Mama,
Ade Mau Pakai Jilbab
Aku tersenyum sendiri melihat bayangan diriku didepan
cermin. Subhanallah, cantiknya aku dibalut jilbab panjang berwarna hijau
lengkap dengan busana senada. Ku perhatikan setiap lekuk dan lipatan dari
jilbab yang ku kenakan, aku tersenyum sendiri dan mulai tenggelam mengenang
masalalu. Tenggelam bersama cerita aku dan jilbab pertamaku dahulu.
Saat itu aku baru menjadi siswi Sekolah Menengah Atas.
Dan saat itu aku tahu, aku sedang ditengah ambang kehancuran. Saat itu aku
memiliki seorang pacar yang lima tahun jauh lebih tua dariku. Lima bulan sudah
aku menjalani sebuah hubungan dengannya, aku mempercayainya dengan luar biasa,
aku mulai mengenal keluarganya dan begitupun dia sebaliknya. Kami menganggap
apa yang kami jalani ini benar adanya, ya
layaknya kaula muda pada umumnya. Aku mempercayai laki-laki itu sepenuh
hati dan kini aku tahu itu sebuah kesalahan besar yang aku lakukan.
Ku pandangi kembali jilbab hijau yang tergantung manis
menutupi kepalaku sampai ka dadaku. Ku perhatikan sosok perempuan yang ada di
cermin dan aku tersenyum manis kepada cermin dihadapanku. Ya Allah, maka
nikmatmu yang manakah yang patut aku dustakan.
Aku mulai menerawang kembali ke masalalu. Saat itu yang
aku tahu hanya bagaimana rasa cintaku kepada laki-laki itu, dan ketika aku
semakin mencintainya dia meninggalkan aku. Dia pergi dan tak pernah berfikir
untuk kembali. Aku merasa bumi telah memuntahkan aku, aku merasa sangat
kehilangan. Bahkan, aku nyaris saja berfikir untuk mengakhiri hidupku saat itu.
Sungguh bodohnya aku.
Teman-teman silih berganti menghiburku. Tapi aku seperti
tak lagi hidup, aku hidup namun mati. Yang ada hanya rasa cintaku yang
meluap-luap kepada laki-laki itu. Berhari-hari ku hidup dalam tekanan masalalu.
Aku menahan tangis tiap kali ku ingat apa yang telah aku dan laki-laki itu
lakukan, kami berpelukan mesra, kami berpegangan tangan. Entah berapa banyak
dosa yang telah aku perbuat.
Seiring waktu berjalan, Anjar. Seorang sahabatku mulali
prihatin dengan keadaanku yang terus larut dalam kesedihan dan tak kunjung
membaik. Di suatu siang disekolah dia mengajakku shalat dzuhur saat itu aku
hanya mengangguk dalam diam. Ku temukan damai dihatiku ketika ku nikmati benar
saat air wudhu mulai membasahi lengan, wajah, dan kepalaku. Ku resapi benar
setiap takbir, setiap ruku’, dan setiapp sujudku. Diakhir shalat aku menangis
sejadi-jadinya, aku luapkan penyesalanku, aku ungkapkan semua dalam do’a
panjangku. Saat itu aku lihat Anjar turut menangis mendekapku dan mengelus
punggungku seakan dia tahu seberat apa masalah yang sedang aku pikul saat itu.
Aku tersenyum ceria kembali dan mulai menata hidup. Allah
s.w.t sayang denganku Ia ingatkan aku tentang bagaimana Islam mengajarkan
hubungan antara lawan jenis yang bukan mahromnya. Setiba dirumah ku peluk erat
ibunda, aku ciumi pipinya dan juga tangannya. Aku memohon ampunan dan belas
kasihannya. Mama tersenyum kepadaku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Aku
bertanya kepada nya, tentang Islam mengajarkan anak perempuan menjaga dirinya
dan menutupi kepala sampai dengan dadanya dengan jilbab. Mama mulai menjelaskan
dan aku pun dengan seksama mendengarkan. Setiba diakhir penjelasannya aku
menangis haru memeluk mama. Dan satu kalimat terakhir yang aku ucapkan
kepadanya saat itu, “ Mama, ade mau pakai
jilbab ma. Ade ingin menjaga kehormatan ade seperti mama menjaga ade”. Kulihat ada butiran bening dipelupuk mata mama
saat mendengar aku meminta. Mama mengangguk dan memelukku erat.
Aku tersenyum mengingat masalaluku. Aku ingat salah
seorang sahabat berkata kepadaku bahwa “Hijab
itu kewajiban, bukan pilihan kita sebagai seorang muslim” dan aku tahu rabb-ku telah merencanakan hal yang
indah untukku dan akhwat yang lainnya sebagai reward ketangguhan iman seorang
muslim yang menjaga kehormatannya. Dan aku tersenyum kembali kepada cermin
dihadapanku, aku berbisik padanya “Islam
itu indah”.
Bekasi, 14 Agustus 2012
Namaku Trieas Maya Ade Putri, siswi kelas 3 disebuah
SMK Negeri diJakarta. Aku tinggal di Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat.
Sudah lama aku suka menulis namun mungkin baru bisa sekarang aku merealisasikan
keinginanku untuk serius menulis. Tulisan ini aku persembahkan untuk mama,
Ranna Nur Raffa dan Lia Aulia yang setia selalu mendukungku, dan setia dengan
supportnya serta keikhlasannya menemani proses menulis cerpen ini. Kritik dan
saran bisa kalian berikan melalui Emailku: trieasmayaadeputri@yahoo.com
atau melalui jaringan social facebook: Trieas Maya Ade Putri.
No comments:
Post a Comment