleh api yang memercik dan membesar. Aku tak tahan dan langsung mengambil langkah seribu menginggalkan pemuda itu. Kalau aku bergeming di tempat itu walau hanya satu menit, mungkin tubuhku akan hancur lebur tak tersisa.
Penjuru tak dikenal kedua
Aku memutuskan untuk pergi ke target kedua. Kulihat sosoknya sangat berbeda dengan pemuda sebelumnya. Rumahnya megah, istrinya cantik, dan uangnya berlimpah. Tapi ada kemiripan yang kurasakan. Salah satu di antaranya, aku merinding ketika mendekatinya. Mendekati seorang dermawan yang terselip nama dan perbuatannya di tengah kerumunan manusia, yang pelit akan harta dan selalu membanggakan hasil jerih payah mereka. Dia tak pernah dikenal, karena keikhlasan hatinya datang dengan mengayunkan sebagian harta dan tangan sucinya. Dan dia mendapatkan kekayaan itu tanpa sepeser pun uang haram yang berhasil mengubah arah pendiriannya.
Namanya Ade, 31 tahun, direktur PT. Gemilang Jaya Sentosa. Wow, keren! Dengan umur yang tergolong muda orang itu sudah jadi direktur, padahal selama ribuan tahun pangkatku tak pernah naik. Ah…..aku semakin ngelantur saja. Apakah karena selangkah lagi aku akan jadi panglima? Iya kali! Itu pun kalau aku berhasil menggoda direktur muda ini. Aku dekati saja orang itu dengan halus dan lembut.
“Tuan Dermawan, sebaiknya anda menggunakan uang itu untuk foya-foya atau sumbangkan ke tempat-tempat besar agar anda dikenal luas. Daripada menghabiskan hasil kerja keras anda hanya untuk menyumbang ke tempat kecil dengan nama samara, Hamba Allah.”
Dugaanku tepat, dia pura-pura tak tahu.
“Mr.Ade, Anda sudah lama menjadi orang yang diberkati, tapi nama anda tidak pernah muncul dilayar kaca, bahkan di sebuah radio daerah sekalipun.”
“Aku bukanlah budak yang bekerja demi suatu materi atau ketenaran semu. Aku hanyalah ciptaan bermakna dan kebetulan diberi kepercayaan untuk menyalurkan harta itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya,” orang itu menjawab dengan keyakinan tak terbantahkan.
“Satu lagi yang terus aku pegang teguh. Aku tak tahu kapan malaikat maut akan menjemputku. Sepuluh tahun, sebelas bulan, empat bulan, atau beberapa detik kedepan nyawaku akan terbang tak kembali. Dan bukanlah harta atau ketenaran yang akan menemaniku di alam sana, tapi amal ibadah dan sedekah itu yang akan tetap setia mendampingiku sampai kapanpun dan dimana pun aku berada,” aku balik diserang dengan pernyataan menyakitkan.
“Apakah anda tak…ma…u….,” aku tak bisa meneruskan kata-kataku. Sesuatu yang tak terlihat oleh inderaku telah membungkam mulutku. Badanku juga merinding dan terasa panas walaupun berada sekitar lima puluh meter dari orang itu. Secepat kilat kutinggalkan tempat yang menurutku tak beda jauh dengan neraka ini.
Suatu ketika, tanpa sadar aku memasuki mimpi seseorang tanpa identitas. Kulihat dua sinar yang sangat berkilau menerangi empat penjuru mata angin. Sinar itu datang dari dua penjuru tak dikenal dan sedang menerangi rumah dua manusia yang pernah aku goda dari penjuru satu, dan empat serta dua manusia lagi dari penjuru dua dan tiga yang saat ini berada di balik terali besi sebuah lembaga permasyarakatan. Empat penjuru yang disinari selanjutnya menjadi pembawa cahaya baru yang siap menerangi dunia bersama dua penjuru tak dikenal.
Aku berpikir sejenak tentang ihwal mimpi itu. Aku sekarang mengerti. Ternyata dua penjuru tak dikenal itu bisa setiap saat menyia-nyiakan segala usahaku. Rupanya Allah sengaja membuka dua penjuru yang tak bisa kutembus walau dengan seluruh balatentara empat penjuru angin. Tapi aku tetap akan mempergunakan setiap tipu muslihat untuk merongrong itikad baik setiap insan. Kini, aku hanya bisa berharap agar dua penjuru itu tersembunyi dalam jutaan kenikmatan semu di seluruh penjuru dunia.
Perjalananku takkan pernah berhenti dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang yang dalam sekali tanpa akhir, tanpa ujung. Kulangkahkan kaki diiringi sedikir rasa bimbang dan ragu. Sejuta tanda Tanya terbesit dalam diriku. Tapi dalam kesendirian ini aku masih saja tertawa di antara milyaran manusia yang akan menemaniku dalam kesesatan yang abadi.
“Ha….ha….ha….ha…!” Tawaku semakin meninggi seiring berjalannya sang waktu.
Bekasi, 12 Maret 2011
kupersembahkan untuk semua remaja muslim di Indonesia sebagai bahan renungan akan kerasnya kehidupan tanpa iman.
No comments:
Post a Comment