Sunday, 15 July 2012

Nana, Pelangi itu Ada Dimatamu


Nana, pelangi itu ada dimatamu
Ketika kita membuka mata disaat fajar menyembul di pagi hari
Ketika ku dengar suara senandung lagu terdengar dari kejauhan
Ku nikmati setiap lantunan syairnya
Ku nikmati setiap melodi yang dimainkannya
Ku nikmati setiap waktu bergulir disampingnya
Lembut, nyaman, dan indah..

Nana, ketika kau mulai lelah dan berhenti memainkan setiap syair yang keluar dari bibirmu itu
Kami tahu kami merasa kehilangan
Seperti telaga nan dangkal
Seperti hutan tak berpenghuni
Seperti lautan tanpa karang
Seperti aku tanpa nafas dalam ragaku

Nana, filosofi kehidupan masalaluku hanyalah kamu
Tangis dan tawa masa depanku jugalah kamu
Hitam dan putih roda kehidupanku cumalah kamu

Nana, kau lebih dari sekedar diary usang didalam ransel hijau tua pemberian ayahku
Nana, kau lebih dari tempatku berbagi
Kau lebih dari sekedar rona merah jambu yang terlukis dipipiku saat itu
Kau lebih dari pelangi yang terpatri jelas dimatamu

Nana, biarkan aku menjadi bagian dari perjalananmu
Hujam aku dengan seribu mata pisaumu
dan masukkan aku kedalam setiap lembar cerita didalam hatimu
nana, kau labih dari sekedar mata pisau yang menghujam setiap detikku

kau, diary berjalan
kau setia menemani setiap alunan langkahku
kau temani setiap hembus nafasku
kau titik ukur setiap perjalananku

dan ketika aku dan kamu sampai diakhir perjalanan
katahuilah nana, aku merindumu

Saturday, 9 June 2012

MEMASAK

Kecakapan hidup adalah masalah perilaku pemecahan digunakan dengan tepat dan bertanggung jawab dalam pengelolaan urusan pribadi. Mereka adalah seperangkat keterampilan manusia yang diperoleh melalui pengajaran atau pengalaman langsung yang digunakan untuk menangani masalah dan pertanyaan yang sering ditemui dalam kehidupan manusia sehari-hari. Subjek sangat bervariasi tergantung pada norma-norma sosial dan harapan masyarakat.Misalnya, UNICEF menyatakan "tidak ada daftar definitif" keterampilan hidup tetapi menyebutkan banyak "keterampilan psikososial dan interpersonal umumnya dianggap penting." Ini menegaskan keterampilan hidup adalah sintesis: "keterampilan banyak digunakan secara bersamaan dalam praktek Misalnya, pengambilan keputusan sering melibatkan berpikir kritis. (" Apa saja pilihan saya? ") Dan klarifikasi nilai (" apa yang penting bagi saya "?). Pada akhirnya, interaksi antara keterampilan adalah apa yang menghasilkan hasil perilaku kuat, terutama di mana pendekatan ini didukung oleh strategi lain ... "[1]Kecakapan hidup dapat bervariasi dari melek finansial, [2] pencegahan penyalahgunaan zat, [3] untuk teknik terapi untuk menangani penyandang cacat, seperti autisme [4] [5]. Hidup keterampilan kurikulum yang dirancang untuk K-12 sering menekankan komunikasi dan keterampilan praktis diperlukan untuk hidup mandiri sukses untuk cacat perkembangan / siswa pendidikan khusus dengan Program Pendidikan Individual (IEP) [6]. Namun, beberapa program yang untuk populasi umum, seperti program untuk Mengatasi Hambatan sekolah menengah dan sekolah tinggi. [7]Sementara keterampilan hidup tertentu program fokus pada pengajaran pencegahan perilaku tertentu Institut Search telah menemukan program-program tersebut dapat relatif tidak efektif. Berdasarkan penelitian mereka Keluarga dan Pemuda Biro Services, sebuah divisi dari departemen HR AS Kesehatan dan Layanan Manusia pendukung teori Youth Development Positif [8] sebagai pengganti program pencegahan kurang efektif. Pengembangan Kepemudaan positif, atau PYD [8] seperti itu kemudian dikenal sebagai, berfokus pada kekuatan individu yang bertentangan dengan metode yang lebih tua yang cenderung fokus pada "potensi" kelemahan yang belum ditampilkan. Keluarga dan Pemuda Biro Jasa telah menemukan bahwa individu yang mengembangkan keterampilan hidup dengan cara yang positif, bukan preventitive merasakan rasa yang lebih besar kompetensi, kegunaan, kekuasaan, dan rasa memiliki.Di luar domain-12 K, keterampilan hidup lainnya program difokuskan pada kesejahteraan sosial dan program kerja sosial, seperti kecakapan hidup Casey [9] Program ini mencakup beragam topik:. Perencanaan karir, komunikasi, hidup, rumah setiap hari hidup, perumahan dan uang manajemen, perawatan diri, hubungan sosial, pekerjaan dan kemampuan belajar, kehidupan kerja, kehamilan dan mengasuh anak [10].
Keterampilan hidup seringkali diajarkan dalam domain orangtua, baik secara tidak langsung melalui pengamatan dan pengalaman anak, atau langsung dengan tujuan mengajarkan keterampilan tertentu. [11] Namun keterampilan untuk menangani kehamilan dan pengasuhan dapat dipertimbangkan dan diajarkan sebagai satu set keterampilan hidup sendiri. Mengajarkan keterampilan orangtua hidup ini juga dapat bertepatan dengan tambahan pengembangan kecakapan hidup anak [12]. [13] Banyak program keterampilan hidup yang ditawarkan saat struktur keluarga tradisional dan hubungan yang sehat telah terputus, apakah karena penyimpangan orangtua, perceraian atau karena masalah dengan anak-anak (seperti penyalahgunaan zat atau perilaku berisiko lainnya). Misalnya, Organisasi Buruh Internasional adalah mengajar kecakapan hidup untuk mantan pekerja anak dan anak-anak berisiko di Indonesia untuk membantu mereka menghindari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak [14].

Saturday, 5 November 2011

Friday, 18 March 2011

Empat Penjuru Mata Angin

Empat Penjuru Mata Angin


Udara menyesak menenggelamkan suara-suara memekik. Diam seribu bahasa dan sepi dalam kesunyian yang nyata. Awan bergerak perlahan namun pasti, seolah tak mau mengganggu ketenangan dalam misteri. Dedaunan melambai dengan indahnya menghadirkan sejuta tanda Tanya yang tak pernah berhenti bergulir.

Akulah pembisik dalam diri manusia agar mereka enggan menuruti perintah dari penguasa alam semesta. Akulah yang menghadirkan alternatif-alternatif pikiran yang dapat merusak hubungan keluarga. Akulah penyebar kebingungan di semua pelosok bumi. Dan akulah yang selalu mengusik mimpi manusia menjadi terror menakutkan yang akan selalu menghantui mereka. Aku, sang penguasa empat penjuru mata angin yang setiap saat mencari mangsa untuk menjerumuskan sang khalifah dalam kesesatan abadi di neraka.



Aku terbang menyusuri lorong-lorong tak berdimensi. Empat tugas baruku telah menanti di gerbang kerajaan empat penjuru angin. Dengan sekali hitungan, aku bisa menerima dan menyimpannya dalam otakku. Sebuah sinyal mulai berkedip mengirimku ke target satu per satu.

Penjuru satu
Subuh itu begitu dingin membeku. Desiran angin berhembus dengan lembut membuat nyenyak setiap insan yang terlelap oleh khayalan mimpi-mimpi. Pada saat aku disibukkan bekerja menyampaikan pesan-pesan menggiurkan untuk meninabobokan mereka, ada seorang remaja bergerak dari tidurnnya dan berusaha bangkit dari mimpi indah yang kuhembuskan. Aku mencoba menghentikan gerakkannya dan meracuni remaja itu agar kembali tidur menikmati mimpi. Usahaku lumayan berhasil. Dia berbaring kembali dan berada antara alam sadar dan mimpi. Bisikan suara-suara sumbangku segera beraksi.

“Azan baru berkumandang, matahari masih terbenam di ufuk timur. Sudahlah…lebih baik kau tidur dan lanjutkan mimpi indahmu.”

“Itu bukanlah alasan yang tepat untuk menghindari subuh. Lagi pula salat adalah kewajiban setiap hamba-Nya,” remaja itu menapik ajaranku.

“Waktu subuh kan satu jam lagi, dan ingat, kau punya alasan untuk kembali terlelap. Kau capek dan pusing setelah belajar di depan computer semalam. Aku yakin Allah memakluminya.”

“Tidak….” ia berteriak sangat keras hingga memekakkan pendengaranku. “Aku tak mau terlena dalam mimpi. Dan aku tak mau berbuat kesalahan seperti hari-hari sebelumnya.”

“Alaaaaaaah…apalah artinya dosa kecil jika nanti kau dapat bertobat dan menyucikan diri?” kujawab dengan tenang.

“Tapi kalau dosa itu bertumpuk tak terbendung, gunung pun akan hancur berantakan jika di atasnya diletakkan tumpukkan dosa itu?” pengetahuan agamanya mencoba mengganjalku.

Tepuk tanganku membahana memberikan aplaus buat keyakinannya yang sekeras batu. Biar dia merasa menang dan lengah dengan seranganku selanjutnya.

“Boleh juga jawabanmu. Tapi aku pernah dengar dalam hadist, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa? Al insaanu mahallul khotho’ wan nisyan. Wajar dong kalau kau beberapa kali lalai dalam menjalankan perintah Allah,” jawabku tak mau kalah.

“Kalalu sekali atau dua kali lalai aku yakin masih dimaklumi, tapi kalau ratusan, ribuan ,atau jutaan kali adalah hal yang harus dihindari. Dan itu berarti aku tidak mempunyai kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, tidak taubatan nasuha. Perlu kau ketahui wahai Makhluk Kasat Mata. Setiap manusia memiliki dosa, sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang bertaubat,”

Aku merasa tertekan dengan jawaban tak terduga itu. Aku melakukan penyerangan berikutnya dengan gencar melalui celah-celah nafsu kemanusiaanya. Setelah melalui lobi-lobi keras dan panjang, akhirnya berhasil juga. Dia memang tidak tidur kembali apalagi menikmati mimpi. Tapi lihat, matahari sudah menampakkan diri dengan menebarkan cahaya alami. Dan dia masih saja tak beranjak dari kasur empuknya, bengong dan termenung meladeni semua omomonganku yang ngalor-ngidul.

Lega rasanya mengalahkan semangatnya yang terlihat begitu kuat dan kokoh, tapi menyadari waktu yang berlalu dengan cepat dan tak kan pernah kembali itu, sudah pergi dari wajahnya yang kusut.

Sebelum kutinggalkan, aku sempat mendengar pemuda itu menyesal dan menyesal dengan apa yang telah terjadi. Ingin aku tertawa dengan tingkah lakunya itu. Mungkin dia menyesal hari ini, tapi kalau terus-terusan kayak gitu tanpa ada usaha untuk tidak mengulangi kesalahannya, seperti ceramah agama yang dia sampaikan tadi, tak perlu kaget kalau suatu saat melihatnya menyesali kejadian serupa setiap hari sampai tak ada lagi semangat untuk membangun hidupnya yang telah mati.

Penjuru dua
Sinyal di otakku berkedip pelan. Mangsaku kali ini tak begitu tangguh karena tinggal menyulut puncak api dendam di sudut hatinya. Aku langsung pergi dari tempat mangkal dan menuju sasaran kedua.

Bagai gempa runtuhan. Sebuah kemarahan besar terlampiaskan melalui meja, kursi, piring, dan perabotan lain yang dibanting, dilempar ke sembarang arah, menimbulkan kegaduhan luar biasa. Aku hanya menyaksikannya tak berkutik.

“Dede’ minta maaf, Pak. Dede’ nggak mau mencampuri urusan Bapak lagi. Dede’ Cuma mau Bapak ngak main judi lagi dan mabuk-mabukan seperti ini. Maapin Dede’, Pak!”

“Kamu tahu apa tentang judi dan mabuk,heh? Tahu nggak? Kamu itu anak tak tahu di untung. Sejak Mak meninggal, aku yang merawat kamu. Ingat? Dan sekarang kamu mau mengatur hidup Bapak. Brengsek kamu ya!” Tamparan keras berkali-kali melayang kedua pipi anak itu.

Tangis Dede’ pecah, memekakkan keheningan.

“Diam….dasar anak durhaka,” hardik orang tua itu. Lalu diikuti dua tendangan tanpa ampun menghajar Dede’.

Dalam keadaan mabuk berat, orang tua itu hanya cengengesan melihat darah segar mengucur dari tubuh anaknya. Tanpa sengaja dia menabrak pintu rumah dengan keras dan jatuh tak sadarkan diri.

“De’, kau sudah terlalu lama dianiaya dan disiksa. Bukankah sekarang sudah saatnya membalaskan dendam belasan tahunmu?” aku mulai menghinggapi pikirannya.

“Tidak. Bagaimanapun juga dia tetap bapakku. Bapak yang telah menjadi sebab lahirnya aku ke dunia ini. Bapak yang dengan segala kondisi sosial ekonominya telah mengantarku kepada kedewasaan ini, walau dengan didikan-didikan yang menurutku tak pantas.”

“De’, orang itu bukan bapakmu. Mana ada bapak yang tega mencaci-maki anaknya seperti binatang jalang? Mana ada bapak yang tega menghajar darah dagingnya sendiri tanpa sedikit pun belas kasihan? Saat ini keputusan ada ditanganmu. Terserah mau kau apakan orang tua ini biar tak ada lagi orang yang berani menghardikmu. Kalau tak cekatan, setelah dia sadar, mimpi burukmu akan kembali menghampiri,” suara-suara provokasi aku bisikkan dalam hatinya.

“Kalau kau mengingat semua perbuatannya selama ini, tidak ada satu pun perlakuan yang mencerminkan sebagai seorang bapak. Bapak yang merawat dan mendidik anaknya agar bisa meraih apa yang dicita-citakan seperti yang teman-temanmu rasakan. Jangankan untuk bermain dan bersenang-senang, belajar untuk menggapai apa yang kau inginkan saja dia tak pernah mau tahu. Kau tidak pernah dianggap sebagai manusia yang seharusnya mendapatkan perlakuan pantas dan kasih sayang yang nyata. Tapi kau hanya seorang budak yang harus menuruti segala perintah dari orang yang kau anggap bapak itu. Apa kau hanya menerima semua itu dengan Cuma-Cuma tanpa suatu perlawanan apa pun? Sungguh menyedihkan!” suara provokasi itu semakin aku hembuskan ke dalam pikirannya.

“Aku tak mau jadi anak durhaka. Aku tak mau dikutuk oleh Allah. Biar aku sebatang kara, tapi aku tak mencelakai bapakku.”

“Oke, kalau kau masih mengganggap orang tua itu adalah bapakmu. Kau sudah berusaha memperingatinya, tapi apa yang kau dapat? Apa? Kata-katamu hanya dianggap lolongan anjing malam yang memekakkan telinga. Aku rasa dengan membunuhnya, kau tidak akan berdosa, karena tujuanmu adalah mencegah bapakmu untuk berbuat maksiat yang lebih besar lagi. Kau mau bapakmu dimasukkan dalam neraka jahanam? Tidak kan? Kalau kau membunuhnya, mungkin dia hanya merasakan neraka paling luar. Dan satu lagi, warisan peninggalan kakekmu yang masih melimpah dapat kau gunakan untuk sekolah dan beramal.”

Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya untuk menuruti apa yang aku bisikkan. Tapi suasana kalut akau kekangan sudah terlanjur memunculkan ambisi yang mengerikan, yaitu membungkam bapaknya untuk selama-lamanya. Ingatan tentang film-film action menegangkan produksi Amerika serta pertarungan smackdown yang pernah dia lihat dari televise milik tetangganya kembali aku munculkan.

Ketika seorang anak manusia sudah kehilangan akal sehatnya, dan ketika suasana kelam menghujam hati yang bimbang, sebuah tragedi berdarah tertorehkan di atas lembaran sejarah umat manusia. Dede’ menghentikan napas bapaknya dengan tujuh tusukkan di sekujur tubuh tak berdaya itu. Seketika itu juga, bapaknya pergi kealam baru. Belum ada kepastian tentang sebuah keputusan yang akan menghakimi orang tua itu atas segala perbuatannnya di dunia, dan pendidikan yang diberikan kepada anaknya untuk selanjutnya berada dalam ruangan abadi. Antara surga dan neraka.

Awan hitam menyelimuti bumi menghadirkan sejuta asa dalam kegelapan. Bergerak mengikuti langkah dua orang berbaju polisi dan seorang lagi yang memakai kaos berwarna putih, tapi menjadi merah bersimbah darah bapaknya sendiri. Apakah aku ngeri? Tidak. Peristiwa seperti itu sudah menjadi tontonan yang sama sekali tak istimewa karena hampir tiap hari lalu-lalang di depan mata mereka.

Penjuru tiga
Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa banyak rintangan dan hambatan. Aku merasa agak lemas karena sudah lama tak mendapatkan tantangan yang berarti. Target kali ini pun nggak begitu menarik. Kubaca pesan dari atasan; Rony, 18 tahun, lagi berduaan dirumah pacarnya, Putri. Aku tak habis pikir kenapa Cuma ada dua remaja dirumah sebesar itu? Aku yakin kedua orang tua Putri ,masih asyik dengan pekerjaan masing-masing, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dirumah sunyi mereka.

Secepat cahaya aku pergi ke lokasi. Malam itu, lonceng berbunyi tujuh kali dan kebetulan orang tua Putri tak kunjung kembali. Angin berhembus melewati celah-celah jendela telah membangkitkan nafsu dua insan yang berduaan. Aku datang meramaikan suasana yang sedang tak menentu. Kubisikkan beribu kata cinta yang memikat untuk keluar dari bibir Rony. Aku hanya sekutu dibalik kata-kata manisnya.

“Put, setiap kali melangkah kakiku, aku selalu teringat engkau seorang. Satu hari tak bertemu atau mendengar suaramu, hatiku seakan mau pecah tak menentu. Aku ingin selamanya dekat denganmu dalam suka maupun duka.”

“Gombal kamu Ron. Dari dulu kamu nggak pernah berubah,” jawab Putri.

“Inget nggak waktu kamu putuskan aku satu tahun yang lalu? Aku menjadi orang yang patah hati. Saat itu diriku menjelma menjadi kapas, terbang ke sana kemari tanpa arah dan tujuan.”

“Ah, kamu semakin pandai berpuisi saja!”

“Bener Put, aku nggak bohong. Tapi setelah kamu ngajak jadian lagi kemarin sore, aku kembali menjelma menjadi bunga yang mekar oleh sentuhan seorang bidadari. Dunia ini seakan tercipta hanya untukku dan untukmu.”

Putri hanya dapat menganggukan kepala mendengarkan kata-kata cinta itu. Sebuah ciuman mesra dari seorang gadis kepada pemuda yang bukan muhrimnya tak terelakkan.

Ketika asmara dua insan itu sedang memuncak, aku masukkan tayangan ulang film-film di TV dan bioskop-bioskop serta foto-foto aduhai dari internet yang pernah dia tonton dari memory Rony. Dan akhirnya kumpulan langkah terurai menuju kamar kosong yang akan menjadi saksi bisu atas kelalaian mereka. Aku enggan melihat adegan menjijikan itu dan pergi dari balik remang-remang lampu kamar.

Sungguh semakin edan kondisi dunia saat ini. Globalisasi telah datang dengan bermacam-macam rupa dan warna. Aku sih untung besar. Tapi apakah ini berarti kiamat besar akan tiba? Pertanyaanku itu berlalu bagai tertiup angin tanpa sepatah jawaban yang mengakhiri.

Penjuru empat
Dunia Barat sedang gencar melancarkan serangan gozhwul fikr atau perang pemikiran, khususnya bidang moralitas kebanyakan masyarakat Dunia Timur yang masih memegang teguh agamanya. Ini adalah kesempatan terbaik buatku untuk menyusupkan doktrin-doktrin dalam diri kebanyakan masyarakat islam saat ini. Nafsuku tiba-tiba membisikkan satu kata, “Jilbab”. Ya! Kata itu memang pantas keluar dari nafsuku yang membara. Kata itu akan aku jadikan priorotas untuk dijadikan isu paling hangat di kalangan umat islam.

Tak sengaja sinyal di otakku berkedip. Rupanya sebuah jiwa yang gelisah secepat kilat melewatiku. Kulihat seorang gadis mungil berjilbab sedang mondar-mandir di depan kampusnya. Andini, 19 tahun, kebingungan itulah data yang aku tahu dari batinnya. Setelah kuteliti, aku menyadari bahwa kegelisahan tadi keluar dari lubuk hatinya. Dan sepertinya dia adalah mangsa selanjutnya. Dialog antara aku dan batinnya pun terjadi.

“Din, ngapain kamu mikirin larangan orang tuamu. Rugi lo kalau kamu nggak mau ngikutin tren yang ada. Kamu mau dibilang nggak gaul and kuper? Lagian kalau kamu pake’ tanktop dan celana agak ketat, kamu kan tambah cantik. Ditambah lagi kalau kamu berbusana tanpa jilbab. Aku jamin cowok-cowok di kampus ini akan tambah perhatian sama kamu. Percaya deh sama aku,” serangan pertamaku telah menampakkan batang hidungnya.

“Jangan ganggu aku. Itu hanya kemauan sesaat otak kotorku. Aku tak sudi untuk menuruti nafsuku,” batin Andini menolak ajakanku mentah-mentah.

“Apa kamu tak mau seperti teman-temanmu yang jauh di bawah kecantikanmu, tapi mereka dapet perhatian yang jauh lebih besar darimu. Sudahlah, orang tua kamu ngelarang hanya karena mereka tak pernah tahu tentang tren masa kini. Mereka tidak pernah tahu tentang Britney Spears, Madonna,atau Pamela Anderson yang menfaatin kecantikan wajah dan kelenturan tubuh mereka untuk dipertontonkan kepada dunia. Dan kau lihat sendiri, mereka dapat perhatian yang wah..!”

Tak ada jawaban dari serangan keduaku. Kulihat batinnya mulai goyah dan bergetar tak menentu. Ketika tekanan di batinnya memuncak, Andini cepat menghindar dan beristighfar.

“Astaghfirullahal’adzim..hapuskanlah pikiran kotor itu dari otakku ya Allah.”

Malam harinya aku langsung menyerbu dengan segala siasatku. Dengan pengalamanku selama ribuan tahun, aku memasuki mimpi Andini. Pertama-tama kuubah tubuhku jadi sesosok yang paling disayangi. Aku adalah Anton, pacarnya. Kemudian aku menemuinya dengan memberi sedikit kejutan.

“Doooor….!”

“Anton, ngagetin aja kamu!”

“Hai Din,pa kabar? gimana harimu, baik kan?” kurayu dia dengan lembut memesona.

“Baik. Kok nanyanya rada cuek gitu sih? Ngomong-ngomong ngapain kamu kesini? Apa kamu…” Sebelum Andini meneruskan pertanyaan itu aku bisa menebak isi hatinya.

“Yup…Exactly. Aku pengen kamu ngikutin tren sekarang. Setidaknya kamu coba dulu dan aku akan maklum kalau jilbabmu belum bisa lepas dari wajahmu yang cantik itu. Kalau kamu tidak menuruti keinginanku, ya udah…. berarti kamu tak sayang lagi ama aku. Bye.”

“Anton…!” suara Andini parau dan terdengar semakin melemah.

Kutinggalkan saja dia. Aku biarkan Andini memikirkannya sementara waktu.



Hari yang kutunggu datang juga. Tepat seminggu setelah kumasuki mimpi Andini, aku melihat dia dan boy friend-nya jalan-jalan disebuah mall, meskipun wajahnya terlihat malu dan tertutup oleh jilbab yang diikat di lehernya. Badannya yang seksi semakin jelas terlihat oleh mata-mata liar yang setiap saat dapat menerkamnya dimalam dan siang hari. Memang, dia baru mencobanya di mall,tapi aku sudah merasa agak puas. Aku yakin, tinggal menunggu waktu, Andini bakalan menuruti apa yang aku perintahkan atau bahkan melebihi dari yang aku harapkan. Aku menghilang di balik gelapnya malam.

Pada waktu suasana hatiku sedang senang tak terbilang dan di tengah suntuknya suasana yang menyengat di empat penjuru angin, sebuah pesan singkat muncul dibenakku:

MEMO
Segera kembali ke bumi, dua penjuru tak dikenal terlihat di daerah kekuasaanmu. Segera bereskan mereka kalau kau menginginkan jabatan yang setara denganku.

Panglima Empat Penjuru Angin Sektor I

Ketika aku baru kembali, kulihat dua buah rumah bersinar menyilaukan cahaya ke sagala arah. Setelah kuamati dengan cermat, ternyata orang-orang di dua penjuru itu adalah tugas khusus yang diberikan atasanku. Dari memori di kepala, kucocokan potret kedua sosok yang agak berjauhan itu. Tak salah lagi, mereka adalah sosok yang paling ditakuti oleh semua panglima empat penjuru angin. Oke! Mereka akan aku bereskan satu per satu.

Penjuru tak dikenal pertama
Kudekati pemuda itu. Semakin dekat kurasakan getaran dalam jiwaku semakin keras dan kencang. Baru pertama kali aku merasakan getaran mengguncang sekeras ini. Ciut hatiku tersentuh aura besar dari tubuhnya. Kenapa bisa begini? Padahal menurut data yang kuperoleh, roman kehidupan masa lalunya begitu pahit dan berlumpur. Segala jenis kejahatan pernah dia lakukan, bahkan dari saat umurnya baru sepuluh tahun. Dari menyontek, mencuri, berzina sampai membunuh.

Hmmm… aku tak perduli dengan masa lalunya. Yang penting aku harus menuntaskan tugas khusus ini, agar namaku bisa melambung tinggi dan bisa dipromosikan untuk naik pangkat menjadi panglima di empat penjuru mata angin. Aku sadar dari lamunanku. Kubuang khayalan dalam anganku untuk sementara.

Sebelum memulai tugas, kuperlihatkan dulu tindak-tanduk pemuda itu. Gila! Dia tidak hanya tahan beribadah sepanjang malam, tetapi juga berdoa berjam-jam di sajadahnya yang lusuh dan usang itu. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, meskipun itu ada di depan mataku. Selama ini aku mengira di daerah kekuasaanku sudah tak ada lagi manusia yang taat kepada Allah. Kudekati dia dengan penuh kewaspadaan.

“Wahai Pemuda Alim, apa kau masih mau melanjutkan ibadahmu walaupun hidupmu tak pernah beranjak dari kemiskinan?”

Pemuda itu tak berkutik dari duduknya. Sangking khusyuknya pemuda itu tak mendengarkan sepatah kata pun yang barusan kubilang.

“Hei Pemuda, kenapa kau beribadah sepanjang malam sedangkan sehidupanmu di akhirat nanti belum tentu masuk surga?”

Untuk kedua kalinya aku dicuekin. Kebetulan ibadah panjangnya sudah selesai, aku bisa menggodanya dengan leluasa.

“Dosamu sudah tak bisa dihitung lagi wahai Pemuda. Bagaimanapun kerasnya ibadah dan taubatmu, kau takkan bisa menutupi kebusukkan masa lalumu.”

“Aku tak tahu siapa kau, tapi yang pasti kau bukanlah Tuhanku yang berhak menentukan kategori taubatku. Jadi, kau sekedar membual dengan perkataanmu. Aku yakin bahwa keadilan Allah akan selalu menyelimuti bumi. Dan aku juga meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tak ada yang mustahil dimata Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah aku lakukan, insya Allah dengan taubatan nasuha, aku seakan terlahir kembali ke dunia. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dia menjawab dengan tenang, tapi sungguh sangat dalam.

Aku tak menyerah begitu saja. Masih tersisa sejuta macam godaan untuknya. Aku ganggu dia dari empat penjuru sekaligus; kanan, kiri, depan, dan belakang. Sia-sia. Tak satu pun celah yang kudapatkan dari empat penjuru itu. Padahal dari semua tugasku sebelumnya, melalui satu penjuru pun mereka sudah takluk di tanganku.

Sebelum aku mengambil langkah berikutnya tiba-tiba badanku panas sekali. Tak hanya itu, jiwaku seakan meledak oleh api yang memercik dan membesar. Aku tak tahan dan langsung mengambil langkah seribu menginggalkan pemuda itu. Kalau aku bergeming di tempat itu walau hanya satu menit, mungkin tubuhku akan hancur lebur tak tersisa.

Penjuru tak dikenal kedua
Aku memutuskan untuk pergi ke target kedua. Kulihat sosoknya sangat berbeda dengan pemuda sebelumnya. Rumahnya megah, istrinya cantik, dan uangnya berlimpah. Tapi ada kemiripan yang kurasakan. Salah satu di antaranya, aku merinding ketika mendekatinya. Mendekati seorang dermawan yang terselip nama dan perbuatannya di tengah kerumunan manusia, yang pelit akan harta dan selalu membanggakan hasil jerih payah mereka. Dia tak pernah dikenal, karena keikhlasan hatinya datang dengan mengayunkan sebagian harta dan tangan sucinya. Dan dia mendapatkan kekayaan itu tanpa sepeser pun uang haram yang berhasil mengubah arah pendiriannya.

Namanya Ade, 31 tahun, direktur PT. Gemilang Jaya Sentosa. Wow, keren! Dengan umur yang tergolong muda orang itu sudah jadi direktur, padahal selama ribuan tahun pangkatku tak pernah naik. Ah…..aku semakin ngelantur saja. Apakah karena selangkah lagi aku akan jadi panglima? Iya kali! Itu pun kalau aku berhasil menggoda direktur muda ini. Aku dekati saja orang itu dengan halus dan lembut.

“Tuan Dermawan, sebaiknya anda menggunakan uang itu untuk foya-foya atau sumbangkan ke tempat-tempat besar agar anda dikenal luas. Daripada menghabiskan hasil kerja keras anda hanya untuk menyumbang ke tempat kecil dengan nama samara, Hamba Allah.”

Dugaanku tepat, dia pura-pura tak tahu.

“Mr.Ade, Anda sudah lama menjadi orang yang diberkati, tapi nama anda tidak pernah muncul dilayar kaca, bahkan di sebuah radio daerah sekalipun.”

“Aku bukanlah budak yang bekerja demi suatu materi atau ketenaran semu. Aku hanyalah ciptaan bermakna dan kebetulan diberi kepercayaan untuk menyalurkan harta itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya,” orang itu menjawab dengan keyakinan tak terbantahkan.

“Satu lagi yang terus aku pegang teguh. Aku tak tahu kapan malaikat maut akan menjemputku. Sepuluh tahun, sebelas bulan, empat bulan, atau beberapa detik kedepan nyawaku akan terbang tak kembali. Dan bukanlah harta atau ketenaran yang akan menemaniku di alam sana, tapi amal ibadah dan sedekah itu yang akan tetap setia mendampingiku sampai kapanpun dan dimana pun aku berada,” aku balik diserang dengan pernyataan menyakitkan.

“Apakah anda tak…ma…u….,” aku tak bisa meneruskan kata-kataku. Sesuatu yang tak terlihat oleh inderaku telah membungkam mulutku. Badanku juga merinding dan terasa panas walaupun berada sekitar lima puluh meter dari orang itu. Secepat kilat kutinggalkan tempat yang menurutku tak beda jauh dengan neraka ini.

Suatu ketika, tanpa sadar aku memasuki mimpi seseorang tanpa identitas. Kulihat dua sinar yang sangat berkilau menerangi empat penjuru mata angin. Sinar itu datang dari dua penjuru tak dikenal dan sedang menerangi rumah dua manusia yang pernah aku goda dari penjuru satu, dan empat serta dua manusia lagi dari penjuru dua dan tiga yang saat ini berada di balik terali besi sebuah lembaga permasyarakatan. Empat penjuru yang disinari selanjutnya menjadi pembawa cahaya baru yang siap menerangi dunia bersama dua penjuru tak dikenal.

Aku berpikir sejenak tentang ihwal mimpi itu. Aku sekarang mengerti. Ternyata dua penjuru tak dikenal itu bisa setiap saat menyia-nyiakan segala usahaku. Rupanya Allah sengaja membuka dua penjuru yang tak bisa kutembus walau dengan seluruh balatentara empat penjuru angin. Tapi aku tetap akan mempergunakan setiap tipu muslihat untuk merongrong itikad baik setiap insan. Kini, aku hanya bisa berharap agar dua penjuru itu tersembunyi dalam jutaan kenikmatan semu di seluruh penjuru dunia.

Perjalananku takkan pernah berhenti dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang yang dalam sekali tanpa akhir, tanpa ujung. Kulangkahkan kaki diiringi sedikir rasa bimbang dan ragu. Sejuta tanda Tanya terbesit dalam diriku. Tapi dalam kesendirian ini aku masih saja tertawa di antara milyaran manusia yang akan menemaniku dalam kesesatan yang abadi.

“Ha….ha….ha….ha…!” Tawaku semakin meninggi seiring berjalannya sang waktu.


Bekasi, 12 Maret 2011

kupersembahkan untuk semua remaja muslim di Indonesia sebagai bahan renungan akan kerasnya kehidupan tanpa iman.

Biru

Biru


Betapa lama aku tertidur dalam hujaman waktu. Malam ini aku terbangun dalam ruang hampa tanpa oksigen,seolah-olah waktu mempermainkanku. Aku hadir dalam dunia yang baru kukenal, dunia yang dulu sempat singgah dihidupku. Cinta dan harapanku telah kembali utuh, dia kembali untukku (benarkah?!) saat ini. Apa aku masih tertidur pulas dalam beberapa waktu? Tidak! Aku sudah benar-benar bangun sekarang.

Memory masa awalnya putih abu-abu menekan keatas hingga akhirnya mengingatkanku kembali. Dimana aku tenggelam dalam kebodohan itu, arrrrrgh! Syukurlah kini dia benar-benar kembali. Dia yang dulu menjadi semangatku, dia yang bisa buat aku tersenyum disegala kesempatan. Dia yang menanam luka, hingga harusku membohongi perasaanku selama ini, dia yang membuatku belajar untuk bisa lebih bersabar.

Masih teringat jelas mama menanyakanmu, kabarmu, ibumu. Aku hanya bisa tersenyum kala itu. Sayang, itu jauuuuuh sebelum saat ini. Jauh sebelum aku dewasa, jauh sebelum aku benar-benar menjadi orang. Dimana dulu aku selalu ada disaat kamu jatuh, dihari bahagiamu, menjagamu kala sakit, dimana aku ingin menjadi sesuatu untukmu. Tapi, semua hanya sementara aku hanya selingan, dan tak pernah jadi sesuatu dimatamu.

Aku bukan lagi perempuan yang cengeng yang pernah dia kenal, bukan lagi perempuan yang bisa gampang percaya dengan orang lain, dan aku bukan lagi sosok yang peka dengan perasaan orang lain semua ini karena aku berkaca dengan apa yang dulu pernah terjadi. Sakit yang pernah aku rasa, sakit yang berkelanjutan itu semata-mata cuma kebodohan seorang remaja yang baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama yang akan menginjaki bangku SMA. Sudah lima tahun semua berlalu, aku tumbuh sebagai wanita dewasa pada umumnya, aku menata kembali hidupku yang lama terengkuh waktu.

“Saya Fahma Dwi Rakhmi, ingin mempresentasikan hasil riset yang telah saya lakukan pada saat pertukaran mahasiswi di Oxford University lima bulan yang lalu….”

Aku mahasiswi merangkap seorang penulis novel, aku bukan seorang perempuan yang mementingkan kuantitas tapi lebih kepada kwalitas. Dan aku bukan seseorang yang cantik,putih da sexy hehe bahkan aku seorang perempuan yang cokelat, gemuk, dan semampai hanya itu. Tapi, tak mengurangi rasa syukurku kapada-Nya.



Seusai kuliah, kusempatkan hari itu untuk mendownload beberapa referensiku untuk menulis, dan untuk sedikit berselancar didunia maya. Kubuka salah satu akun jaringan sosialku. Kulihat dilayar laptop ada sebuah pesan disana, kubuka kotak pesan. Ternyata dari kawan-kawan lamaku di Sekolah Menengah Pertama dulu yang turut mengundangku pada acara reuni akbar Gold Realition angkatan 2000-2010. Sambilku reply pesan itu, fikiranku melayang jauh bersama pesan itu. Di tahun 2010.

“Besok simulasi UN yang kedua arrrgh!” Teriak Putri teman SMPku dulu.

“lalalala telen aja dah bulet-bulet hehe,” ujarku.

Dibulan itu benar-benar bulan yang panjaaaaaaaaaaaaang banget rasanya. Tryout sana-sinilah, simulasi Ujian Nasional lah, ngomongin acara pelepasan, buku tahunanlah, bermalam-malaman ditempat bimbel semua itu jenis kerja kerasnya siswa-siswi kelas 9 SMP yang lagi pusing-pusingnya hehe. Eh ane malah pengen bisa deket sama si dia pas banget hari dimana simulasi UN kedua. Deket deh hehe, jadian deh hahaha dasar bocah. Semua terlewati begitu aja, semuanya. Ujian Nasional udah berakhir, Ujian Sekolah juga udah selesai, Ujian Praktek apalagi, Ujian Teori, Ujian Essay, Ujian Blok,Ujian Batin, Ujian Fisik, Ujian dari segala ujian deh pokoke.

Liburan panjang nunggu hasil dari kerja keras yang udah diusahain se-usaha-usahanya hehe. Seneng banget liburan bisa sama-sama orang yang kita sayang, bisa kenal sama keluarganya. Tapi, liburan juga sibuk untuk nyiapin buat masuk SMA.

Tiba-tiba aku terbangun dari khayalan ditahun 2010 itu, dua buah pesan terlihat kembali dari layar laptopku yang pertama balasan dari teman-teman SMPku dan yang satu dari dia. Menanyakan bagaimana kabarku saat ini, aku kembali terbang terhisap waktu. Mengulang kembali lembaran-lembaran waktu yang pernah ada.

Semua yang gak ingin terjadi malah terjadi, semua itu. Andai bisa ku ulang dan ku hapus bagian-bagian tertentu mungkin (arrrgh!) tak kan seperti ini jadinya. Hingga sampai dihari itu tepat beberapa minggu aku menginjaki bangku SMA. Dia berubah sikap, dingin, dan aneh.

“Andai bisa gue ulang waktu, gue cuma mau hapus dibagian-bagian tertentu dalam lima bulan itu! Bahkan gue gak akan memulai ini semua kalau cuma untuk lima bulan. Gak mau ada yang kecewa selain gue.” isak menyelimuti hari itu. Kesal, bingung, marah, tangis bercampur jadi satu hari itu. Bingung mau teriak sama siapa, walaupun aku tau itu haknya dia. Tapi, aku lebih tau banyak. Masih banyak yang dia sembunyiin dari aku.

Sejak hari itu, ya sejak hari itu semua kembali dari Nol. Semua kembali kutata sedemikian rupa untuk menyembunyikan rasa kecewaku ini. Kesimpulan demi kesimpulan berteriak-teriak, bertalu-talu dibenakku, siapapun yang dapat mendengarnya akan pecah gendang telinganya.



“Alhamdulillah, saya baik. Mas sendiri gimana kabarnya? Ibu apa kabar mas?” ku balas pesannya dengan singkat.

Tak lama kemudian ku lihat dilayar laptop ada sebuah pesan balasan darinya.

“Alhamdulillah, mas dan keluarga baik. oh iya kamu ganti nomer ya?”

Sebelum aku membalasnnya, ada sebuah pesan muncul dilayar. Pesan susulan darinya.

“Minta dong boleh tak?” tanyanya.

“085691938228” Kubalas pesan darinya, beberapa detik kemudian aku segera sign out dari akun jaringan sosial itu sementara pesan balasan darinya tak kubuka.

Kunikmati beberapa menit untuk mendengarkan hiburan diradio telepon genggamku, kudengar potongan lagu Music Of My heart dari N’SYNC. Lagu yang dulu selalu mengingatkanku pada sesuatu yang sampai hari ini ada dalam diriku.

you taught me to run…
you taught me to fly…
help me to free the me inside…
help me hear the music of my heart…
help me hear the music of my heart….



Pagi menjelang. Seruan sang pencipta membahana diseluruh sentero bumi untuk selalu mengingat-Nya. Sujud kala subuh itu terasa panjang dan dalam, diakhir shalat kusisipkan do’aku untuk dia dan keluarganya hal yang selalu ku lakukan disetiap akhir shalatku. Dalam hati kubertanya. Bagaimana kabar ibunya? Sudah lama sekali tak pernah main kerumahnya, aku kangen sama ibu, semoga ibu sehat wal’afiat. Amin..

Yang selalu kuingat dari ibunya adalah kata-katanya ini jangan putuskan tali silaturahminya ya Fahma, kamu jadi adik perempuannya masnya aja ya.. dengan logat jawanya yang halus. Aku sayang dengan keluarganya.

Hari ini aku ndak ada jadwal kuliah, jadi yah dirumah aja. Palingan yah bisa ngejar deadline nulis dan posting-posting tulisan pendek diweb. Sejak SMA aku terbiasa untuk selalu dirumah kalau sedang libur. Soalnya waktu, tenaga, fisik sudah seharian terpakai setiap hari disekolah. Jadi, setiap weekend jangan heran aku pasti ndak mau diajak kemana-mana apalagi yang ndak penting tujuannya hehe ,ada pengecualian kalau lagi mood yah paling mampir ke Book Store hunting buku. Suara ping terdengar dari handphoneku,sebuah pesan masuk dari nomer tak kukenal. Kubuka pesan itu dan kubaca.

“Assalamu’alaikum, benar ini nomernya Fahma?”

“wa’alaikumusallam, ya benar siapa ini?” seketika jariku beradu dengan keypad membalas pesan tersebut.

“Alhamdulillah, ini aku Gilang. Ingat?”

Gilang. Hatiku mengucap ulang nama itu, ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Yang seakan menari-nari didalam sana.

“Ya, akh pasti aku ingat” kubalas pesan darinya dengan salah tingkah.

“Aku kira sudah tak ingat lagi, sudah lupa tetutup dengan ilmu-ilmu yang kian menggunung yang ada dikepalamu saat ini setiba pulang dari Oxford University hehe, afwan ukhti aku bercanda.”

“Huuu bisa saja hehe” Kubalas pesannya. Ada yang aneh dengan hatiku,aku seperti berharap dia telah berubah seiring dengan kembalinya dia.

Kutinggalkan handphoneku didalam kamar, aku bergegas turun dari kamarku menuju ruang makan. Entah mengapa ada yang aneh dengan hatiku saat ini, aku seperti kembali hidup setelah lama mati. Aku seakan baru merasakan kembali apa itu rasa paling norak yang biasanya ABG rasakan. Seraya ku berdo’a semoga ini tidak berlebihan, semoga hatiku tidak berlebihan. Karena sampai kiamat pun setan akan tetap mengganggu umat nabi Adam a.s lebih dekat dari urat leher.



Kembali aku membenamkan diri didalam kamar, kulihat tiga pesan bertengger dilayar handphoneku. Kulihat dua pesan dari Gilang, dan yang satu dari Raffa. Kubuka pesan dari Raffa, dia menanyakanku apa aku ada dirumah. Setelahku balas pesan dari Raffa, kubaca pesan dari Gilang.

“Ada waktu ketemu malam ini, ukhti?”

“Ndak ada jawaban, ndak mau ya?” Sebelumku balas ,aku membaca satu pesan lagi darinya.

“Ada waktu, tapi harus malam ya?” Kubalas pesannya dengan semangat 45.

Tak lama pesan darinya muncul, “Okay ,jam 4 sore ditempat biasa ya. Gimana?”

“Boleh, okay jam 4 sore disana” Kusudahi berbalasan pesan dengannya, fikiranku kembali menggali masalalu ,tentang tempat makan itu. Masanya dia dan aku.



Kukenakan pakaian berwarna merah di padu dengan rok panjang berwarna hitam, dan jilbab panjang berwarna putih. Sungguh anggunku didepan kaca, maha besar Allah dzat yang maha pencipta yang paling baik. Kuniatkan ini hanya untuk melepas rindu dan untuk mempererat tali silaturahmi, hanya itu tanpa ada maksud dan tujuan yang lainnya. Aku segera meminta diantarkan ketempat itu oleh Pak Wan.

Setibanya disana, kuedarkan mataku keseluruh pelosok tempat makan itu. Sungguh tak ada yang berubah semua hampir sama seperti dulu tidak ada yang berubah yang ada hanya tambahan meja dan kursi dimana-mana, seketika butiran bening membasahi pelupuk mataku. Ya rabbi kuatkanlah aku…

Tak lama aku merasa melihat dia dan yap itu memang dia, seluruh hawa dan waktu seakan menekanku. Seakan-akan panas sekali, aku dan dia terlihat berkeringat. kecuali aku yang terlihat biasa saja karena mengenakan jilbab. Obrolan-obrolan ringan dia edarkan kepadaku, pertanyaan demi pertanyaan ku lontarkan untuknya. Seperti teman biasa, ya memang teman biasa.

“Tempat ini nggak ada yang berubah ya? Persis sama seperti terakhir kita kesini dulu, iya kan?” Tiba-tiba dia menanyakan hal ini kepadaku.

“Ya, sudah lama sekali tidak pernah kesini. Mas, aku.. hmm.. gak jadi deh hehe”

“Loh kok nggak jadi? Kebiasaan jelek dari dulu ndak berubah-berubah ,bikin orang penasaran aja hehe” candanya.

“ih gitu, hehe ndak kok aku kangen sama ibu kapan-kapan aku boleh main kerumah kan? Sekalian nengokin ibu, sudah lama banget ndak kerumah kamu.”

“Kangennya sama ibu aja ya, Fahma?”

“hehe.. iya dong masa kangen sama kamu mas”

Ceees! Ada sesuatu yang jatuh dihatiku, Sesuatu yang tak pernah sebelumnya. Ah! ini hal yang biasa, namanya juga sudah lama tak bertemu. Ini hal yang manusiawi dan wajar kok, fikirku matang.



Dulu aku pernah bilang sama Raffa dan Aulia, kalau sebelum aku pergi untuk pertukaran mahasiswi selama itu pun aku tak pernah bertemu dengannya. Terakhir aku bertemu dengannya hanya pada saat acara pensi diSMAku dulu, itupun aku selalu menghindari melihat matanya. Itu terakhir kalinya aku melihat dia, dan sekarang rasa rinduku terbayar sudah. Tapi, entah mengapa aku tetap takut dan malu untuk meneggakkan kepalaku saat bertemu dengannya. Apa yang sebenarnya salah? Aku selalu takut untuk memulai kisah cinta yang sudah kutinggal di 2010 lalu.

“Oh, ayolah Fahma… terus sampai kapan kamu masih ingin begini?!” pertanyaan Tyan sahabat lamaku dibangku SMA.

Aku nggak pernah tau kapan ini akan berakhir, aku nggak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain. Oh! ini benar-benar terlalu bodoh memang, tapi harus seperti apa lagi? Phobia. Aku nggak pengen pacaran lagi, yan! Cukup, dia yang terakhir.

Aku sanggup untuk bisa melihat dia dengan orang lain, sama seperti dulu dia bersama sahabatku itu. Hanya saja yang kini berbeda, aku melihat dia dari segi seseorang yang pernah ada disisinya. Sakit memang sakit, aku merasa sudah terbiasa untuk menyimpan rasa ini untuknya. Sampai suatu saat dia akan mengerti, siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdo’a semoga..

Dia tak jauh berbeda, aku tak lagi mengenal pribadinya. Apakah dia kembali untukku? Atau hanya sesuatu untuk mempermainkanku seperti dulu? Istighfarku dalam hati, aku gak boleh su’udzan dengannya. Dia mulai dewasa. Kulihat dia mulai berpakaian dengan rapih. 25 tahun sudah usianya, lima tahun diatas diriku. Sementara waktu yang kini seakan mempermainkanku, hampir saja aku lupa akan waktu yang menunjukkan pukul 17.30 saat itu.

“Astaghfirullah, ini sudah sore sekali. Hmmm… mau pulang.. gak kenapa-kenapa kan?”

“Yasudah ,aku antar ya boleh kan?” Tanyanya.

“Syukran akh, baik sekali.” Jawabku sekenanya.

Hilir waktu seakan-akan diperlambat jalannya. Masih kuingat jelas dia mengantarku pulang, masih kuingat malam dimana dia bercanda, tertawa bersamaku dibawah ratusan bintang. Bahkan masih sangat kuingat bagaimana dia menghancurkan rasa percayaku, ketika aku tahu masih banyak yang belum dia katakan dengan jujur. Aku tak pernah berharap lebih, hanya saja perasaan ini yang selalu ingin memperhatikannya. Setan benar-benar jelas ada diantara kita.



Sejak hari itu, kami mulai saling mencoba mengenal lagi satu dengan lain. Mencoba untuk lebih menghargai lagi. Tanpa suatu rasa yang paling norak yang biasanya ABG rasakan.

“Minggu besok aku harus kembali ke Amrik, untuk mengurus sisa waktu pertukaran mahasiswiku disana. Yah, sekitar satu semester setelah kita liburan baru aku bisa pulang kembali.” ujarku kepada Raffa dan Aulia.

“Yah ,ambrong! Kamu kan baru pulang Ma, masa mau balik lagi sih. Lia mau minta diajarkan presentasi Hitung Dagang menggunakan bahasa yang formal dalam bahasa Inggris tuh.” jawab Raffa kesal.

“Aku minta maaf sekali, mungkin kalian masih kangen sama aku hehe soal Lia, masih bisa kok say! kan aku masih satu minggu lagi disini” Jawabku menenangkan mereka.

“Baiklah, sisa satu minggu disini ya. Fa, kita nginep dirumah Fahma aja gimana?”

“Boleh boleh”

Raffa dan Aulia, sahabatku sejak dibangku SMP dulu. Merekalah yang tahu semua kejadian yang sedang menimpa diriku. Mereka lebih tau aku lebih dari teman-teman biasaku. Mereka juga yang selalu ada saat aku sedang merasa benar-benar butuh mereka. Mereka yang ,yah mereka yang sangat tahu apa yang terjadi padaku 2010 yang lalu itu. Mereka sahabat yang benar-benar sahabat. Kita selalu berbagi saat situasi apapun, dan tak ada saling mengkhianati seperti memakan bangkai saudara sendiri. Hanya mereka saksi betapa rapuhnya remaja berumur 15 tahun kala itu, mereka yang sangat tahu lima bulan yang aku lewati bersama Gilang itu. Hanya mereka sahabat yang benar-benar sahabat.



Senja sore terlihat sangat manis tergantung dilangit, berpadu seribu satu warna terlukis. Indah nian pemandangan ini, malam terakhirku disini. Untuk esokku kembali menimba ilmu dinegeri orang. Beberapa kali kulihat jam, dan melihat keluar dari balkon kamarku. Mencari-cari Aulia dan Raffa. Pergi kemana mereka? Selalu saja membuat orang khawatir. Aku mencoba menghubungi kedua telepon genggamnya tapi tak ada jawaban sama sekali. Sungguh klasik, paling beli ice cream pikirku.

Setengah jam kemudian mereka datang, ya! Benar saja mereka pulang membawa satu kantong besar beisikan macam-macam makanan kecil. Mereka memang paling tahu.

“Eh, lama banget deh belanja aja. Bosen tau.” Kesalku.

“Hehe maaf ya sayangkuh kita ada keperluan sedikit diluar.” Ujar Aulia.

Keperluan? Ah yasudah tak perlu diributkan. Mungkin memang keperluan mendesak pikirku.

Diluar sana, dikediaman Gilang. Ada seorang laki-laki yang sedang bingung harus berbuat apa setelah ada dua orang perempuan menemuinya beberapa saat yang lalu.

kamu nggak pernah tau, seperti apa yang dirasakan Fahma bertahun-tahun Lang. Melihat kamu berdua dengan orang lain, ya memang dia tau itu hakmu. Tapi, dia berharap kalau kau benar-benar akan kembali untuknya. kamu tau? Sampai hari ini kamu masih menjadi semangatnya, dia selalu bicara kenapa sih harus fisik yang dilihat. Kenapa kamu gak pernah lihat orang yang selama ini ada saat kamu jatuh, kamu nggak pernah lihat orang yang berusaha untuk bisa berbaur dengan keluargamu. Bahkan dia mengejar pertukaran mahasiswi itu karna dia pikir dengan berada lebih jauh dengan kamu,dia akan jauh lebih cepat bisa melupakanmu seutuhnya!

dia gak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain lang, dia bahkan gak pernah jalan dengan satu orang laki-laki pun kecuali hanya teman biasa. Dia memang bukan seorang yang punya kecantikan fisik. Tapi, masih ada yang bisa dibanggain dari dia. Kejar dia kalau kamu kembali memang untuk dia. Dan pergi yang jauh jangan pernah hubungi dia, kalau memang kau kembali untuk rasa sakitnya.

Suara-suara Raffa dan Aulia seperti mengiang dikepalanya, seperti menekannya dan membuatnya merasa takut kehilangan.




Subuh menjelang, langit masih gelap segelap apa yang sedang aku rasakan sekarang. Ada sesuatu yang melarangku untuk pergi. Tapi, apa? Sejuk udara pagi semakin menusuk diubun-ubun. Shalat subuh dengan sujud yang panjang dan dalam dihari ini membuat kegelisahan sirna dalam hatiku. Kusisipkan jutaan do’a untuk orang-orang yang aku sayangi. Untuk ibunda yang sampai detik ini setia menemaniku, kedua kakakku yang selalu membantu moriil maupun materiil, Raffa dan Aulia yang siap dengan rasa perduli terhadapku, dan Dia serta keluarganya yang selalu membuatku menitikkan air mata setiap kali mengingatnya. Akankah semua yang dia katakan itu benar-benar akan terjadi? Benarkah dia akan selalu ada disaat aku butuhkan? Atau ,benarkah suatu saat ada saatnya aku dan dia kembali? Jutaan tanda tanya berpalung dibenakku.

Hari ini aku kembali ke negeri orang untuk melanjutkan study yang tersisa disana, entah mengapa hari ini berat sekali meninggalkan tanah air. Berbeda dengan semester yang lalu aku pergi tanpa beban. Apa mungkin karena pertemuanku dengannya itu? Mungkin. Ya, mungkin. Kulangkahkan kaki menuju anak tangga pesawat. Selama beberapa detik kumenoleh kebelakang mengedarkan pandangan keseluruh penjuru Bandar udara. Entah apa yang kucari, sesuatu yang tertinggal di tanah air.

Pesawat pun meninggalkan landasan pacu sekarang, entah apa yang masih kucari perasaanku tertinggal ditanah air bersama dia yang kusayangi. Benakku ingin aku terus melihat keluar sampai yang terlihat hanya putihnya awan menutupi jendela. Ada apa dengan ku? Apa yang akan terjadi, apa pun itu tak kan menggoyahkan niatku berburu ilmu dinegeri paman sam tersebut.

Sementara jauh dibandar udara, Gilang terengah-engah mengejar dirinya. “Semoga masih bisa ku kejar dia dilain kesempatan..”



Empat tahun kemudian..

Aku benar-benar telah tumbuh menjadi dewasa, aku bahkan sudah lupa untuk pulang ke tanah air tercinta. Setelah pertukaran mahasiswiku berakhir pada setengah semester setelah keberangkatanku. Aku mengurus mutasi kepindahanku untuk benar-benar melanjutkan studyku dinegeri paman Sam ini. Dan setelah kelulusanku hingga aku dapat menyisipkan gelar diawal namaku itu, aku bekerja menjadi wartawan VOA dan penyiar radio local disana. Pikiranku melayang jauh ke tanah air, tidakkah mereka merinduku? Pertanyaan yang cukup bodoh, Raffa dan Aulia hampir dua hari sekali memintaku pulang secepatnya hehe. Bukan, bukan mereka yang sedang aku bicarakan. Tapi, Gilang. Apa dia tidak merinduku? Oh! Ini baru pertanyaan yang konyol. Mungkin dia sudah menikah dengan orang lain jauh ditanah air sana. Itu artinya semua yang dia bilang itu bohong kan? Dia bahkan tak pernah mencoba atau melihatku sebagai sesuatu untuknya. Aku semakin tak ingin pulang.

Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik tirai tipis dilantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari sore menggantung condong kebarat berbentuk piring putih susu.

Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh dengan pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di ibukota Amerika Serikat, The Capitol and The Mall, tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan hehe. Posisi kantorku hanya selemparan batu dari di The Capitol, beberapa belas menit naik mobil ke kantor George Bush di Gedung Putih, kantor Colin Powell di Departement of state, markas FBI dan Pentagon. Lokasi impian banyak wartawan.

Kamera, digital recorder ,dan tiket aku benamkan ke ransel hijau zamrud ku. Tanganku segera bergerak melipat layar Apple PowerBook-ku yang berwarna perak. Bunyi ping.. halus dari messenger menghentikan tanganku. Layar berbahan titanium kembali aku kuakkan. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip diujung kanan monitor. Dari seorang bernama “Gilang”

“maaf, ini fahma dari Indonesia?”

Jariku cepat menekan tuts.

“betul, ini mas gilang? indonesy?”

Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi.

“ya, Alhamdulillah sudah lama sekali tak ku dengar kabarmu. Bagaimana kabar disana?”

Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Jariku menari ligat di keyboard.

“Alhamdulillah aku baik mas hehe. mas sendiri?”

“Alhamdulillah baik juga, aku lihat namamu jadi panelis di London minggu depan. Aku juga akan datang mewakili Indonesia disana, kita bisa bertemu disana. kamu bisa jadi guide ke Trafalgar square seperti yang ada di buku yang dulu kamu kasih tahu ke aku. Bagaimana?”

Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.



Desember.

Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas. Dua air mancur besar memancarkan air tinggi ke udara dan mengirim tempias dinginnya ke wajahku. Square ini dikelilingi museum berpilar tinggi ,gedung opera, dan kantor-kantor berdinding kelabu. Yang kuingat National Gallery yang tepat berhadapan dengan square ini mempunyai koleksi kelas dunia seperti The Virgin of the rocks karya Leonardo Da Vinci, Sunflowers karya Van Gogh dan The Water-Lily Pond karya Monet. Hebatnya, semua ini bisa dilihat dengan gratis.

Tak lama kulihat dari kejauhan seorang laki-laki mendekat, dari jauh terlihat jelas dan tak pernah berubah rambutnya yang tak pernah rapih itu. Dipadu dengan jaket tebal berwarna cokelat. Dia tak pernah berubah, setelah sekian lama tak bertemu masih dapat ku kenali cara dia berpakaian meskipun dari jauh.
“Assalamu’alaikum Fahma, adiknya mas Gilang yang pasti makin pintar saja sekarang hehe” candanya.

“Wa’alaikumusallam mas Gilang yang jelek dan gak pernah rapi hehe sudah lama sekali ndak bertemu. Aku kangen sekali rasanya.” Manjaku.

“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya dik. Dihari keberangkatanmu empat tahun yang lalu aku mencoba mengejarmu ternyata terlambat. Pesawat sudah meninggalkan landasan pacu saat itu. Aku merasa sangat bersalah.”

“Ada apa ini mas, kenapa tiba-tiba..” belum selesaiku bertanya dia memotong kata-kataku.

“ya, aku merasa sangat bersalah sudah menyia-nyiakanmu. aku nggak pernah tau kalau semua itu benar-benar menjadi phobia untukmu. bahkan kamu nggak pernah untuk bisa memulai dengan siapapun sejak itu. bodohnya aku.”

“Kalaupun kita ndak ditakdirkan bersama. yah memang itu yang Allah mau kan, mas? Aku nggak pernah bisa karna aku yang nggak mau.”

“aku bukan lagi seorang yang cengeng, seperti dulu kamu kenal sama aku mas, aku bukan perempuan yang selalu nangis setiap ingat apa yang udah kamu lakukan ke aku. hanya saja aku ingin menemukan semuanya dalam bentuk yang nyata. karna bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfiir.”

“jauh sudah mas, semua itu jauh dibelakang kita. Sembilan tahun sudah aku coba untuk sendiri. Tapi, aku bisa kan? Bahkan aku tumbuh menjadi seorang yang bisa dibanggakan keluarga. Itu nggak terlepas dari peran kamu. Kamu selalu jadi semangat buat aku. Bahkan sampai dengan hari ini. Dan itu semua hak aku.”

“aku bisa ikhlas kalau memang Allah tidak menginginkan apa yang aku inginkan.” Jawabku panjang-lebar.



Aku bangun disepertiga malam terakhir ,kubasuh wajahku dengan air wudhu. Kumulai shalat malamku dengan khusyuk dan dalam. Kudengar detak jantungku seperti bisa ku dengar detak jam kala itu. Ku berdo’a untuk apa yang kuinginkan, aku serahkan apapun yang terbaik untukku kepada-Nya. Bila ia inginkan aku kembali dengannya. Maka aku akan kembali.

Pertengahan February ku putuskan untuk pulang ke tanah air. Akanku tebus rasa rinduku kepada ibunda. Memohon ampun dan belas kasihannya. Sesampainya di Bandar Udara aku dijemput oleh Raffa dan Aulia. Kucurahkan semua yang terjadi di Trafalgar Square Desember lalu. Benarkah dia akan kembali kepadaku? Tanda tanya masih menyelimuti hatiku.



Masih ingatkah dia apa yang telah dia lakukan kapadaku? Bukan itu. Tapi masih ingatkah dia semua yang sudah terlewati itu? Lima bulan itu, tempat makan itu, rumah sakit itu, liburan, semua dan semuanya! Aku gak pernah jadi sesuatu dimatanya. Bahkan apa yang sudah aku dan dia lewati nyatanya hanya hal yang fiktif yang pernah ada. Aku nggak ngerti seperti apa harusnya aku bersikap. Yang aku tahu Allah menjabah do’aku bahwa aku tak ingin bertemu dengannya sebelum aku bisa buktikan sesuatu.

Apa dia bisa merasakan seperti apa aku selama Sembilan tahun menunggu? Bahkan asa pun tak ragu mengekangku.



February.

Biru telah kurasakan saat ini,semua kembali sediakala. Allah telah memperlihatkan kekuasaannya. Maha Suci Allah tuhan seluruh alam dan isinya.

Hari bahagiaku bersama dia. Kurasakan kembali, rasa paling norak yang biasa ABG rasakan. Aku ingat 2010 dimana remaja berumur 15 tahun bersama dia yang jauh lima tahun diatasnya. Sekarang dia datang utuh untukku. Dia tak pernah bohong, bahwa ada saatnya dimana aku bisa bersamanya lagi. Aku merasakan cinta mulai tumbuh seusai akad nikah, inilah yang aku inginkan. Maha Besar Allah yang maha mendengar segala asaku.

Ribuan malam akanku lewati bersamanya. Hanya dengannya, mendendangkan alunan syair puisi cinta seperti di pinggir sungai nil. Mengarungi satu lautan dengan satu perahu. Dan untuk melahirkan generasi-generasi titipan-Nya yang sangat indah.

Kudendangkan potongan lagu Dalam Mihrab Cinta, sebelumku memulai ibadah ku malam ini bersamanya, menyempurnakan sebagaian agamaku. Sungguh Allah maha mendengar dan maha pengabul.

suatu saat ku kan kembali sungguh sebelum aku mati dalam mihrab cintaku berdoa semoga
suatu hari kau kan mengerti siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdoa padanya…




Bekasi, 18 Maret 2011

NB: karena bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfikir.

Thursday, 9 September 2010

UNTUK SESUATU YANG HILANG

Pintu dari kayu triplek itu berderit ketika seorang klimis dan necis membukanya. Sebetulnya ia sudah hati-hati ketika membuka pintu kamar yang tidak pernah dikunci oleh penghuninya . tapi berderit juga. Di dalam kamar banyak kertas berserakan dan seorang lelaki kurus meringkuk kelelahan disebuah dipan butut.

Gilang memperhatikan wajah cekung dan lelah itu. Padahal ketika pertama gilang mengenalnya ,tidak memprihatinkan seperti ini. Lelaki kurus ini sedang menderita suatu penyakit. Tapi entah apa, karena jika gilang menanyakan ,lelaki itu tidak pernah membicarakannya. Tampaknya ia ingin menyimpan dan menelan penderitaannya sendiri. Betapa beragam persoalan memancar dari wajah kerasnya.

Gilang lalu memperhatikan saja kertas-kertas berserakan disebelah mesin tik. Sementara dibawah meja kulit-kulit kacang dimana-mana. Juga gelas kopi yang tinggal ampasnya tergeletak begitu saja diatas meja. Dia membuka jendela kamar lebar-lebar dan udara kamar terasa lebih segar sekarang.

Lelaki kurus itu masih saja meringkuk.

“masih tidur, jar?” gilang menyentuh pundak lelaki itu.

Kepala berambut gondrong dan kusut itu bergerak. Terangkat. Sepasang mata yang lelah kurang tidur terbuka menyipit. Lalu matanya diusap-usap dengan punggung jari-jarinya.

“Sudah pagi lagi rupanya, lang?” begitu selalu katanya sambil menguap. Dia bangkit dan meluruskan kedua kakinya.

Gilang selalu tersenyum mendengarnya.

“sudah jam sembilan.” Katanya, “kuliah, enggak? Gue lagi enggak ada kuliah nih!” gilang menuju jendela. Memandang keluar . matahari dimusim penghujan memang jarang sekali kelihatan. Wajar saja kalau banyak orang yang tambah lelap tidak memperdulikan waktu, batinnya.

“kalau elu enggak ada kuliah juga ,kita keluar kota yuk!” ajak gilang.

Fajar bangkit sempoyongan menyambar handuk yang menggantung disandaran kursi.

“gue mandi dulu.” Katanya sambil berharap semoga tidak perlu mengantri.

Ditempat kostnya ini cuma ada satu kamar mandi dengan sepuluh orang lelaki yang suka bangun seenaknya ,sehingga setiap jam sibuk pasti mereka teriak-teriak minta giliran lebih dulu. Nyatanya fajar memang harus antri. Dia berteriak dan menggedor pintu kamar mandi. Yang di dalam malah tertawa menyalahkan ,kenapa selalu bangun kesiangan.

Fajar menyender ditembok. Ya ,kenapa aku selalu bangun lebih siang dari yang lain, sehingga gilang suka ikut-ikutan kesiangan pergi ke kampus? Padahal gilang bisa saja dari rumah langsung ke kampus dengan mobil sedan mulusnya. Tapi gilang hampir setiap hari menjemput dan selalu sabar membangunkan atau menunggui fajar mandi.

Awalnya fajar bisa kenal dengan gilang secara kebetulan saja. Ketika usai kuliah sastra modern ,di pelataran parkir dia melihat kunci mobil. Dipungut dan diperiksanya isi dompet itu. Dia meneliti setiap nomor mobil yang diparkir. Dibanding-bandingkan dengan es te en ka di dalam dompet. Ketika matanya tertumbuk pada sebuah sedan warna biru malam ,dia tersenyum. Apalagi tidak jauh dari situ dia melihat sekelompok lelaki elit sedang memelototi setiap jengkal pelataran parkir. Mereka mencari-cari sesuatu sambil tertawa-tertwa. Fajar menonton saja dibawah pohon angsana sambil memperhatikan seseorang yang lebih serius dan menggerutu terus.

Ketika mereka mulai bosan mencari dan meninggalkan si serius yang malang ,fajar tersenyum-senyum menghampiri. Kunci mobil diputar-putarkannya.
Si serius melotot geram. “jadi lu udah sejak tadi nemuin kunci mobil gue?” katanya kesal.

“ya!”

“ah sialan lu!”

“Sekarang ,lu mesti jadi supir gue!” fajar tertawa menyebutkan sebuah kantor redaksi majalah. “hitung-hitung bonus buat gue yang nemuin kunci mobil lu!” katanya sambil melemparkan kunci mobil.

Si serius itu, gilang ,menangkap kunci mobil dan menatap dewa penolongnya dengan beragam perasaan. “kenapa baru elu kasiin sekarang, heh?!” hatinya rada jengkel juga ketika membuka pintu mobil, kerena tahu sejak tadi dewa penolongnya menonton dibawah pohon.

Fajar tertawa dan masuk ke dalam mobil. “gue cuma kepingin nonton ,bagaimana orang macam elu mempertanggungjawabkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya!” katanya ringan.

Gilang mengerutkan keningnya. Kalimat yang menusuk buatnya. “ini mobil babe. Gue dikasiih kepercayaan dan mesti mempertanggungjawabkan kepercayaan itu.” Belanya tidak enak.

“itu yang gue maksud! Babe lu ngasih lu mobil. Bisa enggak lu ngejaga dan ngerawat pemberian babe lu. Pasti babe lu ngeluarin keringat dan darah buat ngebeli mobil ini!”

Gilang melirik lelaki jantan bertampang seniman itu.

Fajar tersenyum memandang gedung-gedung bertingkat. Baginya .memiliki benda-benda mewah adalah diluar batas kesadarannya. Jangankan memiliki ,memimpikannya saja dia tidak sanggup. Sekarang saja ,dia hanya bisa hidup dengan mengandalkan honor-honor tulisannya. Dia memang mesti pandai mengatur dan mengekang keinginannya. Yang terpenting baginya adalah tidak menunggak uang kuliah dan sewa kamar.

“ngapain ke redaksi?” Tanya gilang ingin tahu.

“ngambil honor! Cerita gue dimuat lagi!”

Gilang kini tertawa. “elu tukang ngekhayal rupanya!”

“enggak selalu.” Fajar meringis.

Setelah dari redaksi, gilang mengajak fajar makan siang dirumah makan ala barat. Tapi fajar keberatan. Gilang terus memaksa dengan alasan merayakan perkenalan mereka.

“gue nggak biasa makan ditempat kayak gitu.” Sederhana sekali alasan fajar. “perut gue terbiasa dengan warung tegal!” fajar tertawa getir.

Gilang memperhatikannya, hatinya tersentuh juga ketika mendengar pengakuan dari sobat barunya tadi. Lantas dia jadi malu sendiri, karena baginya makan di rumah makan ala barat seperti keluar masuk rumah saja. Bukan lagi sekedar gengsi atau symbol status ,tapi sudah menjadi kebutuhan.

“gimana kalau gue yang ngebossin lu makan diwarteg?” fajar menawarkan sambil tersenyum lucu.

Makan diwaretg? Gilang menggigit bibirnya. Lalu terbayanglah sebuah tempat yang kotor, bau keringat dan lalat-lalat. Apalagi perutnya agak-agak sensitive. Buru-buru gilang menggeleng. “nggak deh.”

Fajar tersenyum lagi. “oke kita ambil jalan tengah saja. Elu makan ditempat yang lu suka dan gue juga makan ditempat yang gue suka.”

Gilang menggumam tidak percaya. Dia baru sekali ini ketemu orang yang kayak begini. Ketika gilang memarkir mobil, dia memperhatikan sobat barunya yang aneh. “elu serius ,jar?” tanyanya.

Fajar mengangguk pasti dan keluar dari mobil.

“gue makan disana!” fajar menunjuk warung-warung yang berjejer di pinggir jalan. Dia berlari manyebrangi jalan.

Gilang memandangnya terus. Dengan berat hati dia melangkah masuk ke rumah makan ala barat langganannya. Akhirnya mereka merayakan perkenalan mereka ditempat kesukaan mereka sendiri-sendiri. Ketika makan, gilang dan fajar sibuk dengan fikiran masih-masing.

Gilang mambayangkan wajah seorang lelaki yang menghadapi hidup dengan penuh perjuangan. Dunia lelaki itu berbeda denganku. Secara materi semua yang ada padanya bertolak belakang, batin gilang terus. Dan fajar tentu kebalikannya. Biarkan saja begitu. Manusia sudah ditakdirkan hidup pada porsinya masing-masing oleh tuhan.

Setelah makan, gilang mengantar fajar ke tempat kostnya. Malah gilang turun menyusuri lorong-lorong ketika fajar mengundang untuk mampir. Setelah berada di kamar berdinding triplek yang dipenuhi grafiti dan poster-poster grup band rock, gilang nyeletuk “kok nggak ada mesin tik atau computer?”

Fajar tertawa sambil membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Katanya sambil tersenyum,”semuanya gue tulis tangan!”

Hah?! Gilang betul-betul tidak percaya.

“benda yang elu sebut tadi sangat langka dipondokan ini. Kawan-kawan sekost pun, kalau perlu banget buat bikin laporan ,pasti locat sana-sini nebeng ngetik. Yang punya duit ya ke rental computer. Kepercayaan untuk zaman sekarang udah mahal harganya, guy!” fajar berfilsafat sedikit.

Gilang duduk dibibir jendela. Dia mendengarkan dengan serius.

“tapi, gue punya tulisan tangan yang bagus! Buktinya cerita-cerita gue selalu dimuat!” fajar tertawa keras.

Setelah pertemuan itu, mereka jadi sering bertemu ditempat parkir. Bahkan pada kesempatan lain, fajar menolong gilang ketika dikeroyok gara-gara perempuan. Tiga orang yang mengeroyok gilang ternyata dibuat keder oleh kepalan dan tendangan fajar.

“elu jago silat juga rupanya!” gilang mesti berhutang budi sekali lagi kepada seniman aneh ini. Di dalam hati gilang ,lelaki aneh ini semakin menyenangkan saja.

“elu mesti jadi supir gue lagi sekarang!” fajar tertawa. Gilang mengangguk senang.
Setelah itu mereka jadi semakin akrab ,tapi tetap tidak pernah bisa disatukan kalau soal kebiasaan. Mungkin dalam selera music rock saja mereka bisa akur. Kadangkala kalau lagi jenuh, mereka suka teriak-teriak di dalam mobil. Tapi ada yang membuat fajar suka bukan kepalang ,jika sewaktu-waktu gilang mengundang makan malam dirumahnya. Fajar antusias sekali . ia begitu menikmati suasana makan malam di meja makan. Apalagi jika seluruh keluarga gilang komplit hadir.

“gue iri ngeliat elu bahagia sama keluarga, lang.” begitu selalu kata fajar setelah makan malam.

Gilang cuma bisa merangkul bahunya.

Beberapa hari setelah itu ,gilang seperti biasa datang menjemput fajar. Kali ini gilang menjinjing mesin tik. Di rumahnya mesin tik hanyalah sebuah benda seperti benda-benda pelengkap lainnya, yang kadang dilirik pun tidak. Teronggok begitu saja digudang. Malah lebih berharga bonsai-bonsai di teras rumah atau barang-barang antik di ruang tamu. Computer memang sudah menjadi mainan seisi rumahnya.

Mulanya fajar menganggap uluran tangan gilang berlebihan. Tapi setelah difikir matang-matang ada baiknya juga. Bukankah dengan mesin tik itu ,persoalan kawan-kawan sekostnya jika mengetik laporan bisa terpecahkan? Apalagi kalau ada yang harus lembur bikin makalah, kan nggak perlu berantem sama penjaga rental computer yang udah ngantuk abis dan ngusirin mereka suruh pulang.

Hanya ada yang masih membuat penasaran gilang tentang fajar, sobat yang sudah setahun dikenalnya. Yaitu tentang kondisi tubuhnya yang saban hari menyusut terus dan latar belakang hidupnya. Siapa orang tua fajar? Dimana keluarganya? Jika saja gilang menyinggung masalah itu, si seniman aneh itu pasti akan memandang nya dengan tajam ,memperingatkan untuk tidak membicarkan hal yang satu itu. Gilang hari ini pun tampaknya masih penasaran. Dia masih akan menanyakan pada fajar, walaupun dengan resiko dipelototi.

Dari tadi gilang hanya duduk-duduk dibibir jendela ,melihat lorong-lorong yang sesak dengan rumah kumuh penduduk.

Fajar tidak pernah bercerita tentang pacar ataupun cewek sekalipun. Tidak seperti gilang, yang senag bercerita tentang pacar-pacarnya yang senangnya hura-hura melulu. Sebentar-sebentar minta diantar ke pesta si anu, ke situlah ,ke sinilah…. Atau menghabiskan malam minggu ditempat-tempat jajan dan bioskop mahal.

Fajar nongol. Rambutnya yang gondrong basah habis keramas. Dadanya telanjang. Tampak rada segaran.

“udah dari tadi lu ,lang?” dia lalu mengenakan jeans robek dan kaos oblong putihnya. “eh naskah ini gak di bacakan?” fajar memasukan tumpukan kertas diatas meja kedalam map.

“naskah ini pasti bakalan bikin surprise buat kita. Naskah ini mau gue ikutin sayembara. Kalau menang ,gue gak butuh lagi mesin tik elu, lang!” fajar tertawa.

“oh ,ya?!” gilang melompat dari duduknya. Dia membatin ,paling-paling cerita tragis lagi. Tentang kematian lagi. Setiap gilang membaca cerita-cerita fajar di majalah ,kebanyakan isinya tentang seseorang yang sedang menghadapi maut karena menderita penyakit ganas; kanker misalnya,atau tumor, jantung, bahkan leukemia!
Pagi itu gilang berencana mengajak fajar pergi ke puncak, ke villa orang tuanya. “sekalian buat cari inspirasi.” Bujuk gilang.

Tanpa berfikir panjang fajar langsung mengiyakan.

Dua manusia yang ditakdirkan lahir berbeda kutub itu sudah duduk-duduk di kap mobil. Mereka sedang mengunyah jagung bakar dikawasan puncak. Keindahan pohon-pohon teh yang hijau membuat paru-paru mereka lapang. Sesekali mereka berbincang tentang nasib si penjual jagung, yang sudah bertahun-tahun membakar jagung-jagung itu ,tapi tetap saja masih begitu. Betapa sederhana pola hidup si penjual jagung itu. Kalau saja dia dibekali ilmu ekonomi ,mungkin sekarang sudah tidak perlu kedinginan membakar jagung-jagung jualannya di pinggir jalan, begitu pikir mereka.

“gue mau cerita banyak sama elu ,lang.” fajar membuang batang jagungnya. “elu dengerin ya! Mungkin nggak akan pernah gue ulangi lagi cerita ini.” Fajar serius sekali bicaranya.

Gilang memperhatikan raut muka fajar.

“kamu….,” kini fajar tidak bergue-gue lagi.

Bicaranya mulai teratur. “kamu belum tahu banyak tentang saya ya ,lang?”

Gilang mengangguk, “kamu yang melarang saya untuk tahu.” Gilang mengingatkan.

Fajar meringis. “kamu siap mendengarkan sekarang, lang?”

Gilang mengangguk.

“oke ,inilah cerita saya ,lang….”

Nama saya fajar, tapi tidak pernah bisa menikmati menyembulnya fajar ,yang kata orang sangat indah. Kadangkala saya benci dengan orang yang memberi nama ‘fajar’. Saya tidak tahu entah siapa yang memberi nama itu. Yang saya tahu hanya, bayi mungil itu tergeletak di depan rumah yatim piatu disaat fajar menyembul. Lantas para pengurus panti sepakat memberi nama bayi itu ‘fajar’. Mereka punya keinginan ,bahwa suatu hari nanti bayi itu bisa merubah dunia. Memberi cahaya terang pada orang-orang. Padahal bayi mungil itu orang kebanyakan juga.

Saya benci dengan nama fajar. Seharusnya nama itu diberiakan pada bayi-bayi mungil yang punya orang tua kompllit dan bahagia. Bukankah fajar adalah pertanda dimulainya hari lain? Denyut lain?

Tapi saya…. Fajar? Lelaki yang suka bersembunyi di kegelapan dan bangun kesiangan, hanya karena semalaman kurang tidur setelah membuat cerita-cerita?! Saya lebih cocok sebagai penyebar kegelapan dan selalu marah pada sekeliling. Marah terhadap wajah-wajah bertopeng.

Lantas ,siapa orang tua saya?! Berkali-kali saya tanyakan pada pengurus panti, tapi mereka hanya bercerita tentang bayi mungil di saat fajar itu! Sepasang manusia yang sedang dimabuk asmarakah? Yang belum sanggup mengurus bayi,sehingga bayi mungil itu mereka letakkan di muka pintu panti asuhan?

Saya capek hidup. Capek memikirkan semua itu. Saya tidak tahu untuk siapa menjalani hidup ini. Saya tidak punya kebanggaan dan tidak ada yang membangga-banggakan. Seharusnya, mungkin ,saya tidak kabur dari panti asuhan dulu. Seharusnya saya diam saja sampai mati disana. Berkumpul dengan kawan-kawan senasib ,yang setiap malam selalu bermimpi punya segala yang diidamkan. Keluarga yang bahagia, harta melimpah ,juga kehormatan. Atau diadopsi oleh pasangan kaya-raya.

Pernah mimpi menjadi orang seperti saya? Oh, lebih baik jangan . lebih baik tidak pernah bermimpi ketika tidur. Lebih baik tidur nyenyak saja dan bangun disaat fajar menyembul.

Besok saya mau mencoba bangun lebih pagi, agar bisa menikmati menyembulnya fajar. Kalau begitu sebaiknya nanti malam saya tidak mengetik cerita. Saya akan lebih cepat tidur. Ya,saya ingin merasakan tidur nyenyak tanpa ditemani mimpi . ya,saya ingin tidur nyenyak,agar besok bisa bangun lebih pagi dan menikmati fajar.



Gilang sejak tadi duduk didipan yang sepreinya tidak pernah beres itu. Dinding triplek penuh grafiti itu kini seperti menghimpitnya.

Gilang berjalan ke jendela. Matanya masih merah . dia menangis tadi. Dia menengadah ke langit. Dia betu-betul tidak percaya kalau kemarin sore, di puncak ,adalah percakapannya yang terakhir dengan fajar. Kalau saja gilang lebih teliti kemarin sore, betapa sangat pucat wajah fajar ketika bercerita tentang hidupnya.

Fajar ternyata tidak pernah bisa menikmati fajar. Padahal pagi-pagi sekali gilang sengaja mengetuk pintu fajar, ingin membuktikan apakah betul fajar sudah menikmati fajar. Tapi ternyata fajar masih saja berbaring dikasur. Tidur nyenyak dan tidak pernah bisa bangun lagi.

Kini dimata gilang, langit seperti berwarna hitam.

Fajar baru beberapa saat dikebumikan. Tanpa iringan sanak saudara. Hanya gilang dan teman-temannya. Walau begitu semua merasa langit sedang runtuh dan menghimpit.

Menurut diagnose dokter, fajar terlalu banyak menelan penderitaan batinnya sendiri, sehingga kanker menggerogoti! Gilang juga tidak habis mengerti bagaimana fajar bisa bertahan sekian tahun melawan penderitaan kankernya! Gilang bisa maklum kalau fajar tidak pernah menceritakan pada siapapun tentang sakitnya, karena takut merepotkan. Untuk berobat sendiri tentu akan kewalahan, karena ongkosnya bisa mencekik.

Kenapa kalau ingin tidur nyenyak saja mesti dengan cara menderita seperti itu ,fajar? Gilang mengusap matanya.

Setelah kematian fajar ,gilang mengambil beberapa naskah fajar yang belum jadi dan mesin tik ,juga beberapa buah buku sastra dan album foto. Lalu kamar suram berdinding triplek penuh grafiti itu mereka kubur dalam-dalam. Mereka bakar seluruh kenangan tentang kamar itu.

Tiba-tiba saja muncul keinginan gilang untuk menjadi seorang pengarang seperti fajar, setelah membaca seluruh naskah fajar yang belum jadi. Gilang ingin melanjutkan segala kemarahan dan kejengkelan fajar terhadap sekelilingnya dengan kata-kata,dengan kalimat. Tapi satu cerita pun tidak pernah bisa gilang selesaikan karena dia tidak punya kemarahan dan kejengkelan yang di punyai fajar. Setiap gilang memulai dengan halaman pertama, wajah fajar selalu melintas dan menyuruhnya untuk berhenti melanjutkan cerita-ceritanya.

Di hari lain ,ketika dia sedang duduk merenung di teras, ada pak pos. kini ditangan gilang ada sebuah surat panggilan dari sebuah majalah ternama. Gilang tahu persis apa isi surat itu. Buru-buru dirobeknya sampul surat . dibacanya. Seluruh tubuhnya bergetar.

Gilang menangis.

Ternyata fajar memenangkan sayembara mengarang. Dia mendapatkan sebuah computer.