Saturday, 9 June 2012
MEMASAK
Keterampilan hidup seringkali diajarkan dalam domain orangtua, baik secara tidak langsung melalui pengamatan dan pengalaman anak, atau langsung dengan tujuan mengajarkan keterampilan tertentu. [11] Namun keterampilan untuk menangani kehamilan dan pengasuhan dapat dipertimbangkan dan diajarkan sebagai satu set keterampilan hidup sendiri. Mengajarkan keterampilan orangtua hidup ini juga dapat bertepatan dengan tambahan pengembangan kecakapan hidup anak [12]. [13] Banyak program keterampilan hidup yang ditawarkan saat struktur keluarga tradisional dan hubungan yang sehat telah terputus, apakah karena penyimpangan orangtua, perceraian atau karena masalah dengan anak-anak (seperti penyalahgunaan zat atau perilaku berisiko lainnya). Misalnya, Organisasi Buruh Internasional adalah mengajar kecakapan hidup untuk mantan pekerja anak dan anak-anak berisiko di Indonesia untuk membantu mereka menghindari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak [14].
Saturday, 5 November 2011
Friday, 18 March 2011
Empat Penjuru Mata Angin
Udara menyesak menenggelamkan suara-suara memekik. Diam seribu bahasa dan sepi dalam kesunyian yang nyata. Awan bergerak perlahan namun pasti, seolah tak mau mengganggu ketenangan dalam misteri. Dedaunan melambai dengan indahnya menghadirkan sejuta tanda Tanya yang tak pernah berhenti bergulir.
Akulah pembisik dalam diri manusia agar mereka enggan menuruti perintah dari penguasa alam semesta. Akulah yang menghadirkan alternatif-alternatif pikiran yang dapat merusak hubungan keluarga. Akulah penyebar kebingungan di semua pelosok bumi. Dan akulah yang selalu mengusik mimpi manusia menjadi terror menakutkan yang akan selalu menghantui mereka. Aku, sang penguasa empat penjuru mata angin yang setiap saat mencari mangsa untuk menjerumuskan sang khalifah dalam kesesatan abadi di neraka.
Aku terbang menyusuri lorong-lorong tak berdimensi. Empat tugas baruku telah menanti di gerbang kerajaan empat penjuru angin. Dengan sekali hitungan, aku bisa menerima dan menyimpannya dalam otakku. Sebuah sinyal mulai berkedip mengirimku ke target satu per satu.
Penjuru satu
Subuh itu begitu dingin membeku. Desiran angin berhembus dengan lembut membuat nyenyak setiap insan yang terlelap oleh khayalan mimpi-mimpi. Pada saat aku disibukkan bekerja menyampaikan pesan-pesan menggiurkan untuk meninabobokan mereka, ada seorang remaja bergerak dari tidurnnya dan berusaha bangkit dari mimpi indah yang kuhembuskan. Aku mencoba menghentikan gerakkannya dan meracuni remaja itu agar kembali tidur menikmati mimpi. Usahaku lumayan berhasil. Dia berbaring kembali dan berada antara alam sadar dan mimpi. Bisikan suara-suara sumbangku segera beraksi.
“Azan baru berkumandang, matahari masih terbenam di ufuk timur. Sudahlah…lebih baik kau tidur dan lanjutkan mimpi indahmu.”
“Itu bukanlah alasan yang tepat untuk menghindari subuh. Lagi pula salat adalah kewajiban setiap hamba-Nya,” remaja itu menapik ajaranku.
“Waktu subuh kan satu jam lagi, dan ingat, kau punya alasan untuk kembali terlelap. Kau capek dan pusing setelah belajar di depan computer semalam. Aku yakin Allah memakluminya.”
“Tidak….” ia berteriak sangat keras hingga memekakkan pendengaranku. “Aku tak mau terlena dalam mimpi. Dan aku tak mau berbuat kesalahan seperti hari-hari sebelumnya.”
“Alaaaaaaah…apalah artinya dosa kecil jika nanti kau dapat bertobat dan menyucikan diri?” kujawab dengan tenang.
“Tapi kalau dosa itu bertumpuk tak terbendung, gunung pun akan hancur berantakan jika di atasnya diletakkan tumpukkan dosa itu?” pengetahuan agamanya mencoba mengganjalku.
Tepuk tanganku membahana memberikan aplaus buat keyakinannya yang sekeras batu. Biar dia merasa menang dan lengah dengan seranganku selanjutnya.
“Boleh juga jawabanmu. Tapi aku pernah dengar dalam hadist, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa? Al insaanu mahallul khotho’ wan nisyan. Wajar dong kalau kau beberapa kali lalai dalam menjalankan perintah Allah,” jawabku tak mau kalah.
“Kalalu sekali atau dua kali lalai aku yakin masih dimaklumi, tapi kalau ratusan, ribuan ,atau jutaan kali adalah hal yang harus dihindari. Dan itu berarti aku tidak mempunyai kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, tidak taubatan nasuha. Perlu kau ketahui wahai Makhluk Kasat Mata. Setiap manusia memiliki dosa, sedangkan sebaik-baik manusia adalah mereka yang bertaubat,”
Aku merasa tertekan dengan jawaban tak terduga itu. Aku melakukan penyerangan berikutnya dengan gencar melalui celah-celah nafsu kemanusiaanya. Setelah melalui lobi-lobi keras dan panjang, akhirnya berhasil juga. Dia memang tidak tidur kembali apalagi menikmati mimpi. Tapi lihat, matahari sudah menampakkan diri dengan menebarkan cahaya alami. Dan dia masih saja tak beranjak dari kasur empuknya, bengong dan termenung meladeni semua omomonganku yang ngalor-ngidul.
Lega rasanya mengalahkan semangatnya yang terlihat begitu kuat dan kokoh, tapi menyadari waktu yang berlalu dengan cepat dan tak kan pernah kembali itu, sudah pergi dari wajahnya yang kusut.
Sebelum kutinggalkan, aku sempat mendengar pemuda itu menyesal dan menyesal dengan apa yang telah terjadi. Ingin aku tertawa dengan tingkah lakunya itu. Mungkin dia menyesal hari ini, tapi kalau terus-terusan kayak gitu tanpa ada usaha untuk tidak mengulangi kesalahannya, seperti ceramah agama yang dia sampaikan tadi, tak perlu kaget kalau suatu saat melihatnya menyesali kejadian serupa setiap hari sampai tak ada lagi semangat untuk membangun hidupnya yang telah mati.
Penjuru dua
Sinyal di otakku berkedip pelan. Mangsaku kali ini tak begitu tangguh karena tinggal menyulut puncak api dendam di sudut hatinya. Aku langsung pergi dari tempat mangkal dan menuju sasaran kedua.
Bagai gempa runtuhan. Sebuah kemarahan besar terlampiaskan melalui meja, kursi, piring, dan perabotan lain yang dibanting, dilempar ke sembarang arah, menimbulkan kegaduhan luar biasa. Aku hanya menyaksikannya tak berkutik.
“Dede’ minta maaf, Pak. Dede’ nggak mau mencampuri urusan Bapak lagi. Dede’ Cuma mau Bapak ngak main judi lagi dan mabuk-mabukan seperti ini. Maapin Dede’, Pak!”
“Kamu tahu apa tentang judi dan mabuk,heh? Tahu nggak? Kamu itu anak tak tahu di untung. Sejak Mak meninggal, aku yang merawat kamu. Ingat? Dan sekarang kamu mau mengatur hidup Bapak. Brengsek kamu ya!” Tamparan keras berkali-kali melayang kedua pipi anak itu.
Tangis Dede’ pecah, memekakkan keheningan.
“Diam….dasar anak durhaka,” hardik orang tua itu. Lalu diikuti dua tendangan tanpa ampun menghajar Dede’.
Dalam keadaan mabuk berat, orang tua itu hanya cengengesan melihat darah segar mengucur dari tubuh anaknya. Tanpa sengaja dia menabrak pintu rumah dengan keras dan jatuh tak sadarkan diri.
“De’, kau sudah terlalu lama dianiaya dan disiksa. Bukankah sekarang sudah saatnya membalaskan dendam belasan tahunmu?” aku mulai menghinggapi pikirannya.
“Tidak. Bagaimanapun juga dia tetap bapakku. Bapak yang telah menjadi sebab lahirnya aku ke dunia ini. Bapak yang dengan segala kondisi sosial ekonominya telah mengantarku kepada kedewasaan ini, walau dengan didikan-didikan yang menurutku tak pantas.”
“De’, orang itu bukan bapakmu. Mana ada bapak yang tega mencaci-maki anaknya seperti binatang jalang? Mana ada bapak yang tega menghajar darah dagingnya sendiri tanpa sedikit pun belas kasihan? Saat ini keputusan ada ditanganmu. Terserah mau kau apakan orang tua ini biar tak ada lagi orang yang berani menghardikmu. Kalau tak cekatan, setelah dia sadar, mimpi burukmu akan kembali menghampiri,” suara-suara provokasi aku bisikkan dalam hatinya.
“Kalau kau mengingat semua perbuatannya selama ini, tidak ada satu pun perlakuan yang mencerminkan sebagai seorang bapak. Bapak yang merawat dan mendidik anaknya agar bisa meraih apa yang dicita-citakan seperti yang teman-temanmu rasakan. Jangankan untuk bermain dan bersenang-senang, belajar untuk menggapai apa yang kau inginkan saja dia tak pernah mau tahu. Kau tidak pernah dianggap sebagai manusia yang seharusnya mendapatkan perlakuan pantas dan kasih sayang yang nyata. Tapi kau hanya seorang budak yang harus menuruti segala perintah dari orang yang kau anggap bapak itu. Apa kau hanya menerima semua itu dengan Cuma-Cuma tanpa suatu perlawanan apa pun? Sungguh menyedihkan!” suara provokasi itu semakin aku hembuskan ke dalam pikirannya.
“Aku tak mau jadi anak durhaka. Aku tak mau dikutuk oleh Allah. Biar aku sebatang kara, tapi aku tak mencelakai bapakku.”
“Oke, kalau kau masih mengganggap orang tua itu adalah bapakmu. Kau sudah berusaha memperingatinya, tapi apa yang kau dapat? Apa? Kata-katamu hanya dianggap lolongan anjing malam yang memekakkan telinga. Aku rasa dengan membunuhnya, kau tidak akan berdosa, karena tujuanmu adalah mencegah bapakmu untuk berbuat maksiat yang lebih besar lagi. Kau mau bapakmu dimasukkan dalam neraka jahanam? Tidak kan? Kalau kau membunuhnya, mungkin dia hanya merasakan neraka paling luar. Dan satu lagi, warisan peninggalan kakekmu yang masih melimpah dapat kau gunakan untuk sekolah dan beramal.”
Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya untuk menuruti apa yang aku bisikkan. Tapi suasana kalut akau kekangan sudah terlanjur memunculkan ambisi yang mengerikan, yaitu membungkam bapaknya untuk selama-lamanya. Ingatan tentang film-film action menegangkan produksi Amerika serta pertarungan smackdown yang pernah dia lihat dari televise milik tetangganya kembali aku munculkan.
Ketika seorang anak manusia sudah kehilangan akal sehatnya, dan ketika suasana kelam menghujam hati yang bimbang, sebuah tragedi berdarah tertorehkan di atas lembaran sejarah umat manusia. Dede’ menghentikan napas bapaknya dengan tujuh tusukkan di sekujur tubuh tak berdaya itu. Seketika itu juga, bapaknya pergi kealam baru. Belum ada kepastian tentang sebuah keputusan yang akan menghakimi orang tua itu atas segala perbuatannnya di dunia, dan pendidikan yang diberikan kepada anaknya untuk selanjutnya berada dalam ruangan abadi. Antara surga dan neraka.
Awan hitam menyelimuti bumi menghadirkan sejuta asa dalam kegelapan. Bergerak mengikuti langkah dua orang berbaju polisi dan seorang lagi yang memakai kaos berwarna putih, tapi menjadi merah bersimbah darah bapaknya sendiri. Apakah aku ngeri? Tidak. Peristiwa seperti itu sudah menjadi tontonan yang sama sekali tak istimewa karena hampir tiap hari lalu-lalang di depan mata mereka.
Penjuru tiga
Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa banyak rintangan dan hambatan. Aku merasa agak lemas karena sudah lama tak mendapatkan tantangan yang berarti. Target kali ini pun nggak begitu menarik. Kubaca pesan dari atasan; Rony, 18 tahun, lagi berduaan dirumah pacarnya, Putri. Aku tak habis pikir kenapa Cuma ada dua remaja dirumah sebesar itu? Aku yakin kedua orang tua Putri ,masih asyik dengan pekerjaan masing-masing, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dirumah sunyi mereka.
Secepat cahaya aku pergi ke lokasi. Malam itu, lonceng berbunyi tujuh kali dan kebetulan orang tua Putri tak kunjung kembali. Angin berhembus melewati celah-celah jendela telah membangkitkan nafsu dua insan yang berduaan. Aku datang meramaikan suasana yang sedang tak menentu. Kubisikkan beribu kata cinta yang memikat untuk keluar dari bibir Rony. Aku hanya sekutu dibalik kata-kata manisnya.
“Put, setiap kali melangkah kakiku, aku selalu teringat engkau seorang. Satu hari tak bertemu atau mendengar suaramu, hatiku seakan mau pecah tak menentu. Aku ingin selamanya dekat denganmu dalam suka maupun duka.”
“Gombal kamu Ron. Dari dulu kamu nggak pernah berubah,” jawab Putri.
“Inget nggak waktu kamu putuskan aku satu tahun yang lalu? Aku menjadi orang yang patah hati. Saat itu diriku menjelma menjadi kapas, terbang ke sana kemari tanpa arah dan tujuan.”
“Ah, kamu semakin pandai berpuisi saja!”
“Bener Put, aku nggak bohong. Tapi setelah kamu ngajak jadian lagi kemarin sore, aku kembali menjelma menjadi bunga yang mekar oleh sentuhan seorang bidadari. Dunia ini seakan tercipta hanya untukku dan untukmu.”
Putri hanya dapat menganggukan kepala mendengarkan kata-kata cinta itu. Sebuah ciuman mesra dari seorang gadis kepada pemuda yang bukan muhrimnya tak terelakkan.
Ketika asmara dua insan itu sedang memuncak, aku masukkan tayangan ulang film-film di TV dan bioskop-bioskop serta foto-foto aduhai dari internet yang pernah dia tonton dari memory Rony. Dan akhirnya kumpulan langkah terurai menuju kamar kosong yang akan menjadi saksi bisu atas kelalaian mereka. Aku enggan melihat adegan menjijikan itu dan pergi dari balik remang-remang lampu kamar.
Sungguh semakin edan kondisi dunia saat ini. Globalisasi telah datang dengan bermacam-macam rupa dan warna. Aku sih untung besar. Tapi apakah ini berarti kiamat besar akan tiba? Pertanyaanku itu berlalu bagai tertiup angin tanpa sepatah jawaban yang mengakhiri.
Penjuru empat
Dunia Barat sedang gencar melancarkan serangan gozhwul fikr atau perang pemikiran, khususnya bidang moralitas kebanyakan masyarakat Dunia Timur yang masih memegang teguh agamanya. Ini adalah kesempatan terbaik buatku untuk menyusupkan doktrin-doktrin dalam diri kebanyakan masyarakat islam saat ini. Nafsuku tiba-tiba membisikkan satu kata, “Jilbab”. Ya! Kata itu memang pantas keluar dari nafsuku yang membara. Kata itu akan aku jadikan priorotas untuk dijadikan isu paling hangat di kalangan umat islam.
Tak sengaja sinyal di otakku berkedip. Rupanya sebuah jiwa yang gelisah secepat kilat melewatiku. Kulihat seorang gadis mungil berjilbab sedang mondar-mandir di depan kampusnya. Andini, 19 tahun, kebingungan itulah data yang aku tahu dari batinnya. Setelah kuteliti, aku menyadari bahwa kegelisahan tadi keluar dari lubuk hatinya. Dan sepertinya dia adalah mangsa selanjutnya. Dialog antara aku dan batinnya pun terjadi.
“Din, ngapain kamu mikirin larangan orang tuamu. Rugi lo kalau kamu nggak mau ngikutin tren yang ada. Kamu mau dibilang nggak gaul and kuper? Lagian kalau kamu pake’ tanktop dan celana agak ketat, kamu kan tambah cantik. Ditambah lagi kalau kamu berbusana tanpa jilbab. Aku jamin cowok-cowok di kampus ini akan tambah perhatian sama kamu. Percaya deh sama aku,” serangan pertamaku telah menampakkan batang hidungnya.
“Jangan ganggu aku. Itu hanya kemauan sesaat otak kotorku. Aku tak sudi untuk menuruti nafsuku,” batin Andini menolak ajakanku mentah-mentah.
“Apa kamu tak mau seperti teman-temanmu yang jauh di bawah kecantikanmu, tapi mereka dapet perhatian yang jauh lebih besar darimu. Sudahlah, orang tua kamu ngelarang hanya karena mereka tak pernah tahu tentang tren masa kini. Mereka tidak pernah tahu tentang Britney Spears, Madonna,atau Pamela Anderson yang menfaatin kecantikan wajah dan kelenturan tubuh mereka untuk dipertontonkan kepada dunia. Dan kau lihat sendiri, mereka dapat perhatian yang wah..!”
Tak ada jawaban dari serangan keduaku. Kulihat batinnya mulai goyah dan bergetar tak menentu. Ketika tekanan di batinnya memuncak, Andini cepat menghindar dan beristighfar.
“Astaghfirullahal’adzim..hapuskanlah pikiran kotor itu dari otakku ya Allah.”
Malam harinya aku langsung menyerbu dengan segala siasatku. Dengan pengalamanku selama ribuan tahun, aku memasuki mimpi Andini. Pertama-tama kuubah tubuhku jadi sesosok yang paling disayangi. Aku adalah Anton, pacarnya. Kemudian aku menemuinya dengan memberi sedikit kejutan.
“Doooor….!”
“Anton, ngagetin aja kamu!”
“Hai Din,pa kabar? gimana harimu, baik kan?” kurayu dia dengan lembut memesona.
“Baik. Kok nanyanya rada cuek gitu sih? Ngomong-ngomong ngapain kamu kesini? Apa kamu…” Sebelum Andini meneruskan pertanyaan itu aku bisa menebak isi hatinya.
“Yup…Exactly. Aku pengen kamu ngikutin tren sekarang. Setidaknya kamu coba dulu dan aku akan maklum kalau jilbabmu belum bisa lepas dari wajahmu yang cantik itu. Kalau kamu tidak menuruti keinginanku, ya udah…. berarti kamu tak sayang lagi ama aku. Bye.”
“Anton…!” suara Andini parau dan terdengar semakin melemah.
Kutinggalkan saja dia. Aku biarkan Andini memikirkannya sementara waktu.
Hari yang kutunggu datang juga. Tepat seminggu setelah kumasuki mimpi Andini, aku melihat dia dan boy friend-nya jalan-jalan disebuah mall, meskipun wajahnya terlihat malu dan tertutup oleh jilbab yang diikat di lehernya. Badannya yang seksi semakin jelas terlihat oleh mata-mata liar yang setiap saat dapat menerkamnya dimalam dan siang hari. Memang, dia baru mencobanya di mall,tapi aku sudah merasa agak puas. Aku yakin, tinggal menunggu waktu, Andini bakalan menuruti apa yang aku perintahkan atau bahkan melebihi dari yang aku harapkan. Aku menghilang di balik gelapnya malam.
Pada waktu suasana hatiku sedang senang tak terbilang dan di tengah suntuknya suasana yang menyengat di empat penjuru angin, sebuah pesan singkat muncul dibenakku:
MEMO
Segera kembali ke bumi, dua penjuru tak dikenal terlihat di daerah kekuasaanmu. Segera bereskan mereka kalau kau menginginkan jabatan yang setara denganku.
Panglima Empat Penjuru Angin Sektor I
Ketika aku baru kembali, kulihat dua buah rumah bersinar menyilaukan cahaya ke sagala arah. Setelah kuamati dengan cermat, ternyata orang-orang di dua penjuru itu adalah tugas khusus yang diberikan atasanku. Dari memori di kepala, kucocokan potret kedua sosok yang agak berjauhan itu. Tak salah lagi, mereka adalah sosok yang paling ditakuti oleh semua panglima empat penjuru angin. Oke! Mereka akan aku bereskan satu per satu.
Penjuru tak dikenal pertama
Kudekati pemuda itu. Semakin dekat kurasakan getaran dalam jiwaku semakin keras dan kencang. Baru pertama kali aku merasakan getaran mengguncang sekeras ini. Ciut hatiku tersentuh aura besar dari tubuhnya. Kenapa bisa begini? Padahal menurut data yang kuperoleh, roman kehidupan masa lalunya begitu pahit dan berlumpur. Segala jenis kejahatan pernah dia lakukan, bahkan dari saat umurnya baru sepuluh tahun. Dari menyontek, mencuri, berzina sampai membunuh.
Hmmm… aku tak perduli dengan masa lalunya. Yang penting aku harus menuntaskan tugas khusus ini, agar namaku bisa melambung tinggi dan bisa dipromosikan untuk naik pangkat menjadi panglima di empat penjuru mata angin. Aku sadar dari lamunanku. Kubuang khayalan dalam anganku untuk sementara.
Sebelum memulai tugas, kuperlihatkan dulu tindak-tanduk pemuda itu. Gila! Dia tidak hanya tahan beribadah sepanjang malam, tetapi juga berdoa berjam-jam di sajadahnya yang lusuh dan usang itu. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, meskipun itu ada di depan mataku. Selama ini aku mengira di daerah kekuasaanku sudah tak ada lagi manusia yang taat kepada Allah. Kudekati dia dengan penuh kewaspadaan.
“Wahai Pemuda Alim, apa kau masih mau melanjutkan ibadahmu walaupun hidupmu tak pernah beranjak dari kemiskinan?”
Pemuda itu tak berkutik dari duduknya. Sangking khusyuknya pemuda itu tak mendengarkan sepatah kata pun yang barusan kubilang.
“Hei Pemuda, kenapa kau beribadah sepanjang malam sedangkan sehidupanmu di akhirat nanti belum tentu masuk surga?”
Untuk kedua kalinya aku dicuekin. Kebetulan ibadah panjangnya sudah selesai, aku bisa menggodanya dengan leluasa.
“Dosamu sudah tak bisa dihitung lagi wahai Pemuda. Bagaimanapun kerasnya ibadah dan taubatmu, kau takkan bisa menutupi kebusukkan masa lalumu.”
“Aku tak tahu siapa kau, tapi yang pasti kau bukanlah Tuhanku yang berhak menentukan kategori taubatku. Jadi, kau sekedar membual dengan perkataanmu. Aku yakin bahwa keadilan Allah akan selalu menyelimuti bumi. Dan aku juga meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tak ada yang mustahil dimata Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah aku lakukan, insya Allah dengan taubatan nasuha, aku seakan terlahir kembali ke dunia. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” dia menjawab dengan tenang, tapi sungguh sangat dalam.
Aku tak menyerah begitu saja. Masih tersisa sejuta macam godaan untuknya. Aku ganggu dia dari empat penjuru sekaligus; kanan, kiri, depan, dan belakang. Sia-sia. Tak satu pun celah yang kudapatkan dari empat penjuru itu. Padahal dari semua tugasku sebelumnya, melalui satu penjuru pun mereka sudah takluk di tanganku.
Sebelum aku mengambil langkah berikutnya tiba-tiba badanku panas sekali. Tak hanya itu, jiwaku seakan meledak oleh api yang memercik dan membesar. Aku tak tahan dan langsung mengambil langkah seribu menginggalkan pemuda itu. Kalau aku bergeming di tempat itu walau hanya satu menit, mungkin tubuhku akan hancur lebur tak tersisa.
Penjuru tak dikenal kedua
Aku memutuskan untuk pergi ke target kedua. Kulihat sosoknya sangat berbeda dengan pemuda sebelumnya. Rumahnya megah, istrinya cantik, dan uangnya berlimpah. Tapi ada kemiripan yang kurasakan. Salah satu di antaranya, aku merinding ketika mendekatinya. Mendekati seorang dermawan yang terselip nama dan perbuatannya di tengah kerumunan manusia, yang pelit akan harta dan selalu membanggakan hasil jerih payah mereka. Dia tak pernah dikenal, karena keikhlasan hatinya datang dengan mengayunkan sebagian harta dan tangan sucinya. Dan dia mendapatkan kekayaan itu tanpa sepeser pun uang haram yang berhasil mengubah arah pendiriannya.
Namanya Ade, 31 tahun, direktur PT. Gemilang Jaya Sentosa. Wow, keren! Dengan umur yang tergolong muda orang itu sudah jadi direktur, padahal selama ribuan tahun pangkatku tak pernah naik. Ah…..aku semakin ngelantur saja. Apakah karena selangkah lagi aku akan jadi panglima? Iya kali! Itu pun kalau aku berhasil menggoda direktur muda ini. Aku dekati saja orang itu dengan halus dan lembut.
“Tuan Dermawan, sebaiknya anda menggunakan uang itu untuk foya-foya atau sumbangkan ke tempat-tempat besar agar anda dikenal luas. Daripada menghabiskan hasil kerja keras anda hanya untuk menyumbang ke tempat kecil dengan nama samara, Hamba Allah.”
Dugaanku tepat, dia pura-pura tak tahu.
“Mr.Ade, Anda sudah lama menjadi orang yang diberkati, tapi nama anda tidak pernah muncul dilayar kaca, bahkan di sebuah radio daerah sekalipun.”
“Aku bukanlah budak yang bekerja demi suatu materi atau ketenaran semu. Aku hanyalah ciptaan bermakna dan kebetulan diberi kepercayaan untuk menyalurkan harta itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya,” orang itu menjawab dengan keyakinan tak terbantahkan.
“Satu lagi yang terus aku pegang teguh. Aku tak tahu kapan malaikat maut akan menjemputku. Sepuluh tahun, sebelas bulan, empat bulan, atau beberapa detik kedepan nyawaku akan terbang tak kembali. Dan bukanlah harta atau ketenaran yang akan menemaniku di alam sana, tapi amal ibadah dan sedekah itu yang akan tetap setia mendampingiku sampai kapanpun dan dimana pun aku berada,” aku balik diserang dengan pernyataan menyakitkan.
“Apakah anda tak…ma…u….,” aku tak bisa meneruskan kata-kataku. Sesuatu yang tak terlihat oleh inderaku telah membungkam mulutku. Badanku juga merinding dan terasa panas walaupun berada sekitar lima puluh meter dari orang itu. Secepat kilat kutinggalkan tempat yang menurutku tak beda jauh dengan neraka ini.
Suatu ketika, tanpa sadar aku memasuki mimpi seseorang tanpa identitas. Kulihat dua sinar yang sangat berkilau menerangi empat penjuru mata angin. Sinar itu datang dari dua penjuru tak dikenal dan sedang menerangi rumah dua manusia yang pernah aku goda dari penjuru satu, dan empat serta dua manusia lagi dari penjuru dua dan tiga yang saat ini berada di balik terali besi sebuah lembaga permasyarakatan. Empat penjuru yang disinari selanjutnya menjadi pembawa cahaya baru yang siap menerangi dunia bersama dua penjuru tak dikenal.
Aku berpikir sejenak tentang ihwal mimpi itu. Aku sekarang mengerti. Ternyata dua penjuru tak dikenal itu bisa setiap saat menyia-nyiakan segala usahaku. Rupanya Allah sengaja membuka dua penjuru yang tak bisa kutembus walau dengan seluruh balatentara empat penjuru angin. Tapi aku tetap akan mempergunakan setiap tipu muslihat untuk merongrong itikad baik setiap insan. Kini, aku hanya bisa berharap agar dua penjuru itu tersembunyi dalam jutaan kenikmatan semu di seluruh penjuru dunia.
Perjalananku takkan pernah berhenti dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang yang dalam sekali tanpa akhir, tanpa ujung. Kulangkahkan kaki diiringi sedikir rasa bimbang dan ragu. Sejuta tanda Tanya terbesit dalam diriku. Tapi dalam kesendirian ini aku masih saja tertawa di antara milyaran manusia yang akan menemaniku dalam kesesatan yang abadi.
“Ha….ha….ha….ha…!” Tawaku semakin meninggi seiring berjalannya sang waktu.
Bekasi, 12 Maret 2011
kupersembahkan untuk semua remaja muslim di Indonesia sebagai bahan renungan akan kerasnya kehidupan tanpa iman.
Biru
Betapa lama aku tertidur dalam hujaman waktu. Malam ini aku terbangun dalam ruang hampa tanpa oksigen,seolah-olah waktu mempermainkanku. Aku hadir dalam dunia yang baru kukenal, dunia yang dulu sempat singgah dihidupku. Cinta dan harapanku telah kembali utuh, dia kembali untukku (benarkah?!) saat ini. Apa aku masih tertidur pulas dalam beberapa waktu? Tidak! Aku sudah benar-benar bangun sekarang.
Memory masa awalnya putih abu-abu menekan keatas hingga akhirnya mengingatkanku kembali. Dimana aku tenggelam dalam kebodohan itu, arrrrrgh! Syukurlah kini dia benar-benar kembali. Dia yang dulu menjadi semangatku, dia yang bisa buat aku tersenyum disegala kesempatan. Dia yang menanam luka, hingga harusku membohongi perasaanku selama ini, dia yang membuatku belajar untuk bisa lebih bersabar.
Masih teringat jelas mama menanyakanmu, kabarmu, ibumu. Aku hanya bisa tersenyum kala itu. Sayang, itu jauuuuuh sebelum saat ini. Jauh sebelum aku dewasa, jauh sebelum aku benar-benar menjadi orang. Dimana dulu aku selalu ada disaat kamu jatuh, dihari bahagiamu, menjagamu kala sakit, dimana aku ingin menjadi sesuatu untukmu. Tapi, semua hanya sementara aku hanya selingan, dan tak pernah jadi sesuatu dimatamu.
Aku bukan lagi perempuan yang cengeng yang pernah dia kenal, bukan lagi perempuan yang bisa gampang percaya dengan orang lain, dan aku bukan lagi sosok yang peka dengan perasaan orang lain semua ini karena aku berkaca dengan apa yang dulu pernah terjadi. Sakit yang pernah aku rasa, sakit yang berkelanjutan itu semata-mata cuma kebodohan seorang remaja yang baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama yang akan menginjaki bangku SMA. Sudah lima tahun semua berlalu, aku tumbuh sebagai wanita dewasa pada umumnya, aku menata kembali hidupku yang lama terengkuh waktu.
“Saya Fahma Dwi Rakhmi, ingin mempresentasikan hasil riset yang telah saya lakukan pada saat pertukaran mahasiswi di Oxford University lima bulan yang lalu….”
Aku mahasiswi merangkap seorang penulis novel, aku bukan seorang perempuan yang mementingkan kuantitas tapi lebih kepada kwalitas. Dan aku bukan seseorang yang cantik,putih da sexy hehe bahkan aku seorang perempuan yang cokelat, gemuk, dan semampai hanya itu. Tapi, tak mengurangi rasa syukurku kapada-Nya.
Seusai kuliah, kusempatkan hari itu untuk mendownload beberapa referensiku untuk menulis, dan untuk sedikit berselancar didunia maya. Kubuka salah satu akun jaringan sosialku. Kulihat dilayar laptop ada sebuah pesan disana, kubuka kotak pesan. Ternyata dari kawan-kawan lamaku di Sekolah Menengah Pertama dulu yang turut mengundangku pada acara reuni akbar Gold Realition angkatan 2000-2010. Sambilku reply pesan itu, fikiranku melayang jauh bersama pesan itu. Di tahun 2010.
“Besok simulasi UN yang kedua arrrgh!” Teriak Putri teman SMPku dulu.
“lalalala telen aja dah bulet-bulet hehe,” ujarku.
Dibulan itu benar-benar bulan yang panjaaaaaaaaaaaaang banget rasanya. Tryout sana-sinilah, simulasi Ujian Nasional lah, ngomongin acara pelepasan, buku tahunanlah, bermalam-malaman ditempat bimbel semua itu jenis kerja kerasnya siswa-siswi kelas 9 SMP yang lagi pusing-pusingnya hehe. Eh ane malah pengen bisa deket sama si dia pas banget hari dimana simulasi UN kedua. Deket deh hehe, jadian deh hahaha dasar bocah. Semua terlewati begitu aja, semuanya. Ujian Nasional udah berakhir, Ujian Sekolah juga udah selesai, Ujian Praktek apalagi, Ujian Teori, Ujian Essay, Ujian Blok,Ujian Batin, Ujian Fisik, Ujian dari segala ujian deh pokoke.
Liburan panjang nunggu hasil dari kerja keras yang udah diusahain se-usaha-usahanya hehe. Seneng banget liburan bisa sama-sama orang yang kita sayang, bisa kenal sama keluarganya. Tapi, liburan juga sibuk untuk nyiapin buat masuk SMA.
Tiba-tiba aku terbangun dari khayalan ditahun 2010 itu, dua buah pesan terlihat kembali dari layar laptopku yang pertama balasan dari teman-teman SMPku dan yang satu dari dia. Menanyakan bagaimana kabarku saat ini, aku kembali terbang terhisap waktu. Mengulang kembali lembaran-lembaran waktu yang pernah ada.
Semua yang gak ingin terjadi malah terjadi, semua itu. Andai bisa ku ulang dan ku hapus bagian-bagian tertentu mungkin (arrrgh!) tak kan seperti ini jadinya. Hingga sampai dihari itu tepat beberapa minggu aku menginjaki bangku SMA. Dia berubah sikap, dingin, dan aneh.
“Andai bisa gue ulang waktu, gue cuma mau hapus dibagian-bagian tertentu dalam lima bulan itu! Bahkan gue gak akan memulai ini semua kalau cuma untuk lima bulan. Gak mau ada yang kecewa selain gue.” isak menyelimuti hari itu. Kesal, bingung, marah, tangis bercampur jadi satu hari itu. Bingung mau teriak sama siapa, walaupun aku tau itu haknya dia. Tapi, aku lebih tau banyak. Masih banyak yang dia sembunyiin dari aku.
Sejak hari itu, ya sejak hari itu semua kembali dari Nol. Semua kembali kutata sedemikian rupa untuk menyembunyikan rasa kecewaku ini. Kesimpulan demi kesimpulan berteriak-teriak, bertalu-talu dibenakku, siapapun yang dapat mendengarnya akan pecah gendang telinganya.
“Alhamdulillah, saya baik. Mas sendiri gimana kabarnya? Ibu apa kabar mas?” ku balas pesannya dengan singkat.
Tak lama kemudian ku lihat dilayar laptop ada sebuah pesan balasan darinya.
“Alhamdulillah, mas dan keluarga baik. oh iya kamu ganti nomer ya?”
Sebelum aku membalasnnya, ada sebuah pesan muncul dilayar. Pesan susulan darinya.
“Minta dong boleh tak?” tanyanya.
“085691938228” Kubalas pesan darinya, beberapa detik kemudian aku segera sign out dari akun jaringan sosial itu sementara pesan balasan darinya tak kubuka.
Kunikmati beberapa menit untuk mendengarkan hiburan diradio telepon genggamku, kudengar potongan lagu Music Of My heart dari N’SYNC. Lagu yang dulu selalu mengingatkanku pada sesuatu yang sampai hari ini ada dalam diriku.
you taught me to run…
you taught me to fly…
help me to free the me inside…
help me hear the music of my heart…
help me hear the music of my heart….
Pagi menjelang. Seruan sang pencipta membahana diseluruh sentero bumi untuk selalu mengingat-Nya. Sujud kala subuh itu terasa panjang dan dalam, diakhir shalat kusisipkan do’aku untuk dia dan keluarganya hal yang selalu ku lakukan disetiap akhir shalatku. Dalam hati kubertanya. Bagaimana kabar ibunya? Sudah lama sekali tak pernah main kerumahnya, aku kangen sama ibu, semoga ibu sehat wal’afiat. Amin..
Yang selalu kuingat dari ibunya adalah kata-katanya ini jangan putuskan tali silaturahminya ya Fahma, kamu jadi adik perempuannya masnya aja ya.. dengan logat jawanya yang halus. Aku sayang dengan keluarganya.
Hari ini aku ndak ada jadwal kuliah, jadi yah dirumah aja. Palingan yah bisa ngejar deadline nulis dan posting-posting tulisan pendek diweb. Sejak SMA aku terbiasa untuk selalu dirumah kalau sedang libur. Soalnya waktu, tenaga, fisik sudah seharian terpakai setiap hari disekolah. Jadi, setiap weekend jangan heran aku pasti ndak mau diajak kemana-mana apalagi yang ndak penting tujuannya hehe ,ada pengecualian kalau lagi mood yah paling mampir ke Book Store hunting buku. Suara ping terdengar dari handphoneku,sebuah pesan masuk dari nomer tak kukenal. Kubuka pesan itu dan kubaca.
“Assalamu’alaikum, benar ini nomernya Fahma?”
“wa’alaikumusallam, ya benar siapa ini?” seketika jariku beradu dengan keypad membalas pesan tersebut.
“Alhamdulillah, ini aku Gilang. Ingat?”
Gilang. Hatiku mengucap ulang nama itu, ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Yang seakan menari-nari didalam sana.
“Ya, akh pasti aku ingat” kubalas pesan darinya dengan salah tingkah.
“Aku kira sudah tak ingat lagi, sudah lupa tetutup dengan ilmu-ilmu yang kian menggunung yang ada dikepalamu saat ini setiba pulang dari Oxford University hehe, afwan ukhti aku bercanda.”
“Huuu bisa saja hehe” Kubalas pesannya. Ada yang aneh dengan hatiku,aku seperti berharap dia telah berubah seiring dengan kembalinya dia.
Kutinggalkan handphoneku didalam kamar, aku bergegas turun dari kamarku menuju ruang makan. Entah mengapa ada yang aneh dengan hatiku saat ini, aku seperti kembali hidup setelah lama mati. Aku seakan baru merasakan kembali apa itu rasa paling norak yang biasanya ABG rasakan. Seraya ku berdo’a semoga ini tidak berlebihan, semoga hatiku tidak berlebihan. Karena sampai kiamat pun setan akan tetap mengganggu umat nabi Adam a.s lebih dekat dari urat leher.
Kembali aku membenamkan diri didalam kamar, kulihat tiga pesan bertengger dilayar handphoneku. Kulihat dua pesan dari Gilang, dan yang satu dari Raffa. Kubuka pesan dari Raffa, dia menanyakanku apa aku ada dirumah. Setelahku balas pesan dari Raffa, kubaca pesan dari Gilang.
“Ada waktu ketemu malam ini, ukhti?”
“Ndak ada jawaban, ndak mau ya?” Sebelumku balas ,aku membaca satu pesan lagi darinya.
“Ada waktu, tapi harus malam ya?” Kubalas pesannya dengan semangat 45.
Tak lama pesan darinya muncul, “Okay ,jam 4 sore ditempat biasa ya. Gimana?”
“Boleh, okay jam 4 sore disana” Kusudahi berbalasan pesan dengannya, fikiranku kembali menggali masalalu ,tentang tempat makan itu. Masanya dia dan aku.
Kukenakan pakaian berwarna merah di padu dengan rok panjang berwarna hitam, dan jilbab panjang berwarna putih. Sungguh anggunku didepan kaca, maha besar Allah dzat yang maha pencipta yang paling baik. Kuniatkan ini hanya untuk melepas rindu dan untuk mempererat tali silaturahmi, hanya itu tanpa ada maksud dan tujuan yang lainnya. Aku segera meminta diantarkan ketempat itu oleh Pak Wan.
Setibanya disana, kuedarkan mataku keseluruh pelosok tempat makan itu. Sungguh tak ada yang berubah semua hampir sama seperti dulu tidak ada yang berubah yang ada hanya tambahan meja dan kursi dimana-mana, seketika butiran bening membasahi pelupuk mataku. Ya rabbi kuatkanlah aku…
Tak lama aku merasa melihat dia dan yap itu memang dia, seluruh hawa dan waktu seakan menekanku. Seakan-akan panas sekali, aku dan dia terlihat berkeringat. kecuali aku yang terlihat biasa saja karena mengenakan jilbab. Obrolan-obrolan ringan dia edarkan kepadaku, pertanyaan demi pertanyaan ku lontarkan untuknya. Seperti teman biasa, ya memang teman biasa.
“Tempat ini nggak ada yang berubah ya? Persis sama seperti terakhir kita kesini dulu, iya kan?” Tiba-tiba dia menanyakan hal ini kepadaku.
“Ya, sudah lama sekali tidak pernah kesini. Mas, aku.. hmm.. gak jadi deh hehe”
“Loh kok nggak jadi? Kebiasaan jelek dari dulu ndak berubah-berubah ,bikin orang penasaran aja hehe” candanya.
“ih gitu, hehe ndak kok aku kangen sama ibu kapan-kapan aku boleh main kerumah kan? Sekalian nengokin ibu, sudah lama banget ndak kerumah kamu.”
“Kangennya sama ibu aja ya, Fahma?”
“hehe.. iya dong masa kangen sama kamu mas”
Ceees! Ada sesuatu yang jatuh dihatiku, Sesuatu yang tak pernah sebelumnya. Ah! ini hal yang biasa, namanya juga sudah lama tak bertemu. Ini hal yang manusiawi dan wajar kok, fikirku matang.
Dulu aku pernah bilang sama Raffa dan Aulia, kalau sebelum aku pergi untuk pertukaran mahasiswi selama itu pun aku tak pernah bertemu dengannya. Terakhir aku bertemu dengannya hanya pada saat acara pensi diSMAku dulu, itupun aku selalu menghindari melihat matanya. Itu terakhir kalinya aku melihat dia, dan sekarang rasa rinduku terbayar sudah. Tapi, entah mengapa aku tetap takut dan malu untuk meneggakkan kepalaku saat bertemu dengannya. Apa yang sebenarnya salah? Aku selalu takut untuk memulai kisah cinta yang sudah kutinggal di 2010 lalu.
“Oh, ayolah Fahma… terus sampai kapan kamu masih ingin begini?!” pertanyaan Tyan sahabat lamaku dibangku SMA.
Aku nggak pernah tau kapan ini akan berakhir, aku nggak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain. Oh! ini benar-benar terlalu bodoh memang, tapi harus seperti apa lagi? Phobia. Aku nggak pengen pacaran lagi, yan! Cukup, dia yang terakhir.
Aku sanggup untuk bisa melihat dia dengan orang lain, sama seperti dulu dia bersama sahabatku itu. Hanya saja yang kini berbeda, aku melihat dia dari segi seseorang yang pernah ada disisinya. Sakit memang sakit, aku merasa sudah terbiasa untuk menyimpan rasa ini untuknya. Sampai suatu saat dia akan mengerti, siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdo’a semoga..
Dia tak jauh berbeda, aku tak lagi mengenal pribadinya. Apakah dia kembali untukku? Atau hanya sesuatu untuk mempermainkanku seperti dulu? Istighfarku dalam hati, aku gak boleh su’udzan dengannya. Dia mulai dewasa. Kulihat dia mulai berpakaian dengan rapih. 25 tahun sudah usianya, lima tahun diatas diriku. Sementara waktu yang kini seakan mempermainkanku, hampir saja aku lupa akan waktu yang menunjukkan pukul 17.30 saat itu.
“Astaghfirullah, ini sudah sore sekali. Hmmm… mau pulang.. gak kenapa-kenapa kan?”
“Yasudah ,aku antar ya boleh kan?” Tanyanya.
“Syukran akh, baik sekali.” Jawabku sekenanya.
Hilir waktu seakan-akan diperlambat jalannya. Masih kuingat jelas dia mengantarku pulang, masih kuingat malam dimana dia bercanda, tertawa bersamaku dibawah ratusan bintang. Bahkan masih sangat kuingat bagaimana dia menghancurkan rasa percayaku, ketika aku tahu masih banyak yang belum dia katakan dengan jujur. Aku tak pernah berharap lebih, hanya saja perasaan ini yang selalu ingin memperhatikannya. Setan benar-benar jelas ada diantara kita.
Sejak hari itu, kami mulai saling mencoba mengenal lagi satu dengan lain. Mencoba untuk lebih menghargai lagi. Tanpa suatu rasa yang paling norak yang biasanya ABG rasakan.
“Minggu besok aku harus kembali ke Amrik, untuk mengurus sisa waktu pertukaran mahasiswiku disana. Yah, sekitar satu semester setelah kita liburan baru aku bisa pulang kembali.” ujarku kepada Raffa dan Aulia.
“Yah ,ambrong! Kamu kan baru pulang Ma, masa mau balik lagi sih. Lia mau minta diajarkan presentasi Hitung Dagang menggunakan bahasa yang formal dalam bahasa Inggris tuh.” jawab Raffa kesal.
“Aku minta maaf sekali, mungkin kalian masih kangen sama aku hehe soal Lia, masih bisa kok say! kan aku masih satu minggu lagi disini” Jawabku menenangkan mereka.
“Baiklah, sisa satu minggu disini ya. Fa, kita nginep dirumah Fahma aja gimana?”
“Boleh boleh”
Raffa dan Aulia, sahabatku sejak dibangku SMP dulu. Merekalah yang tahu semua kejadian yang sedang menimpa diriku. Mereka lebih tau aku lebih dari teman-teman biasaku. Mereka juga yang selalu ada saat aku sedang merasa benar-benar butuh mereka. Mereka yang ,yah mereka yang sangat tahu apa yang terjadi padaku 2010 yang lalu itu. Mereka sahabat yang benar-benar sahabat. Kita selalu berbagi saat situasi apapun, dan tak ada saling mengkhianati seperti memakan bangkai saudara sendiri. Hanya mereka saksi betapa rapuhnya remaja berumur 15 tahun kala itu, mereka yang sangat tahu lima bulan yang aku lewati bersama Gilang itu. Hanya mereka sahabat yang benar-benar sahabat.
Senja sore terlihat sangat manis tergantung dilangit, berpadu seribu satu warna terlukis. Indah nian pemandangan ini, malam terakhirku disini. Untuk esokku kembali menimba ilmu dinegeri orang. Beberapa kali kulihat jam, dan melihat keluar dari balkon kamarku. Mencari-cari Aulia dan Raffa. Pergi kemana mereka? Selalu saja membuat orang khawatir. Aku mencoba menghubungi kedua telepon genggamnya tapi tak ada jawaban sama sekali. Sungguh klasik, paling beli ice cream pikirku.
Setengah jam kemudian mereka datang, ya! Benar saja mereka pulang membawa satu kantong besar beisikan macam-macam makanan kecil. Mereka memang paling tahu.
“Eh, lama banget deh belanja aja. Bosen tau.” Kesalku.
“Hehe maaf ya sayangkuh kita ada keperluan sedikit diluar.” Ujar Aulia.
Keperluan? Ah yasudah tak perlu diributkan. Mungkin memang keperluan mendesak pikirku.
Diluar sana, dikediaman Gilang. Ada seorang laki-laki yang sedang bingung harus berbuat apa setelah ada dua orang perempuan menemuinya beberapa saat yang lalu.
kamu nggak pernah tau, seperti apa yang dirasakan Fahma bertahun-tahun Lang. Melihat kamu berdua dengan orang lain, ya memang dia tau itu hakmu. Tapi, dia berharap kalau kau benar-benar akan kembali untuknya. kamu tau? Sampai hari ini kamu masih menjadi semangatnya, dia selalu bicara kenapa sih harus fisik yang dilihat. Kenapa kamu gak pernah lihat orang yang selama ini ada saat kamu jatuh, kamu nggak pernah lihat orang yang berusaha untuk bisa berbaur dengan keluargamu. Bahkan dia mengejar pertukaran mahasiswi itu karna dia pikir dengan berada lebih jauh dengan kamu,dia akan jauh lebih cepat bisa melupakanmu seutuhnya!
dia gak pernah bisa memulai semuanya dengan orang lain lang, dia bahkan gak pernah jalan dengan satu orang laki-laki pun kecuali hanya teman biasa. Dia memang bukan seorang yang punya kecantikan fisik. Tapi, masih ada yang bisa dibanggain dari dia. Kejar dia kalau kamu kembali memang untuk dia. Dan pergi yang jauh jangan pernah hubungi dia, kalau memang kau kembali untuk rasa sakitnya.
Suara-suara Raffa dan Aulia seperti mengiang dikepalanya, seperti menekannya dan membuatnya merasa takut kehilangan.
Subuh menjelang, langit masih gelap segelap apa yang sedang aku rasakan sekarang. Ada sesuatu yang melarangku untuk pergi. Tapi, apa? Sejuk udara pagi semakin menusuk diubun-ubun. Shalat subuh dengan sujud yang panjang dan dalam dihari ini membuat kegelisahan sirna dalam hatiku. Kusisipkan jutaan do’a untuk orang-orang yang aku sayangi. Untuk ibunda yang sampai detik ini setia menemaniku, kedua kakakku yang selalu membantu moriil maupun materiil, Raffa dan Aulia yang siap dengan rasa perduli terhadapku, dan Dia serta keluarganya yang selalu membuatku menitikkan air mata setiap kali mengingatnya. Akankah semua yang dia katakan itu benar-benar akan terjadi? Benarkah dia akan selalu ada disaat aku butuhkan? Atau ,benarkah suatu saat ada saatnya aku dan dia kembali? Jutaan tanda tanya berpalung dibenakku.
Hari ini aku kembali ke negeri orang untuk melanjutkan study yang tersisa disana, entah mengapa hari ini berat sekali meninggalkan tanah air. Berbeda dengan semester yang lalu aku pergi tanpa beban. Apa mungkin karena pertemuanku dengannya itu? Mungkin. Ya, mungkin. Kulangkahkan kaki menuju anak tangga pesawat. Selama beberapa detik kumenoleh kebelakang mengedarkan pandangan keseluruh penjuru Bandar udara. Entah apa yang kucari, sesuatu yang tertinggal di tanah air.
Pesawat pun meninggalkan landasan pacu sekarang, entah apa yang masih kucari perasaanku tertinggal ditanah air bersama dia yang kusayangi. Benakku ingin aku terus melihat keluar sampai yang terlihat hanya putihnya awan menutupi jendela. Ada apa dengan ku? Apa yang akan terjadi, apa pun itu tak kan menggoyahkan niatku berburu ilmu dinegeri paman sam tersebut.
Sementara jauh dibandar udara, Gilang terengah-engah mengejar dirinya. “Semoga masih bisa ku kejar dia dilain kesempatan..”
Empat tahun kemudian..
Aku benar-benar telah tumbuh menjadi dewasa, aku bahkan sudah lupa untuk pulang ke tanah air tercinta. Setelah pertukaran mahasiswiku berakhir pada setengah semester setelah keberangkatanku. Aku mengurus mutasi kepindahanku untuk benar-benar melanjutkan studyku dinegeri paman Sam ini. Dan setelah kelulusanku hingga aku dapat menyisipkan gelar diawal namaku itu, aku bekerja menjadi wartawan VOA dan penyiar radio local disana. Pikiranku melayang jauh ke tanah air, tidakkah mereka merinduku? Pertanyaan yang cukup bodoh, Raffa dan Aulia hampir dua hari sekali memintaku pulang secepatnya hehe. Bukan, bukan mereka yang sedang aku bicarakan. Tapi, Gilang. Apa dia tidak merinduku? Oh! Ini baru pertanyaan yang konyol. Mungkin dia sudah menikah dengan orang lain jauh ditanah air sana. Itu artinya semua yang dia bilang itu bohong kan? Dia bahkan tak pernah mencoba atau melihatku sebagai sesuatu untuknya. Aku semakin tak ingin pulang.
Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik tirai tipis dilantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari sore menggantung condong kebarat berbentuk piring putih susu.
Tidak jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat yang anggun putih gading, bergaya klasik dengan tonggak-tonggak besar. Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh dengan pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata terkenal di ibukota Amerika Serikat, The Capitol and The Mall, tempat berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan hehe. Posisi kantorku hanya selemparan batu dari di The Capitol, beberapa belas menit naik mobil ke kantor George Bush di Gedung Putih, kantor Colin Powell di Departement of state, markas FBI dan Pentagon. Lokasi impian banyak wartawan.
Kamera, digital recorder ,dan tiket aku benamkan ke ransel hijau zamrud ku. Tanganku segera bergerak melipat layar Apple PowerBook-ku yang berwarna perak. Bunyi ping.. halus dari messenger menghentikan tanganku. Layar berbahan titanium kembali aku kuakkan. Sebuah pesan pendek muncul berkedip-kedip diujung kanan monitor. Dari seorang bernama “Gilang”
“maaf, ini fahma dari Indonesia?”
Jariku cepat menekan tuts.
“betul, ini mas gilang? indonesy?”
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi.
“ya, Alhamdulillah sudah lama sekali tak ku dengar kabarmu. Bagaimana kabar disana?”
Jantungku mulai berdegup lebih cepat. Jariku menari ligat di keyboard.
“Alhamdulillah aku baik mas hehe. mas sendiri?”
“Alhamdulillah baik juga, aku lihat namamu jadi panelis di London minggu depan. Aku juga akan datang mewakili Indonesia disana, kita bisa bertemu disana. kamu bisa jadi guide ke Trafalgar square seperti yang ada di buku yang dulu kamu kasih tahu ke aku. Bagaimana?”
Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.
Desember.
Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas. Dua air mancur besar memancarkan air tinggi ke udara dan mengirim tempias dinginnya ke wajahku. Square ini dikelilingi museum berpilar tinggi ,gedung opera, dan kantor-kantor berdinding kelabu. Yang kuingat National Gallery yang tepat berhadapan dengan square ini mempunyai koleksi kelas dunia seperti The Virgin of the rocks karya Leonardo Da Vinci, Sunflowers karya Van Gogh dan The Water-Lily Pond karya Monet. Hebatnya, semua ini bisa dilihat dengan gratis.
Tak lama kulihat dari kejauhan seorang laki-laki mendekat, dari jauh terlihat jelas dan tak pernah berubah rambutnya yang tak pernah rapih itu. Dipadu dengan jaket tebal berwarna cokelat. Dia tak pernah berubah, setelah sekian lama tak bertemu masih dapat ku kenali cara dia berpakaian meskipun dari jauh.
“Assalamu’alaikum Fahma, adiknya mas Gilang yang pasti makin pintar saja sekarang hehe” candanya.
“Wa’alaikumusallam mas Gilang yang jelek dan gak pernah rapi hehe sudah lama sekali ndak bertemu. Aku kangen sekali rasanya.” Manjaku.
“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya dik. Dihari keberangkatanmu empat tahun yang lalu aku mencoba mengejarmu ternyata terlambat. Pesawat sudah meninggalkan landasan pacu saat itu. Aku merasa sangat bersalah.”
“Ada apa ini mas, kenapa tiba-tiba..” belum selesaiku bertanya dia memotong kata-kataku.
“ya, aku merasa sangat bersalah sudah menyia-nyiakanmu. aku nggak pernah tau kalau semua itu benar-benar menjadi phobia untukmu. bahkan kamu nggak pernah untuk bisa memulai dengan siapapun sejak itu. bodohnya aku.”
“Kalaupun kita ndak ditakdirkan bersama. yah memang itu yang Allah mau kan, mas? Aku nggak pernah bisa karna aku yang nggak mau.”
“aku bukan lagi seorang yang cengeng, seperti dulu kamu kenal sama aku mas, aku bukan perempuan yang selalu nangis setiap ingat apa yang udah kamu lakukan ke aku. hanya saja aku ingin menemukan semuanya dalam bentuk yang nyata. karna bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfiir.”
“jauh sudah mas, semua itu jauh dibelakang kita. Sembilan tahun sudah aku coba untuk sendiri. Tapi, aku bisa kan? Bahkan aku tumbuh menjadi seorang yang bisa dibanggakan keluarga. Itu nggak terlepas dari peran kamu. Kamu selalu jadi semangat buat aku. Bahkan sampai dengan hari ini. Dan itu semua hak aku.”
“aku bisa ikhlas kalau memang Allah tidak menginginkan apa yang aku inginkan.” Jawabku panjang-lebar.
Aku bangun disepertiga malam terakhir ,kubasuh wajahku dengan air wudhu. Kumulai shalat malamku dengan khusyuk dan dalam. Kudengar detak jantungku seperti bisa ku dengar detak jam kala itu. Ku berdo’a untuk apa yang kuinginkan, aku serahkan apapun yang terbaik untukku kepada-Nya. Bila ia inginkan aku kembali dengannya. Maka aku akan kembali.
Pertengahan February ku putuskan untuk pulang ke tanah air. Akanku tebus rasa rinduku kepada ibunda. Memohon ampun dan belas kasihannya. Sesampainya di Bandar Udara aku dijemput oleh Raffa dan Aulia. Kucurahkan semua yang terjadi di Trafalgar Square Desember lalu. Benarkah dia akan kembali kepadaku? Tanda tanya masih menyelimuti hatiku.
Masih ingatkah dia apa yang telah dia lakukan kapadaku? Bukan itu. Tapi masih ingatkah dia semua yang sudah terlewati itu? Lima bulan itu, tempat makan itu, rumah sakit itu, liburan, semua dan semuanya! Aku gak pernah jadi sesuatu dimatanya. Bahkan apa yang sudah aku dan dia lewati nyatanya hanya hal yang fiktif yang pernah ada. Aku nggak ngerti seperti apa harusnya aku bersikap. Yang aku tahu Allah menjabah do’aku bahwa aku tak ingin bertemu dengannya sebelum aku bisa buktikan sesuatu.
Apa dia bisa merasakan seperti apa aku selama Sembilan tahun menunggu? Bahkan asa pun tak ragu mengekangku.
February.
Biru telah kurasakan saat ini,semua kembali sediakala. Allah telah memperlihatkan kekuasaannya. Maha Suci Allah tuhan seluruh alam dan isinya.
Hari bahagiaku bersama dia. Kurasakan kembali, rasa paling norak yang biasa ABG rasakan. Aku ingat 2010 dimana remaja berumur 15 tahun bersama dia yang jauh lima tahun diatasnya. Sekarang dia datang utuh untukku. Dia tak pernah bohong, bahwa ada saatnya dimana aku bisa bersamanya lagi. Aku merasakan cinta mulai tumbuh seusai akad nikah, inilah yang aku inginkan. Maha Besar Allah yang maha mendengar segala asaku.
Ribuan malam akanku lewati bersamanya. Hanya dengannya, mendendangkan alunan syair puisi cinta seperti di pinggir sungai nil. Mengarungi satu lautan dengan satu perahu. Dan untuk melahirkan generasi-generasi titipan-Nya yang sangat indah.
Kudendangkan potongan lagu Dalam Mihrab Cinta, sebelumku memulai ibadah ku malam ini bersamanya, menyempurnakan sebagaian agamaku. Sungguh Allah maha mendengar dan maha pengabul.
suatu saat ku kan kembali sungguh sebelum aku mati dalam mihrab cintaku berdoa semoga
suatu hari kau kan mengerti siapa yang paling mencintai dalam mihrab cintaku berdoa padanya…
Bekasi, 18 Maret 2011
NB: karena bumi diciptakan hanya untuk orang-orang yang berfikir.
Thursday, 9 September 2010
UNTUK SESUATU YANG HILANG
Gilang memperhatikan wajah cekung dan lelah itu. Padahal ketika pertama gilang mengenalnya ,tidak memprihatinkan seperti ini. Lelaki kurus ini sedang menderita suatu penyakit. Tapi entah apa, karena jika gilang menanyakan ,lelaki itu tidak pernah membicarakannya. Tampaknya ia ingin menyimpan dan menelan penderitaannya sendiri. Betapa beragam persoalan memancar dari wajah kerasnya.
Gilang lalu memperhatikan saja kertas-kertas berserakan disebelah mesin tik. Sementara dibawah meja kulit-kulit kacang dimana-mana. Juga gelas kopi yang tinggal ampasnya tergeletak begitu saja diatas meja. Dia membuka jendela kamar lebar-lebar dan udara kamar terasa lebih segar sekarang.
Lelaki kurus itu masih saja meringkuk.
“masih tidur, jar?” gilang menyentuh pundak lelaki itu.
Kepala berambut gondrong dan kusut itu bergerak. Terangkat. Sepasang mata yang lelah kurang tidur terbuka menyipit. Lalu matanya diusap-usap dengan punggung jari-jarinya.
“Sudah pagi lagi rupanya, lang?” begitu selalu katanya sambil menguap. Dia bangkit dan meluruskan kedua kakinya.
Gilang selalu tersenyum mendengarnya.
“sudah jam sembilan.” Katanya, “kuliah, enggak? Gue lagi enggak ada kuliah nih!” gilang menuju jendela. Memandang keluar . matahari dimusim penghujan memang jarang sekali kelihatan. Wajar saja kalau banyak orang yang tambah lelap tidak memperdulikan waktu, batinnya.
“kalau elu enggak ada kuliah juga ,kita keluar kota yuk!” ajak gilang.
Fajar bangkit sempoyongan menyambar handuk yang menggantung disandaran kursi.
“gue mandi dulu.” Katanya sambil berharap semoga tidak perlu mengantri.
Ditempat kostnya ini cuma ada satu kamar mandi dengan sepuluh orang lelaki yang suka bangun seenaknya ,sehingga setiap jam sibuk pasti mereka teriak-teriak minta giliran lebih dulu. Nyatanya fajar memang harus antri. Dia berteriak dan menggedor pintu kamar mandi. Yang di dalam malah tertawa menyalahkan ,kenapa selalu bangun kesiangan.
Fajar menyender ditembok. Ya ,kenapa aku selalu bangun lebih siang dari yang lain, sehingga gilang suka ikut-ikutan kesiangan pergi ke kampus? Padahal gilang bisa saja dari rumah langsung ke kampus dengan mobil sedan mulusnya. Tapi gilang hampir setiap hari menjemput dan selalu sabar membangunkan atau menunggui fajar mandi.
Awalnya fajar bisa kenal dengan gilang secara kebetulan saja. Ketika usai kuliah sastra modern ,di pelataran parkir dia melihat kunci mobil. Dipungut dan diperiksanya isi dompet itu. Dia meneliti setiap nomor mobil yang diparkir. Dibanding-bandingkan dengan es te en ka di dalam dompet. Ketika matanya tertumbuk pada sebuah sedan warna biru malam ,dia tersenyum. Apalagi tidak jauh dari situ dia melihat sekelompok lelaki elit sedang memelototi setiap jengkal pelataran parkir. Mereka mencari-cari sesuatu sambil tertawa-tertwa. Fajar menonton saja dibawah pohon angsana sambil memperhatikan seseorang yang lebih serius dan menggerutu terus.
Ketika mereka mulai bosan mencari dan meninggalkan si serius yang malang ,fajar tersenyum-senyum menghampiri. Kunci mobil diputar-putarkannya.
Si serius melotot geram. “jadi lu udah sejak tadi nemuin kunci mobil gue?” katanya kesal.
“ya!”
“ah sialan lu!”
“Sekarang ,lu mesti jadi supir gue!” fajar tertawa menyebutkan sebuah kantor redaksi majalah. “hitung-hitung bonus buat gue yang nemuin kunci mobil lu!” katanya sambil melemparkan kunci mobil.
Si serius itu, gilang ,menangkap kunci mobil dan menatap dewa penolongnya dengan beragam perasaan. “kenapa baru elu kasiin sekarang, heh?!” hatinya rada jengkel juga ketika membuka pintu mobil, kerena tahu sejak tadi dewa penolongnya menonton dibawah pohon.
Fajar tertawa dan masuk ke dalam mobil. “gue cuma kepingin nonton ,bagaimana orang macam elu mempertanggungjawabkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya!” katanya ringan.
Gilang mengerutkan keningnya. Kalimat yang menusuk buatnya. “ini mobil babe. Gue dikasiih kepercayaan dan mesti mempertanggungjawabkan kepercayaan itu.” Belanya tidak enak.
“itu yang gue maksud! Babe lu ngasih lu mobil. Bisa enggak lu ngejaga dan ngerawat pemberian babe lu. Pasti babe lu ngeluarin keringat dan darah buat ngebeli mobil ini!”
Gilang melirik lelaki jantan bertampang seniman itu.
Fajar tersenyum memandang gedung-gedung bertingkat. Baginya .memiliki benda-benda mewah adalah diluar batas kesadarannya. Jangankan memiliki ,memimpikannya saja dia tidak sanggup. Sekarang saja ,dia hanya bisa hidup dengan mengandalkan honor-honor tulisannya. Dia memang mesti pandai mengatur dan mengekang keinginannya. Yang terpenting baginya adalah tidak menunggak uang kuliah dan sewa kamar.
“ngapain ke redaksi?” Tanya gilang ingin tahu.
“ngambil honor! Cerita gue dimuat lagi!”
Gilang kini tertawa. “elu tukang ngekhayal rupanya!”
“enggak selalu.” Fajar meringis.
Setelah dari redaksi, gilang mengajak fajar makan siang dirumah makan ala barat. Tapi fajar keberatan. Gilang terus memaksa dengan alasan merayakan perkenalan mereka.
“gue nggak biasa makan ditempat kayak gitu.” Sederhana sekali alasan fajar. “perut gue terbiasa dengan warung tegal!” fajar tertawa getir.
Gilang memperhatikannya, hatinya tersentuh juga ketika mendengar pengakuan dari sobat barunya tadi. Lantas dia jadi malu sendiri, karena baginya makan di rumah makan ala barat seperti keluar masuk rumah saja. Bukan lagi sekedar gengsi atau symbol status ,tapi sudah menjadi kebutuhan.
“gimana kalau gue yang ngebossin lu makan diwarteg?” fajar menawarkan sambil tersenyum lucu.
Makan diwaretg? Gilang menggigit bibirnya. Lalu terbayanglah sebuah tempat yang kotor, bau keringat dan lalat-lalat. Apalagi perutnya agak-agak sensitive. Buru-buru gilang menggeleng. “nggak deh.”
Fajar tersenyum lagi. “oke kita ambil jalan tengah saja. Elu makan ditempat yang lu suka dan gue juga makan ditempat yang gue suka.”
Gilang menggumam tidak percaya. Dia baru sekali ini ketemu orang yang kayak begini. Ketika gilang memarkir mobil, dia memperhatikan sobat barunya yang aneh. “elu serius ,jar?” tanyanya.
Fajar mengangguk pasti dan keluar dari mobil.
“gue makan disana!” fajar menunjuk warung-warung yang berjejer di pinggir jalan. Dia berlari manyebrangi jalan.
Gilang memandangnya terus. Dengan berat hati dia melangkah masuk ke rumah makan ala barat langganannya. Akhirnya mereka merayakan perkenalan mereka ditempat kesukaan mereka sendiri-sendiri. Ketika makan, gilang dan fajar sibuk dengan fikiran masih-masing.
Gilang mambayangkan wajah seorang lelaki yang menghadapi hidup dengan penuh perjuangan. Dunia lelaki itu berbeda denganku. Secara materi semua yang ada padanya bertolak belakang, batin gilang terus. Dan fajar tentu kebalikannya. Biarkan saja begitu. Manusia sudah ditakdirkan hidup pada porsinya masing-masing oleh tuhan.
Setelah makan, gilang mengantar fajar ke tempat kostnya. Malah gilang turun menyusuri lorong-lorong ketika fajar mengundang untuk mampir. Setelah berada di kamar berdinding triplek yang dipenuhi grafiti dan poster-poster grup band rock, gilang nyeletuk “kok nggak ada mesin tik atau computer?”
Fajar tertawa sambil membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Katanya sambil tersenyum,”semuanya gue tulis tangan!”
Hah?! Gilang betul-betul tidak percaya.
“benda yang elu sebut tadi sangat langka dipondokan ini. Kawan-kawan sekost pun, kalau perlu banget buat bikin laporan ,pasti locat sana-sini nebeng ngetik. Yang punya duit ya ke rental computer. Kepercayaan untuk zaman sekarang udah mahal harganya, guy!” fajar berfilsafat sedikit.
Gilang duduk dibibir jendela. Dia mendengarkan dengan serius.
“tapi, gue punya tulisan tangan yang bagus! Buktinya cerita-cerita gue selalu dimuat!” fajar tertawa keras.
Setelah pertemuan itu, mereka jadi sering bertemu ditempat parkir. Bahkan pada kesempatan lain, fajar menolong gilang ketika dikeroyok gara-gara perempuan. Tiga orang yang mengeroyok gilang ternyata dibuat keder oleh kepalan dan tendangan fajar.
“elu jago silat juga rupanya!” gilang mesti berhutang budi sekali lagi kepada seniman aneh ini. Di dalam hati gilang ,lelaki aneh ini semakin menyenangkan saja.
“elu mesti jadi supir gue lagi sekarang!” fajar tertawa. Gilang mengangguk senang.
Setelah itu mereka jadi semakin akrab ,tapi tetap tidak pernah bisa disatukan kalau soal kebiasaan. Mungkin dalam selera music rock saja mereka bisa akur. Kadangkala kalau lagi jenuh, mereka suka teriak-teriak di dalam mobil. Tapi ada yang membuat fajar suka bukan kepalang ,jika sewaktu-waktu gilang mengundang makan malam dirumahnya. Fajar antusias sekali . ia begitu menikmati suasana makan malam di meja makan. Apalagi jika seluruh keluarga gilang komplit hadir.
“gue iri ngeliat elu bahagia sama keluarga, lang.” begitu selalu kata fajar setelah makan malam.
Gilang cuma bisa merangkul bahunya.
Beberapa hari setelah itu ,gilang seperti biasa datang menjemput fajar. Kali ini gilang menjinjing mesin tik. Di rumahnya mesin tik hanyalah sebuah benda seperti benda-benda pelengkap lainnya, yang kadang dilirik pun tidak. Teronggok begitu saja digudang. Malah lebih berharga bonsai-bonsai di teras rumah atau barang-barang antik di ruang tamu. Computer memang sudah menjadi mainan seisi rumahnya.
Mulanya fajar menganggap uluran tangan gilang berlebihan. Tapi setelah difikir matang-matang ada baiknya juga. Bukankah dengan mesin tik itu ,persoalan kawan-kawan sekostnya jika mengetik laporan bisa terpecahkan? Apalagi kalau ada yang harus lembur bikin makalah, kan nggak perlu berantem sama penjaga rental computer yang udah ngantuk abis dan ngusirin mereka suruh pulang.
Hanya ada yang masih membuat penasaran gilang tentang fajar, sobat yang sudah setahun dikenalnya. Yaitu tentang kondisi tubuhnya yang saban hari menyusut terus dan latar belakang hidupnya. Siapa orang tua fajar? Dimana keluarganya? Jika saja gilang menyinggung masalah itu, si seniman aneh itu pasti akan memandang nya dengan tajam ,memperingatkan untuk tidak membicarkan hal yang satu itu. Gilang hari ini pun tampaknya masih penasaran. Dia masih akan menanyakan pada fajar, walaupun dengan resiko dipelototi.
Dari tadi gilang hanya duduk-duduk dibibir jendela ,melihat lorong-lorong yang sesak dengan rumah kumuh penduduk.
Fajar tidak pernah bercerita tentang pacar ataupun cewek sekalipun. Tidak seperti gilang, yang senag bercerita tentang pacar-pacarnya yang senangnya hura-hura melulu. Sebentar-sebentar minta diantar ke pesta si anu, ke situlah ,ke sinilah…. Atau menghabiskan malam minggu ditempat-tempat jajan dan bioskop mahal.
Fajar nongol. Rambutnya yang gondrong basah habis keramas. Dadanya telanjang. Tampak rada segaran.
“udah dari tadi lu ,lang?” dia lalu mengenakan jeans robek dan kaos oblong putihnya. “eh naskah ini gak di bacakan?” fajar memasukan tumpukan kertas diatas meja kedalam map.
“naskah ini pasti bakalan bikin surprise buat kita. Naskah ini mau gue ikutin sayembara. Kalau menang ,gue gak butuh lagi mesin tik elu, lang!” fajar tertawa.
“oh ,ya?!” gilang melompat dari duduknya. Dia membatin ,paling-paling cerita tragis lagi. Tentang kematian lagi. Setiap gilang membaca cerita-cerita fajar di majalah ,kebanyakan isinya tentang seseorang yang sedang menghadapi maut karena menderita penyakit ganas; kanker misalnya,atau tumor, jantung, bahkan leukemia!
Pagi itu gilang berencana mengajak fajar pergi ke puncak, ke villa orang tuanya. “sekalian buat cari inspirasi.” Bujuk gilang.
Tanpa berfikir panjang fajar langsung mengiyakan.
Dua manusia yang ditakdirkan lahir berbeda kutub itu sudah duduk-duduk di kap mobil. Mereka sedang mengunyah jagung bakar dikawasan puncak. Keindahan pohon-pohon teh yang hijau membuat paru-paru mereka lapang. Sesekali mereka berbincang tentang nasib si penjual jagung, yang sudah bertahun-tahun membakar jagung-jagung itu ,tapi tetap saja masih begitu. Betapa sederhana pola hidup si penjual jagung itu. Kalau saja dia dibekali ilmu ekonomi ,mungkin sekarang sudah tidak perlu kedinginan membakar jagung-jagung jualannya di pinggir jalan, begitu pikir mereka.
“gue mau cerita banyak sama elu ,lang.” fajar membuang batang jagungnya. “elu dengerin ya! Mungkin nggak akan pernah gue ulangi lagi cerita ini.” Fajar serius sekali bicaranya.
Gilang memperhatikan raut muka fajar.
“kamu….,” kini fajar tidak bergue-gue lagi.
Bicaranya mulai teratur. “kamu belum tahu banyak tentang saya ya ,lang?”
Gilang mengangguk, “kamu yang melarang saya untuk tahu.” Gilang mengingatkan.
Fajar meringis. “kamu siap mendengarkan sekarang, lang?”
Gilang mengangguk.
“oke ,inilah cerita saya ,lang….”
Nama saya fajar, tapi tidak pernah bisa menikmati menyembulnya fajar ,yang kata orang sangat indah. Kadangkala saya benci dengan orang yang memberi nama ‘fajar’. Saya tidak tahu entah siapa yang memberi nama itu. Yang saya tahu hanya, bayi mungil itu tergeletak di depan rumah yatim piatu disaat fajar menyembul. Lantas para pengurus panti sepakat memberi nama bayi itu ‘fajar’. Mereka punya keinginan ,bahwa suatu hari nanti bayi itu bisa merubah dunia. Memberi cahaya terang pada orang-orang. Padahal bayi mungil itu orang kebanyakan juga.
Saya benci dengan nama fajar. Seharusnya nama itu diberiakan pada bayi-bayi mungil yang punya orang tua kompllit dan bahagia. Bukankah fajar adalah pertanda dimulainya hari lain? Denyut lain?
Tapi saya…. Fajar? Lelaki yang suka bersembunyi di kegelapan dan bangun kesiangan, hanya karena semalaman kurang tidur setelah membuat cerita-cerita?! Saya lebih cocok sebagai penyebar kegelapan dan selalu marah pada sekeliling. Marah terhadap wajah-wajah bertopeng.
Lantas ,siapa orang tua saya?! Berkali-kali saya tanyakan pada pengurus panti, tapi mereka hanya bercerita tentang bayi mungil di saat fajar itu! Sepasang manusia yang sedang dimabuk asmarakah? Yang belum sanggup mengurus bayi,sehingga bayi mungil itu mereka letakkan di muka pintu panti asuhan?
Saya capek hidup. Capek memikirkan semua itu. Saya tidak tahu untuk siapa menjalani hidup ini. Saya tidak punya kebanggaan dan tidak ada yang membangga-banggakan. Seharusnya, mungkin ,saya tidak kabur dari panti asuhan dulu. Seharusnya saya diam saja sampai mati disana. Berkumpul dengan kawan-kawan senasib ,yang setiap malam selalu bermimpi punya segala yang diidamkan. Keluarga yang bahagia, harta melimpah ,juga kehormatan. Atau diadopsi oleh pasangan kaya-raya.
Pernah mimpi menjadi orang seperti saya? Oh, lebih baik jangan . lebih baik tidak pernah bermimpi ketika tidur. Lebih baik tidur nyenyak saja dan bangun disaat fajar menyembul.
Besok saya mau mencoba bangun lebih pagi, agar bisa menikmati menyembulnya fajar. Kalau begitu sebaiknya nanti malam saya tidak mengetik cerita. Saya akan lebih cepat tidur. Ya,saya ingin merasakan tidur nyenyak tanpa ditemani mimpi . ya,saya ingin tidur nyenyak,agar besok bisa bangun lebih pagi dan menikmati fajar.
Gilang sejak tadi duduk didipan yang sepreinya tidak pernah beres itu. Dinding triplek penuh grafiti itu kini seperti menghimpitnya.
Gilang berjalan ke jendela. Matanya masih merah . dia menangis tadi. Dia menengadah ke langit. Dia betu-betul tidak percaya kalau kemarin sore, di puncak ,adalah percakapannya yang terakhir dengan fajar. Kalau saja gilang lebih teliti kemarin sore, betapa sangat pucat wajah fajar ketika bercerita tentang hidupnya.
Fajar ternyata tidak pernah bisa menikmati fajar. Padahal pagi-pagi sekali gilang sengaja mengetuk pintu fajar, ingin membuktikan apakah betul fajar sudah menikmati fajar. Tapi ternyata fajar masih saja berbaring dikasur. Tidur nyenyak dan tidak pernah bisa bangun lagi.
Kini dimata gilang, langit seperti berwarna hitam.
Fajar baru beberapa saat dikebumikan. Tanpa iringan sanak saudara. Hanya gilang dan teman-temannya. Walau begitu semua merasa langit sedang runtuh dan menghimpit.
Menurut diagnose dokter, fajar terlalu banyak menelan penderitaan batinnya sendiri, sehingga kanker menggerogoti! Gilang juga tidak habis mengerti bagaimana fajar bisa bertahan sekian tahun melawan penderitaan kankernya! Gilang bisa maklum kalau fajar tidak pernah menceritakan pada siapapun tentang sakitnya, karena takut merepotkan. Untuk berobat sendiri tentu akan kewalahan, karena ongkosnya bisa mencekik.
Kenapa kalau ingin tidur nyenyak saja mesti dengan cara menderita seperti itu ,fajar? Gilang mengusap matanya.
Setelah kematian fajar ,gilang mengambil beberapa naskah fajar yang belum jadi dan mesin tik ,juga beberapa buah buku sastra dan album foto. Lalu kamar suram berdinding triplek penuh grafiti itu mereka kubur dalam-dalam. Mereka bakar seluruh kenangan tentang kamar itu.
Tiba-tiba saja muncul keinginan gilang untuk menjadi seorang pengarang seperti fajar, setelah membaca seluruh naskah fajar yang belum jadi. Gilang ingin melanjutkan segala kemarahan dan kejengkelan fajar terhadap sekelilingnya dengan kata-kata,dengan kalimat. Tapi satu cerita pun tidak pernah bisa gilang selesaikan karena dia tidak punya kemarahan dan kejengkelan yang di punyai fajar. Setiap gilang memulai dengan halaman pertama, wajah fajar selalu melintas dan menyuruhnya untuk berhenti melanjutkan cerita-ceritanya.
Di hari lain ,ketika dia sedang duduk merenung di teras, ada pak pos. kini ditangan gilang ada sebuah surat panggilan dari sebuah majalah ternama. Gilang tahu persis apa isi surat itu. Buru-buru dirobeknya sampul surat . dibacanya. Seluruh tubuhnya bergetar.
Gilang menangis.
Ternyata fajar memenangkan sayembara mengarang. Dia mendapatkan sebuah computer.
Saturday, 21 August 2010
aku kembali menulis
Trieas maya ade putri, siswi kelas X smk negeri 48 jakarta. Disini aku akan memulai ceritaku, hah memories of FLM aku menyebutnya 24 february 2010. Aku akan memulai cerita ini sedikit flashback beberapa bulan yang lalu. Dulu aku punya teman sepermainan ,sebut aja Fanni kita sama-sama suka sama cowok yang sama (yah si memories of FLM ini) fanni sempet jadian sama fahmi, fanni selalu cerita apapun yang dia rasa ke gue dia cerita kalo dia lagi kangen sama fahmi ,kalo dia lagi sedih, kalo dia lagi kesel ,kalo fahmi nyebelin ,dia selalu cerita ,bayangin kawan seperti apa kalian kalo jadi gue?? (bete banget pastinya kan?) tapi yah yang namanya sama temen sendiri apasi yang enggak..
Sedikit flashback lagi ,dulu gue sempet bilang ke fanni kalo gue sayang sama fahmi gue suka sama dia .eh olalah pie tho mereka malah jadian, tapi gapapa yang penting gue kenal sama fanni dan gue juga kenal sama fahmi seenggaknya gue ikut seneng lah, sampe akhirnya mereka ada konflik sama keluarganya fanni sampe yah bisa dibilang perang akhirnya mereka putus. Gue gak tau seharusnya gue sedih temen gue susah eh ini malah seneng jahat sih emang ,tapi saat itu yah itulah adanya gue seneng banget mereka putus. gue coba buat sedikit caper-caper gitu ama dia gak mempan bos :PP semua sama aja, uda berkisar beberapa bulan mereka putus fanni bilang ke gue dia masih berharap bisa sama-sama fahmi lagi dia mau ngajak fahmi balikan .oh no!
Kagetlah coy dengernya, dalem ati yang uda bilang “YA ALLAH JANGAN DONGDONGDONG HEHE LEBEH” mulai was-was gitu gue.
Eh ,gak lama foto buku tahunan tau gak si bro foto buku tahunan kelas gue dibantuin sama dia sama temennya “MAMAAAAAH TIDAAAK!” gue berusaha buat yang sebiasa mungkin waktu itu sebiasa mungkin
Sempet seneng dia bantuin buat foto buku tahunan ,diem diem rasa ini makin pasti gue berusaha nyangkal tapi gak bisa. Akhirnya gue minta nomer dia ke sahabat gue namanya Terry alhasil gue sms dia pas tanggal 24 February 2010 ya basa basi gitu haha *dongdongdong* awalnya gue takut bin ragu ya ALLAH tapi gue coba dengan isi sms begini kurang lebih ; “kak saya gak tau setelah ini kk bakal bersikap seperti apa sama saya tapi saya capek uda terlalu lama ngalah sama keadaan saya gak tau ,saya gak ngerti kenapa tapi ini yang saya rasain saya sayang sama kk saya gak berharap apa-apa saya juga gak terlalu berharap bisa sama-sama kk. Saya Cuma mau sampein apa yang selama ini saya rasa apa yang selama ini saya tutup-tutupin juga dari fanni. Saya bener-bener gak enak maaf ya kak”
Dan apa kalian tau dia bales apa?? Hehe ,awalnya dia bales “kk makasih banget dek kamu uda suka sama kk, kamu uda sayang sama kk tapi maaf dek kk uda gak bisa lagi buat pacaran sama yang seumuran kamu ,ini aturan hidup kk ini aturan bpknya kk,ini bukan maunya kk dek”
Gilaaaaaaaa,disitu juga gue nangis, ironis banget sih gue.
Gue bales gini “gapa kok kk ,saya kan bilang tadi saya gak maksain perasaan kk juga saya ngerti saya gpp kok”
Hari itu sumpah demi apapun gue lemes banget, yah alhasil hasil simulasi UN KE 2 gue parahnya naudzubillahiminzalik
Beberapa setelah itu gue jadi mulai deket yah sekedar smsan telepon teleponan gitu haha gak tau kapan gimana ceritanya ,jadi kita bahas lagi masalah gue menyatakan sesuatu itu.
Dia bilang “tapi kkak nyesel banget dek nyesel banget kalo kkak nyia-nyiain kamu gini aja”
Gue bilang “tapi mau dibilang apa kak kalo emang kkak gak bisa yah gak usah maksain juga ntar malah ada masalah lagi malah gak enak kak ,walaupun sebenernya saya pengen banget bisa sama-sama kakak”
“gimana kalo kakak tunggu kamu sampe lulus dek??” dia bilang gitu.
Gue ,”hah? Aku sih iya iya aja gapapa tapi kkak bener-bener mau nungguin aku sampe lulus?”
“iya insya allah ,kita jalanin dulu aja yang sekarang yah dek … “
Gue seneng banget sumpah demi apapun saat itu, semangat gue datang lagi semua jadi indah (lebeh booo)
Selang beberapa waktu ,kita mulai deket-deket gitu haha ceritanya gini gue les hari sabtu di gama mau pulang gue sms dia “dok ,kamu dimana?” dia bales, “aku dilapangan burung lagi ngurus yang foto buku tahunan kelas 9.3 belum selesai sayaaaaaaaangku ”
Nah ,gue iseng gue kira dia bakal cepet balik ternyata lamaaaaa bo haha gue nunggu di pos jaga sekolah ampe kusut ampe ketiduran sih tapi seneng bisa ngobrol sama dia ih seneng deh.
Dia bilang ,”besok mau kemana kamu?” gue, “gak kemana-mana kok kak kenapa?”
Dia ,”mau ikut ambil foto di rumahnya si anton gak? malem aja sekalian jalan jalan gimana??” gue, “hem.. boleh-boleh asiiiiik (bocah banget emang gue haha)
Ini kali keduanya gue nunggu hah dismsin kagak dibales diteleponin gak diangkat (aduuuuu kodoook kemana kamu sayaaaaang??? ) nunggu di pos jaga 25 abis isya hem untung rame ada abangnya ,terus ada kak matnur,kak arif, sama kak andy.
Di Tanyalah gue ngapain malem-malem disini sama kak andy, gue bilang aja tar juga tau nih lagi nungguin orang kak ndy… eh gak lama klaksonnye bunyi haha gue pasang muka aneh jelek marah ngambegg fahmi nanya ama abang nya gue nunggu dari jam berapa hehe dia minta maaf deh.
Di jalan ceritalah dia ,dia bilang handphonenya ilang padahal tadi masih ada (padahal mah jatoh dikolong tempat tidur ) doi sih ngiranya tuh handphone di ambil si bapak xixixixi
Teman ini 1st date gue ama ADE FAHMI GEMILANG lho ,hem senangnya malam itu gue bisa cerita-cerita sepuas gue certain sejak kapan gue suka sama dia sejak kapan gue blablabla haha ,di jalan dia ngasih gue gelang samaan sama dia dipake di tangan kiri(yang gue kira punya gue ilang dijalan pas mau jenguk dia sama ranna sama kak santo dulu) seneng banget banget. Sepulang dari rumah kak Anton kita jalan-jalan ngobrol-ngobrol hem waktu itu ke harapan indah iyaiya (jadi inget this is so sad) seneng banget.
Dia bilang sekarang gue udah sama-sama dia dia mau rasa sayang gue yah JUST FOR ME of course itu pasti bahkan itu sampai sekarang ta… mulai dari hari itu gue pengen mengenal sosok fahmi lebih dekat seperti apa dia, watak,dll lah.
Waktu dijalan pulang habis buat kita cerita-cerita panjang-lebar, ngalor ngidul,kanan-kiri,depan-belakang (haha) sampe dirumah gue hem gue Tanya mau pulang jam berapa kamu dok?? Dia bilang nanti aja, yaudah kita cerita-cerita dia cerita gimana keluarganya seperti apa keluarganya ,dia juga cerita masalah pasca dia sama fanni itu, dia cerita yang lucu-lucu dia buat gue ketawa dia buat gue tersenyum dia buat gue berarti saat itu (tapi sekarang gak ada lagi) gue juga cerita kayak gimana betenya gue dulu sebelum ini semua terjadi pasca fanni juga tentunya.
“dulu waktu kamu masih sama –sama fanni bahkan jauh sebelum kamu sama-sama fani aku pernah bilang kak sama fani aku sayang sama kamu aku suka sama kamu. Tapi yah mau gimana kamu suka sama fanni akhirnya kamu sama dia jadian hem disinilah sakitnya tiap hari kak aku dengerin fanni cerita kamu ,kamu ada masalah lah ,dia kangen sama kamulah yah emang sakit dengerin temen sendiri cerita orang yang aku suka bahkan mereka pacaran tapi aku usaha buat sebiasa mungkin. Terus yah masalah kamu sama dia yang buat kamu sama dia gak bisa lagi sama-sama akhirnya kamu putus sama dia,dan aku gak tau kenapa seneng rasanya kamu putus sama fani jahat sih emang tapi yah itu adanya” gue cerita panjang-lebar.
Udah agak maleman jam 11an lah ,gue Tanya “dok kamu mau pulang jam berapa ?udah malem lho ini.” kodok “iya sebentar lagi ,sapiiii hehe” ngelanjutin lagi cerita-cerita udah hampir setengah duabelas kita liat bintang sama-sama diluar (ya allah ,sekarang dia bukan lagi milik gue) pokoknya gue seneng banget malam itu he he he.
Sesudah malem itu jadi sering ketemu, main kerumah main di pop esnya bu de’ sama putri sama nyul, citra. Singkat cerita udah mau UN’10 nih ceritanya lagi stress-stressnya belajar hem seneng banget ada yang nyemangatin gue belajar gue semangat banget sumpah demi apapun gue sayang banget sama dia sampai detik ini.
Yah, akhirnya tinggal seminggu lagi UN’10 kita break smsan dia gak mau ganggu konsentrasi belajar gue tapi tetep di hari terakhir UN’10 dia sms gue lah he heh e.
Tau gak teman, dia bilang buat sayang sama gue susah banget dia bilang gak tau kenapa waktu gue lagi UN’10 dia was-was mikirin gue bisa ngerjain soal UN nya enggak dia doain gue biar semuanya lancar, gue sayang sekali sama lo boy
Hem ,terlepaas dari yang namanya ujian nasional tahun ajaran 2010 kita mulai kembali lagi seperti biasanya kita sering ngumpul bareng-bareng putri sama nyul sama citra di pop es dalam rangka melepas stress he he he ,terus jalan-jalan sama dimas+imay yang kayak dikejar waktu gitu hehehe paling menyenangkan tanggal 24 april 2010 2nd months me and him (ya allah…)
Udah menjelang-menjelang pengumuman ujian nasional deg deg plesss aja ni jantung ,sebelumnya tanggal 5 april gue minta anterin Ranna cari kado buat dia muter-muter akhirnya ketemu juga gue beliin dia stick drum di bharata music terus gue bungkus rapih kadonya+gue tulis kartu ucapannya isinya : “happy bday ya mas ma’at taufiq +dewasa,+sukses kedepannya,+sayang sama aku, jadi yang terbaik buat keluarga . –aku-“ dan parahnya pas selesai cari kado gue sama ranna ke pop es bu de’ eh malah ketemu orangnya he he he untung motor diparkir di seberang dan gak keliatan kadonya ya udah alhasil seneng gue ketemu dia gak diduga-duga malah ketemu ngerecokin dia minum pop es hehe seru deh pokoke
Sampai akhirnya di tanggal 7 mei 2010, malem nya gue telepon dia diangkat dan ya udah gue ucapin met ulang tahun dia nyanyi lagu lamanya JAMRUD-TERIMAKASIH paginya gak tau ini hari waktunya gue seneng atau sedih .hari ini hari pengumuman kelulusan ujian nasional gue seneng banget gue lulus walaupun agak sedikit ngecewain yang pake bocoran malah lebih bagus nilainya huh ,tapi legaaaa banget deh ada lagi nih teman hari itu juga dia ulang tahun yang ke 20tahun jam-jam 9an gue kerumahnya ternyata gak ada dirumah alhasil gue sms dia dong Tanya dia lagi dimana dia biang dia di pengadilan HAH?? Kok gue gak tau ,kok kamu gak kasih tau sih huh yaudah alhasil gue sama imay main dirumahnya dimas kelamaan nunggu ya udah pulang lagi jadinya nanti aja balik lagi.
Eh si dimas sms gue malemnya bilang fahmi sakit, (aduh kamu kenapa taaa?)
Gue sms gue Tanya kamu kenapa ta? Eh enggak dibales . Ya udah malemnya gue maksain kerumahnya buat kasih kadonya sekalian mau jenguk dia sedih banget hangat banget badannya, lemes banget kayaknya cepet sembuh ya sayaaaaaaangku gue senyum ,gue bilang selamat ulang tahun ya ta.. aku sayang kamu
Sehari,dua hari,tiga hari,empat hari,lima hari sampai di tanggal 12 mei 2010 hem padahal gue nungguin dia sms met ultah ya sayaaaaang ku, tapi dia gak sms-sms gue oh my god!
Gue sms dia, Tanya dia lagi dimana dia bilang di RS ANANDA lagi periksa darah takut banget gue jangan sampai kenapa-kenapa..
Sorenya gue sama ranna kerumahnya niatnya mau jenguk sebelumnya gue beli bubur di harapan jaya ,baru deh kerumahnya ternyata belum pulang kata tetangganya dirawat kaget lah bo masa gue cweknya (dulu.. ) malah enggak tau akhirnya kita niatin buat ke ananda cari dia ,dijalan sedikit gerimis-gerimis gitu gue inisiatif telepon ke handphonenya yang angkat si bokap sepertinya ya udah tanya ruangannya dimana digedung apa dll deh.
Sampe di ananda, bingung setengah mati cari ruangannya udah pulsa habis eh bapaknya telepon ke handphone gue bilang di ruang intensif ,masih gak ketemu juga akhirnya kita uda mau pulang eh si ranna ngeliat di kaca ada fahmi eh ketemu bapaknya sama ibunya sempet ngobrol sebentar terus gue liat dia dari jendela (gak boleh masuk ) si nyokap masuk nyuapin dia makan gue nangis bo liat dia sakit ,dia liat gue terus dia ngasih isyarat buat gue gak nangis gue elap air mata gue gue senyum . gue sedih liat lo masuk rumah sakit tapi gue seneng ta dihari ulang tahun gue walaupun dari pagi-pagi gue gak terima sama sekali sms met ultah dari kamu gue bisa ngerasain rasanya berjuang ,rasanya khawatir, rasanya sayang sama kamu
Si bapak berusaha buat gue bisa masuk liat langsung ke dalem ,akhirnya gue masuk gue ngucapin salam, gue senyum ,gue bilang cepet sembuh ya sayang ,(aku seneng banget ,aku pernah ada disaat kamu lagi jatuh ta.)
Besoknya gue,ranna+kak santo jenguk dia bareng-bareng nyokap titip jambu merah yang dibeli dari pasar (dia sakit DBD) yaudah kita jenguk kesana, hari selanjutnya gue mampir kerumah sakit dari 48 ngeliat seleksi berkas dia udah dipindah ruang dan udah kelihatan sedikit baikan.
Nah ,tanggal 16 mei 2010 nya ta pulang dari rumah sakit Alhamdulillah seneng banget
Singkat cerita ,sekarang udah tanggal 24 Mei 2010 hem today is us 3rd months senangnya aku sayaaaaang sama kamu ta hari itu dia kerumah kita masak spageti bareng-bareng haha seru deh
Tanggal 1 juni 2010 ,dia minta ditemenin bayaran ke kampus pulang dari kampus muter-muter di MM gak jelas terus nyebrang ke BCP ke Gunung agung liat novelnya Raditya Dika ,terus pulang dirumah kita nyanyi-nyanyi, bercanda-bercanda ,ngisengin dia seperti biasa and than today he give me a ****** haha.
tanggal 3 juni 2010 dia anterin gue liat hasil pengumuman di smk 48 yang Alhamdulillah banget gue masuk semua karena dia ,kamu semangat buat aku ta,kamu semangat buat aku bahkan itu gak akan pernah berubah.
Hem, tanggal 6 juni 2010 triple date sama Ranna+kak Sant ,li+Upiie nonton prince of Persia huh kan gue mau nonton shrek tadinya he he he ,makan bareng ,terus pulang deh.
Ditanggal 12 juni 2010 ngumpul dirumah gue lia ada sedikit masalah sama pacarnya terus kita makan bareng-bareng seperti biasa makan mi goreng xixixixi
Belum lama ini ,tanggal 5 july 2010 ke Dufan bareng-bareng seneng banget ,dia seneng banget buat gue ketakutan haha emang gue penakut xixixi ini yang paling gak bisa dilupain pertama kita naik kora-kora (perahu ayun), terus naik tornado, Niagara-gara, seneng banget deh bercanda-bercanda lepas makan disuapin ,ngantri sambil cerita-cerita seharian sama-sama kamu seneng banget. Basah-basahan gara-gara arung jeram hehe kepeleset juga seru banget
10 july 2010 ,puncak kangennya aku sama kamu and nice satnight ta walaupun Cuma sebentar kerumahnya bisa melepas kangen (gue sedih.. ) ini terakhir kita seneng-seneng sepertinya aku mulai sibuk sama kegiatan di sekolah baru sementara kamu libur dan sibuk sama kegiatan kamu disisa waktu kita tanggal 20 july 2010 kamu bisa jemput aku sepulang MOPDB seneng banget sekian lamanya jarang ketemu . pulang seperti biasa dijalan gue berusaha bercanda-bercanda ngeledekin dia ,nyubitin dia ,gak pernah gue sampai sekangen itu pulang mampir ke 25 makan dulu dikantin terus pulang deh
Mulai saat itu gue emang sadar dia mulai berubah mulai aneh dan mulai cuek sama gue ,seakan ada yang disembunyiin aja (ternyata bener kan) gue berusaha buat biasa aja, gue sms juga jarang banget dibales.
Akhir cerita kita 4 agustus 2010, cerita ini gak semuanya aku tulis gak semuanya aku ungkapin gak semuanya kamu tau rasa berjuang buat aku itu seperti apa ,rasa sayang itu seperti apa, kecewa itu seperti apa, ,kamu gak pernah tau setiap kali Juli bilang dia pengen sama-sama aku aku selalu bilang gak bisa itu untuk kamu ta, belum lagi kak Rega ,belum lagi rasa ingin dekat lebih jauh sama keluarga kamu sama ibu bahkan sama bapak ,belum lagi rasa sakit liat kamu secepat itu sayang sama seseorang ta, kamu gak pernah ngerti apa yang aku rasain aku pengen kamu ngerti apa iya selama ini aku pernah minta sesuatu yang macem-macem sama kamu ,apa aku pernah maksain sesuatu sampe kamu bener-bener males banget sama aku ta?? Aku yakin udah lama kamu bohong soal ini aku pernah Tanya sama kamu ,apa ini Karena orang lalin ta? Tapi kamu jawab enggak tapi buktinya apa kamu bisa ta secepat itu ngelupain semuanya.
Rasa sakit ini datang bukan Karena aku gak bisa lagi sama-sama kamu ,tapi karena kamu semangat buat aku ta kamu yang selalu buat aku semangat belajar, buat aku semangat menghadapi sesuatu ,yang selalu buat aku positif thinking kalo aku pasti bisa kayak dulu kamu bilang aku pasti masuk di 48 tapi sekarang kamu gak ada lagi ta buat aku dulu kamu yang bilang kita pasti bisa sama-sama terus kita akan baik-baik saja walaupun intensitas aku sama-sama kamu ketemu pasti akan lebih jarang. Kamu gak pernah ngerti ta, rasa sakitnya aku harus panggil kamu dengan sebutan kakak lagi kamu juga gak pernah ngerti gimana aku cemburu ini gak ada hitungan bulan ta kamu udah bisa sama-sama yang lain dan dia jauh lebih muda dari aku ta . jujur aku ,saat ini gak berharap banyak buat bisa sama-sama kamu tapi kamu semangat ta buat aku kamu tau aku masih ingin sama-sama kamu seenggaknya kamu bisa buat tiap hari sms aku ,aku pengen gak ada yang berubah ta semua masih bisa aku dapetin walaupun pasti beda saat ini rasa sayang kamu bukan lagi buat aku. Tapi aku tau kamu ngerti seperti apa harusnya kamu bersikap ke aku. Aku sayang kamu ta .
-aku-
Saturday, 26 September 2009
insiden bendera di hotel yamato ^^
Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya
HOTEL Majapahit (dahulu Hotel Yamato, red) yang menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih
INILAH awal gerakan sporadis Arek-arek Suroboyo menantang dan melawan keinginan kolonial untuk kembali menancapkan kukunya menjajah bumi pertiwi, Indonesia.
Tanggal 19 September 1945 bagi warga Kota Surabaya, harus selalu dikenang. Sebab itulah gerakan heroik yang sulit dilupakan sebagai awal kebangkitan Arek Suroboyo yang kemudian berkobar dalam peristiwa 10 November 1945. Tanggal yang menjadi tonggak sejarah, sehingga Kota Surabaya memperoleh predikat “Kota Pahlawan”.
Betapa tidak, kejadian di tanggal 19 Sptember 1945 yang dikenal dengan “insiden bendera”, merupakan pemicu semangat juang Arek Suroboyo. Adanya peristiwa perobekan bendera Belanda tiga warna “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato (nama di zaman Jepang yang semula zaman Belanda bernama hotel Orange, kini bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, benar-benar memperkokoh persatuan pemuda pergerakan di Surabaya.
Hotel Majapahit, sekarang ini, di zaman Belanda bernama LMS Orange Hotel. LMS adalah singkatan nama Lucas Martin Sarkies. “Orange” adalah warna kebanggan bangsa Belanda. Bahkan, hingga sekarang kesebelasan sepakbola nasional Belanda menggunakan seragam kaus berwarna orange. Sewaktu Jepang berkuasa, nama hotel ini diganti menjadi Hotel Yamato.
Wiwiek Hidayat (alm) mantan kepala kantor berita “Antara” di Surabaya, saat masih hidup di tahun 1990-an dalam wawancara dengan penulis pernah mengungkap berbagai peristiwa di tahun 1945. Banyak hal tentang perjuangan Arek Suroboyo dan para wartawan di kala itu yang diceritakan kepada penulis. Ada yang dalam bentuk wawancara, maupun bincang-bincang di waktu senggang. Berbagai kisah masa lalu banyak yang sempat kami catat dari tokoh pers dan pelaku sejarah perjuangan Surabaya ini .
Dari Tunjungan 100
Kendati tidak ikut naik ke atas gedung hotel Yamato yang persis di depan kantor berita Antara di jalan Tunjungan 100 Surabaya itu, Wiwiek Hidayat adalah saksi mata. Ia mengabadikan dan mencatat dengan rapi kejadian di puncak hotel yang kemudian bernana Hotel Majapahit itu. Pak Wiwiek – begitu wartawan senior ini biasa disapa – secara tegas menyatakan tahu persis nama orang yang merobek kain warna biru dari bendera Belanda itu. Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah putih tersisa kembali diikatkan ke tiang bendera dan menjadi sangsaka merah-putih. “Nama orang itu adalah Kusno Wibowo yang dibantu Onny Manuhutu dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal,” kata Pak Wiwiek.
Memang, ada yang lain, tetapi mereka membantu membawa tangga dan hanya naik ke atap gedung bagian tengah, serta beramai-ramai berteriak penuh semangat. Jadi yang berada di puncak tempat tiang bendera itu, hanya ada empat orang. Foto dokumentasinya masih tersimpan di kantor berita “Antara”, ujar Pak Wiwiek waktu itu. Anehnya, kemudian banyak orang lain yang mengaku-ngaku sebagai pelaku perobekan. Sehingga, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa pelakunya adalah “Arek Suroboyo” (tanpa nama).
Pak Wiwiek di tahun-tahun terakhir sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, hampir tiap sore bertandang ke Balai Wartawan Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya. Di sana ia berkumpul dengan wartawan muda. Keakraban dengan wartawan muda itu, memberi gairah Pak Wiwiek bernostalgia. Sehingga pikiran jernihnya berhasil mengungkap tabir di balik peristiwa insiden bendera yang bersejarah itu.
Hari Selasa, 18 September 1945, siang hingga sore beberapa anak muda Belanda Indo mengibarkan bendera Belanda “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato. Mereka itu berada di bawah perlindungan opsir-opsir tentara Sekutu dan Belanda dari kesatuan Allied Command. Tentara ini datang ke Surabaya bersama rombongan Intercross atau Palang Merah Internasional.
Beberapa hari sebelumnya terdengar kabar, bahwa anak-anak muda Belanda Indo itu membentuk organisasi bernama “Kipas Hitam”. Tujuannya untuk melawan gerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945 (sebulan sebelumnya). Selain berlindung di belakang opsir Sekutu dari Alleid Command, ternyata para opsir itu adalah NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang ingin mencengkeramkan kembali kukunya di Bumi Nusantara.
“Melihat tingkah bule-bule di hotel yang terlihat jelas dari kantor berita Antara, membuat darah para wartawan mendidih. Ulah tingkah anak-anak muda Belanda itu segera disebarkan kepada kelompok pergerakan. Situasi semakin menghangat dan hiruk pikuk, tatkala melihat bendera Belanda tiga warna berkibar di atas hotel Yamato”, cerita Pak Wiwiek.
Suasana bertambah panas, ketika besoknya pada Hari Rabu, 19 September 1945 pagi, anak-anak muda Belanda Indo itu berkumpul di depan hotel. Beberapa orang yang melihat bendera Belanda berwarna “merah-putih-biru” berkibar di puncak hotel Yamato, tidak hanya sekedar menggerutu, tetapi beberapa di antaranya berteriak-teriak histeris. Mereka minta agar bendera itu diturunkan. Namun anak-anak muda Belanda Indo itu menolak dan dengan congkaknya seolah-olah menantang.
Sadar bahwa ulah anak-anak Belanda itu sudah keterlaluan. Suasana di kalangan anak muda Surabaya semakin tidak menentu. Mau bertindak sendiri-sendiri, masih ada keragu-raguan. Belum ada satupun yang mengambil inisiatif, termasuk para wartawan dan pemuda pergerakan yang berada di kantor berita Antara. Namun, beberapa wartawan mendatangi kantor Komite Nasional dan Kantor Keresidenan Surabaya, menanyakan tentang sikap pemerintah dengan adanya bendera Belanda di atas hotel Yamato. Pejabat di dua kantor itu mengaku belum tahu.
Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Ruslan (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, termasuk saya dan Sutomo (Bung Tomo), kata Wiwiek Hidayat, segera mendatangi hotel Yamato. Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.
Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu. Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu.
Ploegman Tewas
Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Saat itu, kata Wiwiek, seorang pemuda menendang pistol yang diacungkan pria kulit putih itu. Terjadi perkelahian dan saling keroyok antara bule-bule dengan pemuda yang datang menyerbu masuk ke halaman hotel. Tauran (perkelahian massal) tak dapat dihindarkan. Apa saja yang ada saat itu dipergunakan jadi senjata. Ada kayu, batu, botol minuman dan ada seorang polisi menggunakan pedang. Ada yang mengangkat sepeda dan dilemparkan ke tengah massa.
Suasana hirukpikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem. Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT.KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel. Sementara itu di luar beberapa orang membawa tangga dan naik ke atas gedung. Ada enam atau tujuh tangga bambu yang disebut ondo itu dibawa warga dari kampung Ketandan dan kampung Kebangsren. Dengan ondo itu, anak-anak muda berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, namun sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, lalu dwiwarna yang tersisa kembali menjulang di angkasa. Kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah. Teriakan “Merdeka…!, merdeka! sembari mengepalkan tangan saling bersahutan.
Waktu itu, memang di depan hotel ada serdadu Kempetai (tentara Jepang) yang menjaga dengan senapan dan sangkur terhunus. Namun melihat suasana massa, serdadu Jepang itu hanya diam berbaris, tidak berani melepaskan tembakan.
Dari insiden ini empat pemuda menjadi korban luka berat. Mereka, adalah Sidik, Hariono, S.Mulyadi dan Mulyono. Mereka dilarikan ke rumah sakit Simpang (sekarang sudah tidak ada, di tempat itu kini berdiri gedung Medan Merdeka, Bursa Efek Surabaya (BES), Bank Mandiri dan Plaza Surabaya. Sedangkan korban di pihak Belanda, adalah Ploegman. Ia tewas akibat tusukan senjata tajam.
Pekik Merdeka
Pekik merdeka tiada hentinya berkumandang dalam setiap pertemuan. Ulah anak-anak Indo Belanda yang datang ke Surabaya mempersiapkan kedatangan pasukan Sekutu yang ditugasi melucuti senjata serdadu Jepang, memancing kemarahan warga Kota Surabaya.
Rakyat, terutama para pemuda menyadari, sejak saat itu kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, belum aman. Gejala pihak Belanda ingin menjajah kembali mulai terlihat. Untuk mempertahankan tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia di Surabaya, diperlukan senjata dan alat angkutan untuk bergerak cepat. Itulah sebabnya pemuda dan anak-anak kampung di Surabaya melakukan perampasan terhadap mobil-mobil Jepang yang lewat. Bahkan, mereka tidak segan-segan menempelkan kertas merah-putih di kaca-kaca mobil pembesar Jepang.
Tidak jarang, setelah mobil-mobil ditempeli kertas merah-putih, mobil itu diambilalih. Sebelum tentara Sekutu melucuti senjata serdadu Jepang itu, para pemuda Surabaya sudah mendahuluinya. Perampasan senjata juga dilakukan di markas dan gudang-gudang Kempetai.
Memanasnya kemelut setelah insiden bendera di Hotel Yamato, mendorong para pimpinan pemuda untuk melakukan koordinasi. Dua hari kemudian, tanggal 21 September, setelah berlangsung rapat KNID (Komita Nasional Indonesia Daerah) di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan, terbentuklah badan perjuangan yang diberi nama PRI (Pemuda Republik Indonesia).
Dalam rapat PRI disepakati, bahwa PRI adalah organisasi yang tidak memandang perbedaan paham dan golongan. Rapat juga membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang. Roeslan Abdul Gani alias Cak Roes dalam rapat itu mengobarkan semangat juang para pemuda. Cak Roes juga menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.
Sebagai langkah awal koordinasi, disusun pengurus PRI dengan ketua: Sumarsono dengan dua wakil ketua: Krissubanu dan Koesnadi. Penulis I dan II, masing-masing: Bambang Kaslan dan Roeslan Effendi, serta bendaharanya: Nn.Supijah. Markas PRI berada di Wilhelmina Princesslaan (sekarang bernama Jalan Tidar) Surabaya. Namun, pada tanggal 4 Oktober 1945, markas PRI ini dipindah ke gedung Simpang Societeit (sekarang bernama Balai Pemuda) di Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Terjadinya pengambilalihan kekuasaan dari tangan penguasaan Jepang di berbagai instansi, di bulan September 1945 itu menambah semangat persatuan di kalangan pemuda. Sampai-sampai begitu semangatnya, di Surabaya muncul poster-poster dengan tulisan: 1 Oktober 1945 akan menjadi “hari pembantaian anjing-anjing Jepang”. Poster itu disebarkan ke mana-mana, kebanyak oleh anggota PRI. Di samping itu, berita dari mulutu ke mulut menjalar ke seantero kota.
Melihat adanya gejala “akan main hakim sendiri”, maka pimpinan PRI dan tokoh pemerintahan, serta anggota KNID, melakukan rapat. Disusunlah strategi jitu untuk melakukan penyerangan ke markas Kempetai dan markas-markas Angkatan Laut Jepang di Jalan Embong Wungu, markas Angkatan Darat Jepang di Jalan Darmo, Gungungsari, Sawahan dan lain-lain.
Penyerangan dikordinasikan oleh PRI bersama BKR (Badan Keamanan Rakyat), serta Polisi Istimewa. Saat terjadi penyerangan 1 Oktober 1945, korban berjatuhan dari ke dua belah pihak. Puluhan orang serdadu Jepang terbunuh dan ratusan orang lainnya digiring masuk penjara dan kamp tahanan.
Pihak Jepang di Surabaya akhirnya menyatakan menyerah kepada pimpinan pemerintahan daerah di Surabaya tanggal 2 Oktober 1945. Panglima Divisi tentara Jepang Jawa Timur, Jenderal Iwabe, memerintahkan seluruh serdadu Jepang untuk menyerah kepada BKR, sekaligus menyerahkan seluruh senjata dan gudang-gudangnya. Sebaliknya, pihak Indonesia, menyanggupi untuk menjaga keamanan semua orang Jepang. Penyerahan kekuasaan oleh Jenderal Iwabe ini kemudian diikuti pula oleh Laksamana Laut Shibata, 7 Oktober 1945.
Dekrit
Setelah berhasil mencapai kemenangan, Pemerintah Keresidenan Surabaya mengeluarkan “Dekrit” atas nama Pemerintah Republik Indonesia yang berisi enam pasal. Maksud dekrit itu untuk menggalang kekuasaan lebih lanjut di bawah pengawasan BKR. KNID juga mengeluarkan seruan agar rakyat mematuhi semua komando dari BKR.
Residen Sudirman kemudian membentuk komite pelaksana untuk membantu pemerintah keresidenan. Anggota komite pelaksana, selain dari KNID, juga masuk pimpinan buruh, Syamsu Harya Udaya dan ketua PRI, Sumarsono.
Markas Besar PRI di Balai Pemuda, benar-benar menjadi pusat kegiatan dan koordinasi antar pemuda Surabaya. PRI dengan cepat berkembang dengan dibentuknya PRI lokal di kampung-kampung. Kemudian diresmikan pula enam cabang, masing-masing: Cabang Kampement (Jalan Sunan Giri), Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin dan Darmo. Dari enam cabang itu, kemudian diubah menjadi tiga pusat, yakni: PRI Utara, PRI Tengah dan PRI Selatan.
PRI Surabaya di waktu itu merupakan laskar yang kuat dan popular. Kekuatannya, hampir sama dengan kekuatan TKR di Surabaya. Kegiatan menonjol yang menjadi cacatan sejarah yang dilakukan PRI, antara lain: terlibat langsung dalam peristiwas pembunuhan yang terjadi di kamp tawanan Jepang di Jalan Bubutan (Koblen). Selain itu juga ikut terlibat dalam peristiwa penggeledahan kantor RAPWI (Recovery of Allied Prisoners and War Internees) di Hotel Yamato, kantor NICA (Nedherlands Indies Civil Administration), serta beberapa rumah milik orang-orang Eropa di Surabaya.
Dari penggeledahan yang dilaksanakan 11 Oktober 1945 itu, ditemukan banyak bukti yang berhubungan dengan rencana penyerangan pihak Sekutu ke Indonesia. Saat penggeledahan itu juga dilakukan penyitaan terhadap alat komunikasi, perta dan dokumen yang merupakan kerja intelejen dan mata-mata. Dari temuan itu, tekad bulat pemuda untuk mempermalukan kedatangan armada Sekutu yang bekal mendarat di Tanjung Perak Surabaya, sudah semakin bulat. Bahkan di dalam kota, kegiatan pemboikotan pasokan makanan untuk orang Eropa, khususnya Belanda Indo.
Tanggal 12 Oktober 1945, merupakan hari bersejarah bagi Bung Tomo (Sutomo) dan kawan-kawannya. Pada hari itu, bertempat di rumah Jalan Biliton No.7 disepakati lahirnya sebuah organisasi bersenjata bernama “Pimpinan Pemberontakan Rakyat Surabaya” (PPRS). Para pelopor pemberontakan harus berani bertanggungjawab sepenuhnya seandainya digempur dan dikalahkan oleh Inggris dan sekutunya. Para pelaku pertemuan itu, dalam buku Laporan Survey Sejarah Kepahlawanan Kota Surabaya, adalah: Sutomo (Bung Tomo), Soemarno, Asmanu, Abdullah, Atmadji, Sudjarwo, Suluh Hangsono dan beberapa pemuda lainnya.
Bung Tomo mengatakan, PPRS yang kemudian diubah menjadi BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia), adalah organisasi pemuda yang sedikit teratur dan mengambil bagian terpenting dalam peran Surabaya. Organisasi ini tidak mempunyai afiliasi politik yang resmi, tetapi memiliki beberapa stasiun radio dan mengemudikan beberapa stasiun radio.
Setelah BPRI terbentuk, kegiatan pemuda bersenjata semakin teratur dan terkendali. Kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya mulai terbangun. Masing-masing kelompok membagi dan menentukan wailayah operasinya.
Tidak hanya di darat, kekuatan pemuda mulai bersatu. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, para pemuda Indonesia yang berada di kapal, juga melakukan kegiatan. Operasi laut pertama kali dilakukan ke Pulau Nyamukan (Djamuan Riff) yang terletak beberapa mil dari dermaga Ujung, Surabaya. Dari operasi tanggal 14 Oktober 1945 di laut itu berhasil diperoleh surat perintah menyerah dari Kaigun Saiko Sjikikan (Komandan Tertinggi Angkatan Laut Jepang di Surabaya), Laksamana Sjibata.
Unsur laut yang terlibat dalam operasi itu antara lain: TKR Laut, MKR dan PHL. Dengan menggunakan kapal perang tipe pemburu kapal selam (Submerine Chaser) S-115 yang diambilalih dari tangan Kaigun Jepang, 7 Oktober 1945. Sebagai komandan kapal diangkat Dento dengan kepala kamar mesin, Kunto serta kepala persenjataan, Gimo. Sebagi pimpinan operasi bertindak Atmadji yang juga pimpinan MKR Surabaya. Dalam operasi itu ikut ula Moch.Afandi, ketua umum PAL (Penataran Angkatan Laut) Gunadi dan beberapa pimpinan TKR Laut.
Dalam operasi laut itu, kapal S-115 yeng menggunakan bendera Merah Putih itu, berhasil menggiring 34 buah barkas pendarat (Daihatsu) dari Pulau Nyamukan yang mengangkut 419 orang tentara laut Jepang. Operasi tanpa pertumpahan darah itu tiba di dermaga Ujung malam hari. Selain menawan ke 419 orang tentara laut Jepang itu, TKR Laut juga menyita 34 barkas pendarat, 217 senapan karabyn, 22 senapan mesin dan beberapa peti granat, serta amunisi.
Peristiwa yang merupakan prestasi besar ini tersebar dengan cepat, berkat siaran radio BPRI dan siaran radio Surabaya yang disampaikan dalam amanat Drg.Moestopo.
Menjelang kedatangan pasukan Inggris dengan bendera Sekutu itu, terjadi berbagai ekses. Setiap warga Belanda dan Indo laki-laki dan remaja usia di atas 16 tahun ditangkapi oleh anggota PRI. Mereka dijemput di asrama dan rumah-rumah dengan menggunakan truk. Dari pagi hingga petang pada tanggal 15 Oktober 1945, sebanyak 3.500 orang dimasukkan ke penjara Kalisosok Surabaya.
Gerakan pemuda di Surabaya semakin panas, apalagi dengan terjadinya pertempuran antara pihak Indonesia dengan pihak militer Jepang di Semarang. Peristiwa lima hari 15 sampai 20 Oktober di Jawa Tengah itu membuat se bagian pemuda Surabaya yang “dendam” terhadap perlakuan Jepang sebelumnya berupaya melakukan tindakan balasan. Spanduk dan selebaran yang berasal dari Semarang membuat darah Arek Suroboyo mendidih. Isinya: “Singkirkan Jepang, sebelum mereka membantai kita di Surabaya!”.
Hampir tiap hari di depan penjara Koblen tempat serdadu Jepang ditahan, selalu ramai oleh kerumunan anak muda. Mereka berteriak-teriak agar orang-orang Jepang yang ada di dalam penjara dikeluarkan. Beberapa di antara orang Jepang yang berhasil dikeluarga langsung dieksekusi mati. Para pemimpin pemuda pergerakan bersama TKR dan KNIP berusaha mencegah tindakan main hakim sendiri.
Suasana kemudian beralih kepada makin dekatnya jadwal pendaratan tentara Sekutu di Surabaya. Akhirnya, tanggal 25 Oktober 1945, tentara Sekutu yang didominasi tentara Inggris mendarat di Tanjung Perak dengan kekuatan satu brigade. Pasukan yang berjumlah 6.000 orang ini terdiri dari Brigade Infantri 49 dari divisi India ke-23 , di bawah komando Brigadir Jenderal Mallaby.
Armada kapal yang merapat di dermaga itu itu terdiri dari kapal transport bernama: “Wavenley”, “Mlaika”, “Assidios”, “Floristan” dan beberapa kapal lagi yang dilindungi oleh kapal perang Inggris.
