Friday, 5 April 2013
Berjalan, Berlari, dan Diam
Hey lihat!
Bintang besinar selalu seperti itu
Matahari membakar tubuhnya, selalu begitu
Bumi berputar pada porosnya selalu begitu
Hey! lihatlah burung-burung menari dilangit dengan teriakan-teriakan kecilnya
Semut-semut saling menyapa kawannya seakan mengucapkan selamat pagi, selalu begitu
Hey! rasakanlah gesekan-gesekan halus dari daun-daun
Hembusan angin meninabobokanmu
Pelukan hangat dalam dekap ibundamu
Kami ini jiwa-jiwa nan rapuh wahai penguasa!
Kami gugur dalam sentuhan halus
Kami retak dalam bisikan malam
Maka bagaimana harusnya untuk kami berontak?!
Untuk bicara dan berkoar
Untuk merengkuh hak, apa lagi untuk berjalan dan berlari pun kami tak mampu.
Jadi perlukah semua itu kami perjuangkan?!
Ketika pada akhirnya kami akan jatuh tersungkur dalam lubang nan kelam
Gelap, kotor, lembab, bising, pengap!
Tiada kehidupan
Semua mati, semua mati, semuanya mati wahai penguasa!
Kamu tahu apa yang kamu butuhkan selain tak lupa berhenti bernapas saat itu?
Diam.
Ya, bernapas dan diamlah
Ku kira kau akan lebih mengerti hidup ketimbang aku
Tidak!
Aku ini sang punguk yang merindukan bulan
Tuk berjalan lebih jauh dari biasanya saja mungkin aku tak mampu
Apalagi untuk berlari
Penguasa! sudah cukup kau buat aku tersiksa
diamlah, belajarlah berjalan, baru bisa kau berlari!
Notes: dari sebuah coret-coretan ketika lelah belajar matematika
Labels:
POEM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment