Sunday, 16 December 2012

Mama, Ade Mau Pakai Jilbab



Mama, Ade Mau Pakai Jilbab
            Aku tersenyum sendiri melihat bayangan diriku didepan cermin. Subhanallah, cantiknya aku dibalut jilbab panjang berwarna hijau lengkap dengan busana senada. Ku perhatikan setiap lekuk dan lipatan dari jilbab yang ku kenakan, aku tersenyum sendiri dan mulai tenggelam mengenang masalalu. Tenggelam bersama cerita aku dan jilbab pertamaku dahulu.
            Saat itu aku baru menjadi siswi Sekolah Menengah Atas. Dan saat itu aku tahu, aku sedang ditengah ambang kehancuran. Saat itu aku memiliki seorang pacar yang lima tahun jauh lebih tua dariku. Lima bulan sudah aku menjalani sebuah hubungan dengannya, aku mempercayainya dengan luar biasa, aku mulai mengenal keluarganya dan begitupun dia sebaliknya. Kami menganggap apa yang kami jalani ini benar adanya, ya layaknya kaula muda pada umumnya. Aku mempercayai laki-laki itu sepenuh hati dan kini aku tahu itu sebuah kesalahan besar yang aku lakukan.
            Ku pandangi kembali jilbab hijau yang tergantung manis menutupi kepalaku sampai ka dadaku. Ku perhatikan sosok perempuan yang ada di cermin dan aku tersenyum manis kepada cermin dihadapanku. Ya Allah, maka nikmatmu yang manakah yang patut aku dustakan.
            Aku mulai menerawang kembali ke masalalu. Saat itu yang aku tahu hanya bagaimana rasa cintaku kepada laki-laki itu, dan ketika aku semakin mencintainya dia meninggalkan aku. Dia pergi dan tak pernah berfikir untuk kembali. Aku merasa bumi telah memuntahkan aku, aku merasa sangat kehilangan. Bahkan, aku nyaris saja berfikir untuk mengakhiri hidupku saat itu. Sungguh bodohnya aku.
            Teman-teman silih berganti menghiburku. Tapi aku seperti tak lagi hidup, aku hidup namun mati. Yang ada hanya rasa cintaku yang meluap-luap kepada laki-laki itu. Berhari-hari ku hidup dalam tekanan masalalu. Aku menahan tangis tiap kali ku ingat apa yang telah aku dan laki-laki itu lakukan, kami berpelukan mesra, kami berpegangan tangan. Entah berapa banyak dosa yang telah aku perbuat.
            Seiring waktu berjalan, Anjar. Seorang sahabatku mulali prihatin dengan keadaanku yang terus larut dalam kesedihan dan tak kunjung membaik. Di suatu siang disekolah dia mengajakku shalat dzuhur saat itu aku hanya mengangguk dalam diam. Ku temukan damai dihatiku ketika ku nikmati benar saat air wudhu mulai membasahi lengan, wajah, dan kepalaku. Ku resapi benar setiap takbir, setiap ruku’, dan setiapp sujudku. Diakhir shalat aku menangis sejadi-jadinya, aku luapkan penyesalanku, aku ungkapkan semua dalam do’a panjangku. Saat itu aku lihat Anjar turut menangis mendekapku dan mengelus punggungku seakan dia tahu seberat apa masalah yang sedang aku pikul saat itu.
            Aku tersenyum ceria kembali dan mulai menata hidup. Allah s.w.t sayang denganku Ia ingatkan aku tentang bagaimana Islam mengajarkan hubungan antara lawan jenis yang bukan mahromnya. Setiba dirumah ku peluk erat ibunda, aku ciumi pipinya dan juga tangannya. Aku memohon ampunan dan belas kasihannya. Mama tersenyum kepadaku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Aku bertanya kepada nya, tentang Islam mengajarkan anak perempuan menjaga dirinya dan menutupi kepala sampai dengan dadanya dengan jilbab. Mama mulai menjelaskan dan aku pun dengan seksama mendengarkan. Setiba diakhir penjelasannya aku menangis haru memeluk mama. Dan satu kalimat terakhir yang aku ucapkan kepadanya saat itu, “ Mama, ade mau pakai jilbab ma. Ade ingin menjaga kehormatan ade seperti mama menjaga ade”.  Kulihat ada butiran bening dipelupuk mata mama saat mendengar aku meminta. Mama mengangguk dan memelukku erat.
            Aku tersenyum mengingat masalaluku. Aku ingat salah seorang sahabat berkata kepadaku bahwa “Hijab itu kewajiban, bukan pilihan kita sebagai seorang muslim” dan aku tahu rabb-ku telah merencanakan hal yang indah untukku dan akhwat yang lainnya sebagai reward ketangguhan iman seorang muslim yang menjaga kehormatannya. Dan aku tersenyum kembali kepada cermin dihadapanku, aku berbisik padanya “Islam itu indah”.

Bekasi, 14 Agustus 2012



Namaku Trieas Maya Ade Putri, siswi kelas 3 disebuah SMK Negeri diJakarta. Aku tinggal di Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat. Sudah lama aku suka menulis namun mungkin baru bisa sekarang aku merealisasikan keinginanku untuk serius menulis. Tulisan ini aku persembahkan untuk mama, Ranna Nur Raffa dan Lia Aulia yang setia selalu mendukungku, dan setia dengan supportnya serta keikhlasannya menemani proses menulis cerpen ini. Kritik dan saran bisa kalian berikan melalui Emailku: trieasmayaadeputri@yahoo.com atau melalui jaringan social facebook: Trieas Maya Ade Putri.
 



No comments:

Post a Comment